
...Chapter ini mengandung bahasa kasar. Be wise! ...
.......
.......
.......
.......
Satu persatu rintikan hujan menerpa jendela kamar. Lyana hanya terdiam membiarkan rintikan itu membasahi jendelanya. Sebagian orang menganggap hujan itu adalah musim yang menyebalkan. Tapi bagi Lyana, tiap rintik yang turun seakan menghibur pandangan Lyana yang terlihat kosong saat ini.
Ini sudah hari ketiga Lyana menjalani hukuman skorsingnya. Seharusnya saat ini Lyana sedang kewalahan di lapangan sekolah karena adanya jam pelajaran olahraga. Entah ia sedang berlari mengelilingi lapangan, atau sedang melakukan pemanasan dasar untuk melakukan teknik olahraga lain yang akan diterangkan oleh sang guru.
Namun melihat cuaca mendung sejak pagi tadi dan sekarang hujan, kemungkinan guru olahraga akan menerangkan materi di dalam kelas. Lyana langsung membayangkan wajah suntuk Sammy yang tidak suka dengan materi olahraga di dalam kelas. Sammy lebih suka olahraga di lapangan ketimbang ia harus menulis catatan atau menghapalkan materi olahraga.
Lalu Lyana juga membayangkan ekspresi Fanya yang terus mengeluh kalau sudah melihat wajah suntuk Sammy. Siap-siap Fanya yang akan jadi sasaran jahil Sammy.
Hanya membayangkan mereka saja mengundang seulas senyum di bibir Lyana. Ia merindukan kedua sahabatnya. Tinggal sebelas hari lagi maka Lyana akan kembali ke sekolah.
Tapi sepertinya suasananya tidak akan seperti biasanya lagi. Terakhir kali berita tentangnya memukul Wanda adalah berita yang menggempar di sekolah. Untuk pertama kalinya setelah Lyana bersusah payah menata emosinya sedemikian rupa agar ia tidak terpancing hinaan Wanda, akhirnya Lyana menunjukan dirinya bahwa ia begitu murka.
Saat itu Lyana memilih duduk terdiam di kursinya. Putus dengan Nathan membuat hari-harinya melankolis. Tidak ada semangat untuk masuk sekolah. Tapi Lyana memaksakan diri untuk ke sekolah karena ia tidak mau El dan Milly mengkhawatirkannya.
Setelah putus dari Nathan, Milly juga berupaya untuk menyenangkan hati Lyana; memasak makanan kesukaan Lyana, membeli barang-barang lucu, bahkan Milly membeli tiket nonton bioskop untuk mereka berdua tonton.
Lyana cukup senang karena sang Mamah berusaha untuk selalu memperhatikannya. Berbanding terbalik dengan sang Ayah yang mendiaminya sejak mereka beradu argumen terakhir kali.
Antara El dan Lyana, mereka benar-benar menciptakan lapisan dinding untuk menjaga jarak diantara satu sama lain.
Lyana kembali mengingat di saat puncak permasalahan terjadi. Di saat Fanya dan Sammy ingin mengajak Lyana ke kantin, datanglah tiga orang yang membuat mood Lyana turun drastis.
Siapa lagi kalau bukan Wanda dan antek-anteknya.
Dengan penuh percaya diri Wanda dan teman-temannya melangkah menghampiri meja Lyana dan kembali membully Lyana.
Awalnya Lyana tak menanggapinya. Seperti biasanya. Karena akan percuma dan membuang energi semata jika meladeni perempuan semacam Wanda.
Hingga sampai sebuah kalimat begitu mudah Wanda lontarkan membuat Lyana membeku di tempat.
"Nggak dapat Bayu, sekarang mainan barumu Om Om kaya raya ya, Lyn? Wah keren banget kamu!" Hina Wanda dengan suara keras hingga teman sekelasnya mengetahui apa yang Wanda katakan.
Diam-diam Lyana mengepalkan tangannya. Berharap hal itu akan membantu meredakan emosinya yang tiba-tiba saja melatup penuh di kepalanya.
"Oh sekarang Lyana sama Om Om? Wah bahaya banget dong!!" Seru teman-teman Wanda dengan nada nyeleneh.
"Nggak bahaya dong! Bagus lho incaran Lyana, Om Om kaya raya."
