
...Note:...
...Maaf kalo ada typo atau kurang rapih penulisannya. Soalnya aku update tengah malam tapi mataku udah ngantuk....
...hehe.....
...enjoyed!...
.......
.......
.......
Nathan
"Apa mungkin, lo punya perasaan khusus sama Lyana?"
Seketika suasana berubah canggung setelah Ken melontarkan pertanyaan yang diluar ekspektasiku.
Meski Ken tampak biasa saja memandangiku, beberapa detik napasku tercekat.
Aku seperti seorang tersangka kelas kakap yang sedang disidak penegak hukum. Pertanyaan yang seharusnya mudah kujawab, justru aku membisu karena lidahku mendadak kaku.
Tatapan Ken yang begitu lurus menatap tepat di kedua mataku seolah ia menuntut jawabanku. Hingga membuatku merasa sedikit tertekan.
Cukup lama kami terdiam dan saling melempar pandangan satu sama lain. Ditambah suasana begitu sunyi, hingga aku bisa mendengar secara jelas hentakan jarum jam yang menempel di ruang tengah, serta hawa dingin malam yang semakin lama mengusikku.
"Kenapa--lo menanyakan itu?"
Akhirnya suaraku keluar dari kerongkonganku, tapi ucapanku membuat alis Ken terangkat. Tampak heran mendengarku yang memberikan pertanyaan balik. Bukan jawaban yang ingin Ken dengar.
"Gue hanya memastikan saja. Habis, tatapan lo ke Lyana beda gitu soalnya." Lalu Ken mengendikan bahu, masih bertahan memasang wajah santainya saat menatapku.
Namun hal itu membuatku agak sulit menelan saliva.
"Tapi sepertinya gue salah paham. Maaf gue nanya kayak gitu ke lo, Nat."
Ken tersenyum lalu menepuk bahuku. Seketika suasana tak lagi canggung.
Canggung? Sepertinya hanya aku sendiri yang mengalami itu. Berbanding terbalik dengan Ken. Pria yang sudah menjadi sahabatku sejak lama bertolak pinggang sambil menyengir jenaka, menunjukan deretan giginya yang terlihat rapih.
"It's fine, dude." Aku mendengus sambil menaikan sudut bibirku.
"Kenapa juga ya gue bisa berpikir kayak gitu ke lo padahal jelas-jelas lo sama Lyana saudara?"
Saudara.
Iya. Ken benar. Aku dan Lyana memang saudara.
Lyana adalah keponakanku, dan aku adalah Omnya.
Akan tetapi pernyataan itu mulai mengusikku.
"Lupakan semua omongan ngawur gue barusan! Ini mulut emang minta disentil. Suka asal ngomong."
Pria di hadapanku ini menarik tangannya untuk menyentil bibirnya sambil menggeleng pelan atas ulahnya. Kembali ia meyakinkanku agar aku tak perlu menggubrisnya dan kembali ia mengucapkan permohonan maaf.
Tak lama lampu menyala menderang seisi rumahku. Rupanya pemadaman berakhir lebih cepat. Aku langsung bergegas merapihkan ruang tengah yang terlihat agak berantakan.
Mula-mula aku memungut batangan lilin di atas meja dan kuletakan di tempat semula. Sementara Ken merapihkan sofa serta bantal-bantalnya ke posisi mereka diawal dan meletakan lampu elektrik di samping meja.
Setelah aku melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan melewati dini hari, aku langsung menawarkan Ken untuk tinggal sebagai bentuk rasa terima kasihku dan Ken langsung menerimanya.
...-o-...
Getaran ponselku di tempat tidur memaksaku untuk membuka mata. Sebelum aku beranjak, aku menggeledah tempat tidur dan mencari sumber perusak tidurku itu.
Aku langsung bergerak bangun ketika aku mendapati layar ponselku yang menunjukan pukul 10. Sial! Aku terlambat pergi bekerja.
Setelah mengusap wajahku untuk mengusir rasa kantuk sesaat, aku kembali memandangi layar ponsel, membuka aplikasi chat dan langsung mengetik untuk memberikan pesan kepada admin kantorku jika aku datang terlambat.
Tak sempat lagi aku membenahi tempat tidur, aku bergegas meraih handuk dan langsung menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri aku buru-buru memakai pakaian kantor ku; kemeja merah gelap, celana hitam membungkus kedua kakiku, lalu segera melilitkan dasi bercorak garis garis dan tak lupa memasang jam tangan di pergelanganku.
