Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 14



Nathan


Aku merebahkan badanku di tempat tidur setelah cukup lama aku berlama-lama di kamar mandi dan berganti pakaian. 


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Aku hanya sibuk menatap langit-langit kamarku tanpa berminat menggerakan badan sedikitpun.


Samar-samar aku mendengar deru mobil yang berhenti di depan Rumahku. Aku yakin pasti itu Ken dan Lyana yang baru tiba. 


Aku masih belum mau beranjak menyambut mereka, pikiranku kembali berkelana saat aku diam-diam mengintai mereka berdua dan pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang lebih awal. 


Disana aku hanya duduk sambil memperhatikan mereka sedang makan sambil bercengkrama, mendadak napsu makanku hilang begitu saja, jadi aku meminta Pelayan membungkuskan makananku kemudian aku pulang ke Rumah. 


Tibanya di Rumah aku bergegas ke kamar, segera ambil handuk kemudian aku mandi lalu aku berakhir di tempat tidur sambil mendengar pintu Rumah sedang terbuka. 


Aku memang membiarkan Ken mendaftarkan sidik jarinya di smart keylock. Kalau Ken datang aku suka malas membuka pintu atau aku dalam keadaan sibuk menyelesaikan pekerjaanku di kamar sehingga Ken mendaftarkan sidik jarinya.


Aku mulai beranjak ketika aku mendengar suara Lyana yang meminta Ken untuk masuk. Tapi Ken menolak dan memilih pamit pulang. Aku keluar menuruni anak tangga, dan aku disambut sapa ceria Lyana sambil ia menunjukan sebuah plastik berlabel nama Resto yang mereka singgahi tadi.


Aku juga menatap pakaian Lyana yang tertutup jaket milik Ken. Aku tahu itu milik Ken karena jaket itu salah satu benda kesayangan Ken.


"Om, Lyana bawain makanan buat Om."


Lyana berlari mendekatiku lalu menyerahkan plastik itu. Aku meraihnya tanpa minat lalu kubawa ke Dapur dan meletakannya begitu saja.


Napsu makanku masih hilang entah kemana.


"Om kenapa? Sakit?" Rupanya Lyana mengikuti dari belakang sambil kepalanya dimiringkan agar ia bisa melihatku dengan jelas. Lyana tampak cemas melihatku yang sedari tadi hanya diam tanpa melirik kearahnya sedikitpun.


"Oh, Om Nathan beli makanan di Resto itu juga? Tadi Lyana sama Om Ken makan disana Om." Ia menunjuk kantong plastik punyaku dimana aku juga menaruhnya asal di Dapur dengan kedua matanya yang melebar. 


"Om tadi kesana? Kok Lyana nggak ketemu Om? Kok Om nggak bilang sama Lyana kalau Om kesana? Tahu gitu tadi Lyana ajaak Om makan bareng sama Om Ken. Kita makan sama-sama disana." Ucapnya panjang sambil kembali mengikutiku hingga kami sama-sama duduk di sofa panjang depan tv. 


"Om delivery tadi." jawabku sekenanya dengan satu tanganku memencet tombol remot. Tak henti jemariku memencet tombol untuk berganti siaran. Dan akhirnya aku memilih sebuah acara talkshow jenaka namun tak mampu memicu gelakku untuk tertawa. 


"Tadi Lyana dan Om Ken cerita banyak selama kami makan disana Om. Ternyata Om Ken lucu ya Om. Baik banget lagi. Tadi Lyana kedinginan dipinjami jaket sama Om Ken,"


"Om Ken juga sangat manis. Lyana senang bisa kenalan sama Om Ken."


Aku masih terdiam menatap tv dan menghembuskan napas. Aku sudah terbiasa mendengar penilaian manis tentang Ken. 


Hampir semua teman wanita yang kukenal akan memuji sikap manis Ken setelah aku memperkenalkan mereka.


Tapi mendengar penilaian Lyana secara langsung, melalui sudut mataku, wajah Lyana tampak berseri sembari ia menatap langit-langit, mengingat-ngingat bagaimana sosok Ken saat mereka makan bersama tadi di depanku.


Melihatnya begitu semangat menggambarkan sosok Ken, seperti ada sekelebat emosi yang menggerayangi dadaku. 


"Om," 


Lyana menggoyangkan lenganku dan aku seketika mengerjap. Tak sadar rupanya aku melamun.


"Om kenapa, tiba-tiba diam gini nggak menggubris Lyana. Apa Lyana ada salah sama Om?"


Tidak. Tidak ada sedikitpun Lyanaa melakukan kesalahan hari ini.


Mungkin saja aku yang salah. Sedari tadi aku hanya sibuk menahan emosiku yang tak masuk akal. Aku sendiripun bingung kenapa aku harus cemberut melihat Lyana dan Ken pergi.


Iri? Nggak, nggak mungkin.


Untuk apa juga aku iri?


Asik bergumul dengan pikiranku, Lyana meninggalkanku sendirian dan ia melesat masuk kedalam kamar.


Apa Lyana marah sama aku karena aku mendadak cuekin Lyana?


Aku menggaruk kepalaku asal. Duh, kenapa aku jadi aneh begini?


Sekali lagi aku mengingat-ngingat kejadian tadi siang saat Ken meminta ijin padaku untuk mengajak Lyana makan malam bersama. Lalu aku kelimpungan sendiri tanpa alasan jelas dan aku nekat mengintai mereka di Resto. Pulang-pulang aku badmood dan tiba-tiba aku cuekin Lyana padahal Lyana memberi perhatian padaku hingga ia sempat cemas aku sakit.


