Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 37



kaget gak ada notif ini? Wkwk


Aku akan lanjutin cerita ini sampai tamat. Hehe..


klo ada yg lupa sama jln ceritanya, boleh dibaca lg dr awal..


maaf ya atas kelabilanku, makasih! :D


...-o-  ...


"Ayo, sini adikku. Kita duduk santai dulu. Jangan sungkan."


El mendudukan dirinya di sebuah sofa dengan satu tangannya memainkan remot tv. Mengganti siaran pertandingan sepak bola yang tak menarik minatku. Satu tangannya lagi melambaikan tangan, memintaku untuk segera mendekat padanya.


Jujur, aku lebih minat dengan apa yang akan dia lakukan padaku. Atau pembicaraan apa yang akan kami bahas.


Cerita Milly saat di meja makan berputar-putar di kepalaku.


Apakah El akan mencabik-cabik wajahku?


"Yah! Bodoh banget sih! Pemain nomor 11 gimana sih? Nggak bisa main kayaknya."


Aku hanya duduk terdiam ketika El sibuk beradu komentar tentang jalannya pertandingan. Meski aku seorang pria, tapi aku nggak begitu tertarik dengan dunia sepak bola. Tapi aku masih paham akan peraturan di pertandingan sepak bola. Aku akan lebih memilih olahraga lain seperti basket, voli, bulu tangkis dan renang.


Kini El berkomentar tentang pemain berseragam merah dengan nomor punggung 25. Pemain itu menarik kaos lawan berpunggung 10 dan terlihat oleh wasit.


"Tumben lo ke sini,"


Aku menoleh menatap El.


"Biasanya kalau lo mau ke sini harus gue dulu yang suruh."


Pembicaraan ini yang aku tunggu tunggu sedari tadi. Tapi rasanya jantungku mau meledak saat ini juga.


"Salah kalau gue datang?"


"Nggak salah sih," El meraih minuman kaleng yang tersedia di atas meja. Membukanya lalu meminumnya.


"Tumben aja."


Kami terdiam. Larut menonton tv. El yang terus berkomentar membuat tenggorkanku kering. Satu tanganku meraih kaleng soda, membukanya lalu kuminum.


"Apa jangan jangan lo ke sini mau ngomong kalau lo udah punya pacar?"


Seketika air soda muncrat dari mulutku. Mulutku mendadak perih.  


"Ya! Celana gue kena muncrat lo!" Sembur El sambil menjauh dariku.


"Habis lo ngelantur ngomongnya." Balasku ketus.


"Ya kan gue cuma nanya. Lo nya aja yang berlebihan."


"Dari ribuan pertanyaan yang bisa lo tanya, kenapa harus nanya yang itu?"


El berdecak, "Kayaknya lo lagi sensi deh. Datang bulan lo?!"


Kesal. Aku meninggalkan El menuju dapur. Mencari air mineral yang kuharap dapat melegakan tenggorokanku.


"Jadi, lo ngapain ke sini?"


"Bisakah lo nggak ngagetin gue?" Semburku kaget melihat El sudah berdiri di belakangku.


"Kayaknya bener deh, lo lagi datang bulan. Galak banget. Kan gue cuma nanya."


Tapi pertanyaannya mancing emosiku. Kayak terlihat salah di matanya kalau aku datang ke sini tanpa ada alasan yang jelas. 


Ya sebenarnya sih aku datang memang karena Lyana.


Tapi kayaknya tuh aku datang tanpa ada alasan yang perlu dijelaskan dianggap aneh sama El. 


"Lo nggak suka gue di sini? Yaudah gue pulang!" 


"Eh nggak gitu maksud gue. Ngambek mulu lo kayak anak perempuan lagi datang bulan." El menahanku saat aku ingin pergi. 


"Ayolah adikku yang paling tampan se-Bekasi Raya. Bagaimana kalau kita minum di ruanganku?"


"Gue nggak mau." tolakku ketus.