Sambil menuruni deretan anak tangga, aku menampaki Lyana yang sudah sibuk di dapur. Kedua tangannya bergerak membolak-balikan masakan di atas teflon. Aroma nasi goreng langsung melesak masuk ke indera penciumanku, membangunkan cacing-cacing di dalam perutku.
Lalu pandanganku beralih melihat Ken yang masih tidur di ruang tengah. Tampaknya ia masih lelah, jadi aku membiarkannya saja seperti itu dan melesat ke dapur.
"Hai, Om Nathan!"
Seperti biasa. Gadis kecilku menyapaku dengan seulas senyuman hangat yang menghiasi wajah cantiknya. Begitu terperangah aku memandangi Lyana, satu tanganku terulur menarik pinggang kecil itu, memeluknya sebentar dan menghadiahinya kecupan singkat di atas kening yang tertimbun helaian rambut hitam.
Perbuatanku barusan membuat gadis kecilku tertegun atas ulahku. Begitu pula denganku setelah aku menyadari perbuatanku.
Aku merutuki diriku dalam hati.
Sebelum aku berhasil menjelasan alasanku yang kupikir membuatnya tak nyaman, Lyana kembali menyunggingkan senyumannya. Seakan ia tak keberatan atas perbuatanku.
"Om makan dulu kan sebelum pergi? Lyana sudah buatkan nasi goreng dengan topping sosis dan bakso."
Aku mengangguk setelah Lyana menjelaskan masakannya pagi ini.
"Apa Lyana perlu membangunkan Om Ken? Tadi Lyana sempat kaget melihat Om Ken tertidur di sofa. Tapi Lyana nggak enak bangunin Om Ken. Kayaknya Om Ken nyenyak banget tidurnya."
Gadis kecilku mengalihkan pandangannya ke arah Ken yang masih tertidur di sana. Aku menggeleng pelan.
"Iya, tidak usah dibangunkan dulu. Om Ken masih lelah. Biarkan saja."
Gadis kecilku langsung mengangguk dan kembali sibuk memyiapkan makanan. Sementara itu, aku menuju lemari piring untuk membantu Lyana memindahkan piring yang sudah terisi nasi goreng di setiap piring lalu kubawa ke meja makan.
Teh hangat di dalam teko juga sudah Lyana siapkan di atas meja makan. Setelah Lyana menyusulku di meja makan, gadis itu langsung membalikan cangkir di samping piringku lalu menuangkan teh hangat dengan hati-hati.
Kami mulai menikmati late-breakfast dengan sukacita. Seperti biasa, Lyana membuka obrolan disela kegiatan makan kami.
Saat ini Lyana sedang menceritakan tentang kejadian pemadaman lampu semalam.
Aku hanya bisa menanggapi pembicaraan dengan kepala memanggut. Sesekali aku menghembuskan napas berat dengan tatapan sendu saat Lyana menceritakan kekalutannya saat ia sedang melawan rasa takutnya semalam.
Aku merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya.
Satu tanganku yang sudah terbebas dari peralatan makan bergerak menarik satu tangan Lyana di atas meja. Menguatkan genggamanku sembari ibu jariku mengelus punggung tangannya dengan lembut.
"Maafin Om. Om nggak berniat pulang terlambat semalam." Begitu tulus aku memohon maaf pada Lyana, membayangkan kembali bagaimana Lyana yang ketakutan sendirian membuat rasa bersalahku semakin menumpuk.
Lyana membalas genggamanku, dan kembali tersenyum. "Nggak apa-apa kok Om. Lyana ngerti. Semalam Om Ken sudah bilang sama Lyana kalau Om memang harus menyelesaikan pekerjaan Om dulu."
Walau aku masih merasa tak enak hati, melihat senyuman Lyana yang terus terbit cukup membuatku merasa lega.
Sepertinya aku harus kasih sesuatu untuk Ken sebagai tanda terima kasihku. Rasanya say thanks saja belum cukup.
Sejenak aku melirik ke arah Ken yang masih tertidur dalam posisi tengkurap.
"Om Ken adalah orang yang baik ya Om."
Sontak kepalaku menoleh menatap Lyana.
"Om Ken memang baik." Jawabku singkat. Lalu aku meneguk air sampai habis, mendadak tenggorokanku terasa kering.
"Apa Om Ken beneran nggak punya pacar, Om?"