Aku mengusap wajahku putus asa lalu bangkit menuju kamar Lyana.


Aku harus meluruskan sesuatu. Meski aku nggak tahu apa yang ingin kukatakan.


Pintu kokoh itu kuketuk beberapa kali. Aku tak mendengar sapaan Lyana atau hentakan tuas pintu yang hendak terbuka. Sekali lagi aku mencoba mengetuk pintu, tapi Lyana tak kunjung membukakannya.


Jadi aku mencoba membuka pintu. Beruntung pintu nggak terkunci dan perlahan aku mencoba mengintip sedang apa Lyana didalam kamar.


Rupanya Lyana sudah tertidur di tempat tidurnya. Pakaiannya sudah Lyana ganti dengan pakaian tidur karena aku melihat jaket Ken tergantung di sudut ruangan.


Aku memberanikan diri untuk melangkah mendekatinya. Perlahan aku duduk ditepi tempat tidur tanpa mengalihkan pandanganku menatap Lyana yang sudah terlelap.


Namun aku tersentak melihat Lyana membuka matanya dan ia beringsut terkejut melihatku. Hal itu juga membuatku hampir terjatuh dari tempat tidur. Aku sontak mengelus dada karena kaget.


"Om ngagetin Lyana."


Kamu yang ngagetin Om.


"Kok Om ada disini? Bukannya Om tadi lagi nonton tv?" Lyana beranjak dan ikut duduk disampingku sambil ia rebahkan punggungnya ke senderan tempat tidur.


"Nggak. Om mau disini, mau temani Lyana tidur aja."


Kok aku jadi ngomong begitu ya?


"Om mau tidur sama Lyana disini?"


Aku tercengang ditempat, kok omongannya jadi ambigu gini?


Aku jadi canggung sendiri padahal Lyana merasa biasa saja dengan tatapan polos itu.


Lalu Lyana bergerak menjauhiku, satu tangannya bergerak menepuk-nepuk tempat tidur sambil menatapku.


Mendadak jantungku bertalu kencang melihat isyarat Lyana.


"Sini Om."


Mendadak napasku juga terasa berat untuk dihembus.


Tapi aku justru bergerak dan menurut. Sekarang aku dan Lyana sama-sama terbaring ditempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Sesaat kami terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Om, Lyana kangen Mamah, Papah dan El. Mereka lagi ngapain ya disana?"


Aku memberanikan menoleh. Gadis kecil itu masih menatap langit-langit, tapi aku menangkap nada bicaranya yang bergetar sendu.


"Om yakin Papah dan Mamah juga kangen sama kamu." Balasku membuatnya menoleh dan menatapku.


"Hari ini Lyana belum telepon Mamah dan Papah. Mamah dan Papah juga belum ada telepon Lyana. Mereka sibuk ya urus Mikael masuk Sekolah? Aku iri sama Mikael diperhatiin sama Mamah dan Papah."


Aku agak takjub mendengar ucapan Lyana barusan. Lyana tampak jujur mengungkapkan perasaannya.


"Begitu ya." Jemarinya saling memilin diatas dada Lyana.


"Papah dan Mamah akan pulang sebentar lagi. Jangan khawatir." Satu tanganku kembali bergerak mengelus kepala Lyana. Berusaha untuk mengikis kecemasannya.


Sedemikian detik hingga menit berjalan terasa cepat. Selama itu aku dan Lyana membicarakan banyak hal hingga aku mulai merasa ngantuk.


Rasa kantuk semakin kuat menggerogoti kesadaranku. Dengan sisa upaya yang kupunya aku menjawab semua pertanyaan yang Lyana lontarkan padaku. Pertanyaan tentang bagaimana pekerjaanku hari ini, apa aku sedang mengalami kesulitan dalam bekerja, dan Lyana menanyakan apa yang ingin kukejar saat ini.


Samar-samar aku menjawab sebisaku. Dan pertanyaan Lyana terakhir dengan asal dan gamblang aku mengatakan bahwa aku ingin segera menikah tapi tidak ada wanita yang mau menikah denganku.


Aku yang menjawab saja merasa lucu sendiri. Tapi memang aku berniat untuk menikah. Tapi bukan berarti tidak ada wanita yang tidak mau denganku. Menikah bukanlah target utamaku saat ini.


Masih banyak yang ingin kulakukan dan ingin kuraih.


Akan tetapi aku agak terganggu dengan sebuah kalimat yang tertangkap oleh pendengaranku. Akau nggak tahu itu benar atau tidak karena kalimat itu berputar didalam mimpiku yang gelap.


"Kalau tidak ada yang mau sama Om, Lyana mau kok nikah sama Om."


Mungkin itu memang hanyalah mimpi.


Jadi aku tidak ingin menggubrisnya.


Lebih baik aku menikmati mimpiku saja. Belum tentu mimpiku akan teringat olehku setelah aku terbangun dan membuka mata.


...-o- ...


Hai kamu, ini aku yang ingin memberikan sedikit info..


Untuk sementara waktu, aku akan hiatus menulis Om Nathan.


Tidak pindah lapak, tidak menghilang dan cerita ini belum berakhir. Hanya saja aku perlu hiatus sementara dan aku akan kembali melanjutkan cerita ini sampai tamat.


Maaf ya kalau aku infoin hal yang kurang mengenakan :D


Semoga kamu masih setia menunggu Om Nathan dan Lyana disini. Aku usahakan akan kembali secepat mungkin.


see you,


octaviandri23