"Kenapa nggak mau? Mumpung Milly lagi asik ngerumpi sama tetangga diluar."


"Gue nggak mau El. Lagian ini masih sore." tolakku lagi. 


"Yaudah nanti malam aja kita minum, deal?"


"Nggak ah!"


"Lah kenapa? Tumben banget lo nolak. Gue baru beli wine baru lho."


"Gue malas minum."


"Yaelah tinggal diteguk, nggak lo kunyah."


"Nggak El." Tolakku lagi untuk ke sekian kalinya.


"Kenapa sih?"


"Ingat El, kalau Milly tahu lo minum lagi habis lo."


"Paling gue dihukum nggak dapat jatah selama seminggu."


"Dihukum nggak dihukum kayaknya lo happy happy aja tuh."


"Iya dong. Bujuk Milly tuh gampang. Nggak sampai sehari ngambeknya. Tinggal gue rayu dikit, luluh."


"Pamer lo!"


El tertawa lagi. Kali ini sampai terbahak-bahak.


Aku mulai jengah mendengar El berkoar-koar. Jadi aku memilih pergi ke kamar dengan perasaan gondok.


...-o- ...


Suara jangkrik mulai terdengar. Bertanda hari mulai malam.


Makan malam baru saja usai. Perutku penuh berkat nasi goreng seafood buatan Milly yang terasa lezat.


Kalau makanan ala Indo, Milly cukup jago lah.


Beda kalau doi masak ala western.


"Om Nathan, habis ini Om mau ngapain?"


Sekilas aku melihat sekitar. Milly sibuk di dapur sedangkan El belum balik dari toilet. Aman buatku memgelus puncak kepalanya.


"Hmm.. mungkin Om mau nonton tv."


Lyana manggut-manggut.


"Kalau gitu, mau temenin Lyana nggak Om?"


Aku mengerjap pelan, "Temenin, emang kamu mau ke mana?"


"Mall."


Alisku terangkat, "Mau ngapain?"


"Lyana mau beli buku novel yang baru saja terbit di toko buku. Om mau kan nemenin Lyana?" Bujuk Lyana dan aku langsung mengiyakan.


"Om siap-siap dulu ya."


Lyana mengangguk lagi sebelum aku bergegas ke kamar.


Setelah berganti pakaian, aku dan Lyana melenggang pergi.


"Mau ke mana?"


El baru saja terlihat sambil mengelus perutnya. Sepertinya El baru saja nyetor.


"Lyana pergi sama Om Nathan ya Pah."


Pandangan El bergantian menatap Lyana dan aku.


"Kamu nggak mau ajak Papah aja? Papah nggak ngapa-ngapain di rumah." Rengek El tiba-tiba. Tidak peduli dengan tatapan geliku untuknya.


"Papah di rumah aja. Temenin Mamah." Ucap Lyana.


Sebelum El berkomentar panjang lebar, Lyana segera menarikku keluar.


...-o- ...


Malam ini adalah momen yang tepat untukku bersama Lyana. Aku baru ingat jika ini malam minggu. Malam yang dimana banyak pasangan menghabiskan waktu mereka.


Sambil bergandengan tangan, aku dan Lyana menyusuri di setiap rak tinggi yang dipenuhi tumpukan buku.


Melihat tumpukan buku yang masih tersegel ibarat surga untuk Lyana. Lyana memang suka baca buku berbau fiksi. Setelah melihat buku bergenre fantasi, Lyana menarikku ke rak yang bergenre horor.


"Menurut Om, Lyana beli buku yang mana dulu?" Lyana menunjukan tiga buku padaku; horor, fantasi dan roman. Aku langsung mengamati sampul buku tersebut.


"Beli semua aja." Saranku. Kalau dari sampul terlihat bagus. Kemungkinan besar isi ceritanya juga bagus.


"Uang Lyana nggak cukup buat beli semua Om."