Sebelah alisku terangkat.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Semalam kami saling curhat Om. Kata Om Ken, Om Ken belum menemukan wanita yang tepat. Kalau yang Lyana dengar dari cerita Om Ken, banyak wanita yang mendekati Om Ken tapi habis itu pergi ninggalin Om Ken begitu saja tanpa kabar,"
"Lyana jadi kasihan sama Om Ken. Padahal Om Ken sangat baik, perhatian, lucu, dan Om Ken sangat tampan. Kok bisa ya wanita itu tega ninggalin Om Ken?" Wajah gadis kecil itu memperhatikan Ken lagi di sana, tanpa ia tahu aku menyunggingkan senyuman sinis mendengar cerita Lyana.
Sialan tuh kecebong. Berani-beraninya ia membohongi gadis kecilku.
Ya, walau ada sebagian wanita yang dekat dengan Ken memang hanya bertujuan untuk memeras harta Ken saja.
Akan tetapi, walau Ken menemukan wanita yamg memang tulus menaruh hati padanya, Ken sendirilah yang akan mundur dan meninggalkan wanita itu tanpa alasan yang jelas.
Seolah-olah mereka tidak pernah saling mengenal.
Mengetahuinya seperti itu, aku hanya bisa menghela napas pelan. Karena aku masih belum paham akan sosok Ken, terkadang aku suka mempertanyakan pada diriku sendiri apa arti label persahabatan antara aku dan Ken.
Ken layaknya ribuan kepingan puzzle yang harus kususun sedemikian rupa supaya kepingan tersebut saling menyatu satu sama lain.
Tapi sampai saat ini aku baru menyelesaikan setengah kepingan puzzle. Sisanya aku masih membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk menyusun dan menyatukan kepingan lainnya.
Aku kembali memperhatikan Ken yang belum kunjung terbangun. Kini aku mendapati Ken yang tertidur telentang dengan kedua kaki yang melebar sembarangan. Satu kakinya bergelantungan di senderan sofa dan satu lainnya terjatuh menapaki lantai.
Sejenak aku mendengar Ken menggertakan giginya. Lalu mendengkur.
"Suatu saat nanti Ken akan bertemu dengan wanita yang tepat." Gumamku tulus. Aku sungguh berharap ada seorang wanita yang berhasil membuka hatinya dan saling melengkapi satu sama lain.
"Iya. Lyana juga berharap Om Nathan akan bertemu dengan wanita yang tepat."
Aku sontak menoleh. Menatap Lyana yang kembali tersenyum padaku sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
Seseorang yang tepat?
Aku tidak tahu apakah aku akan menemukan wanita yang benar-benar tepat untukku.
Setelah harapanku hancur oleh satu wanita yang dulu sangat kuharapkan.
Dengan mudah ia remukan harapanku tanpa alasan yang jelas, sehingga aku merasa sulit untuk menemukan getaran di hatiku lagi sampai saat ini.
Atau mungkin hatiku sudah mati rasa.
Terlalu lama aku mendalami perasaanku, aku tertegun akan pelukan hangat yang tiba-tiba Lyana berikan padaku.
Kedua tangannya ia lilit di leherku sembari ia berbisik lembut tepat di telingaku, yang membuat hatiku langsung merasa teduh.
"Aku mendoakan Om Ken dan Om Nathan menemukan wanita itu. Kalian harus bahagia,"
Tatapan kami bertemu disaat aku menunduk dan Lyana mendongak.
Kami terdiam seribu bahasa.
Detik demi detik.
Begitu dalam dan lekat kami saling menatap cukup lama, seakan kami sama-sama saling menyelami satu sama lain.
Hingga sebuah gejolak aneh muncul kembali. Gejolak yang pernah kutepis ketika aku tengah berduaan seperti ini dengan Lyana.
Lagi dan lagi gejolak itu sedang mencoba mendobrak akal sehatku.
Aku harus menahannya lagi.
Akan tetapi, gejolak tersebut seakan memiliki kekuatan besar.
Tanpa kusadari gejolak tersebut berhasil masuk dan menjalar ke seluruh tubuhku.
Kini gejolak itu memacu detak jantungku.
Lalu menjalar naik dan membekukan pikiranku.
Lalu muncul sebuah hasrat yang sudah lama tak lagi kurasakan.
Hasrat yang dulu pernah membuatku buta dan kehilangan akal.
Hasrat yang memicu sebuah getaran yang dulu pernah memenuhi hatiku.
"Lyana sayang sama Om Nathan,"
Aku tertegun sesaat.
Kalimat itu, seharusnya Lyana tidak mengatakan kalimat itu saat ini.
"Sayang banget."
Sebab kalimat itu berubah menjadi sebuah lilitan perisai ampuh yang kini berhasil membalut relung hatiku sepenuhnya.
...-o-...