"Aku yang bayarin semuanya." Aku langsung menarik buku-buku itu dan meletakannya ke dalam keranjang yang sedari tadi Lyana tenteng di satu tangannya.


"Jangan Om." Larang Lyana sambil ia keluarkan buku-buku itu dan ia letakan kembali ke rak.


"Lho kenapa?"


"Lyana nggak mau repotin Om Nathan." Jawabannya sungguh bukan jawaban yang tepat. Jadi aku mengambil buku-buku itu lagi dan kuletakan ke keranjang.


"Membeli buku itu sama sekali tidak merepotkanku. Mau kamu beli satu buku atau sampai satu rak, akan aku belikan untukmu. Sekalian aku beli setoko-tokonya."


"Lyana nggak sampai segitunya kok Om."


Lyana memanyunkan bibirnya. Gemas. Rasanya aku ingin mencapitnya dengan bibirku.


Tahan Nat, ini tempat umum.


Setelah kami berargumen, akhirnya Lyana menarikku ke kasir untuk membayar. Katanya biar aku nggak banyak oceh lagi..


"Wah Lyana, ini beneran kamu?"


Aku dan Lyana berbalik ke belakang. Melihat seorang perempuan yang tampak sebaya dengan Lyana memanggil Lyana.


Tapi, nada ucapannya seperti sedang mengolok-olok.


"Aku tahu Bekasi itu sempit, tapi kenapa kita harus bertemu di sini ya?"


Benar. Perempuan itu tampak sinis menatap Lyana dari ujung kepala sampai kaki. Aku yang hanya melihatnya saja merasa tersinggung.


Tak hanya Lyana, perempuan itu juga menatapku. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menatapku penuh arogan seakan dia sosok yang paling sempurna.


Aku tidak suka etika perempuan ini.


"Setahuku, dia bukan Ayahmu. Siapa dia?"


Dan sekarang dia melontarkan pertanyaan yang menyudutkan..


"Apa dia sugar daddy mu? Wah Lyana! Kamu diluar dari ekspektasiku! Nggak nyangka sih!"


Kurang ajar. Mulut perempuan itu sama sekali tidak bisa direm. Aku ingin sekali menarik bibirnya untuk bungkam.


Tapi berbeda dengan Lyana. Gadisku hanya terdiam menatap perempuan itu.


Namun aku bisa lihat bagaimana tatapan Lyana begitu menusuk menatapnya.


"Nggak nyangka aku mempergokimu sedang bersenang-senang di sini."


Sudah cukup. Perempuan ini sudah tidak bisa kuberi toleransi lagi.


"Kids, jaga--"


"Pergilah dan jangan mengusikku!" Lyana menahanku dan menyembur sinis kepada perempuan itu. Aku agak takjub, untuk pertama kalinya aku melihat Lyana yang lucu dan lembut berubah sinis dan lantang.


"Kamu mengusirku?" Tanya perempuan itu dengan nada menantang.


"Aku berhak mengusirmu karena kamu mengusikku lebih dulu. Pergilah atau aku panggil security buat usir kamu." Lyana mengendikan dagu. Mengarah ke seorang pria tua berseragam biru gelap berlalu lalang di area Mall.


Perempuan itu terlihat mulai jengkel. Lalu langsung pergi tanpa mengucapkan apapun pada kami.


Bahkan tidak ada kalimat permintaan maaf darinya.


"Maaf ya Om. Yuk kita pulang."


Aku ingin sekali menahan Lyana. Menuntutnya untuk memberikan penjelasan padaku siapa perempuan itu. Kenapa perempuan itu bisa berkata kasar padanya, bahkan dia berani padaku padahal kami tidak saling mengenal.


Tapi kuurungkan bulat-bulat. Melihat Lyana tidak mengatakan apapun padaku sampai kami kembali tiba di rumah sudah menjadi jawaban.


Ah--momen malam minggu kami jadi rusak gara-gara perempuan itu.


...-o-...