"Kok bisa sih Lyana kenalan sama Om Om kaya raya? Enak banget ya jadi Lyana!"
Amarah juga memenuhi kepala Fanya. Mereka harus dihentikan. Kekesalannya semakin menjadi saat Fanya melihat Lyana masih bergeming menatap Wanda dan teman-temannya itu. Fanya bingung kenapa kesabaran Lyana terlalu besar sampai-sampai ia hanya bisa diam memperhatikan perempuan-perempuan sialan itu menghinanya di depan teman sekelasnya.
Fanya mulai melangkah untuk melakukan apapun, asalkan ia bisa menyumpal mulut mereka. Tapi sebelum berhasil, Sammy sudah lebih dulu menghalangi Fanya.
"Sammy, lepasin!!" Tangan Fanya ditarik Sammy dengan kuat.
"Jadi cari masalah Fan!! Diam aja!!" Desis Sammy tajam. Tapi tak disadari Fanya karena terlalu kesal mendengar hinaan Wanda.
"Kok kamu biarin mereka menghina Lyana sih?!" Gerutu Fanya kian kesal.
"Dengerin omongan aku aja, plis!" Sammy berhasil menahan Fanya dan kembali melihat tingkah pongah Wanda saat menghina Lyana.
"Wah aku sih nggak tahu ya?! Mungkin tinggal buka baju saja, habis itu Lyana bisa deket sama Om Om kaya raya. Kemarin beli barang apa aja, Lyn, sama Om kaya raya itu? Perhiasan? Baju baru? Atau kalian sering ke hotel?"
Wanda dan teman-temannya tertawa keras. Hanya beberapa saat hingga tawa mereka berubah menjadi teriakan saat Lyana langsung mendorong Wanda kencang sampai Wanda terjelembab menubruk meja.
Wanda mengadu sakit saat kepalanya berbentur sisi meja. Wanda tidak terima. Ia bangkit lalu membalas dengan menarik rambut Lyana kencang.
Lyana pun nggak mau kalah. Lyana langsung menendang perut Wanda dengan kakinya hingga Wanda kembali jatuh. Sebelum Wanda berhasil bangkit, Lyana mengunci pergerakan Wanda dengan mendudukannya diatas perut. Lalu Lyana langsung melayangkan pukulannya berkali-kali tepat di wajah Wanda.
Fanya dan Sammy tak bisa menahan diri untuk tidak panik dan buru-buru mereka menarik Lyana untuk mencegah hal-hal yang sebenarnya mereka inginkan di dalam benak mereka.
Coba kalau mereka bukan di sekolah, Fanya dan Sammy kompak membiarkan Lyana menghajar Wanda sepuasnya.
Ikut keroyok boleh juga.
"LEPASKAN AKU, JAL*NG SIALAN!!" Teriak Wanda setelah ia berhasil mencegah tangan Lyana untuk memukulnya lagi.
Sengatan perih mulai menjalar di sekitar wajahnya, tapi Wanda kembali memaki Lyana dengan hinaan yang lebih parah.
"KENAPA?? KAMU NGGAK TERIMA KALAU AKU PANGGIL KAMU JAL*NG??!! DASAR CEWEK MUNAFIK!! KALAU KAMU MEMANG SUKA OPEN BO SAMA OM OM YA NGAKU SAJA!!"
Lyana langsung menampar keras pipi Wanda hingga tamparannya terdengar seisi kelas.
Teman-teman sekelas Lyana hanya bisa menatap perkelahian mereka dengan tatapan takjub. Mereka pun juga tidak berani menyentuh area perkelahian mereka selain teman-teman Lyana dan teman-teman Wanda.
"KENAPA KALAU AKU OPEN BO SAMA OM OM?? KAMU NGGAK SUKA LIHAT AKU JALAN-JALAN OM OM TAJIR?? BILANG AJA KAMU SIRIK KARENA MERASA TERSAINGI!!"
"AKU TIDAK SIRIK!!!" Mata Wanda memicing tidak terima.
"JANGAN MUNAFIK!!! PADAHAL KAMU INGIN CARI TAHU KAN BAGAIMANA CARAKU BISA JALAN-JALAN SAMA OM OM TAJIR, IYA KAN??!! NGAKU AJA DEH!! NGGAK USAH SOK JADI CEWEK POLOS TAK BERDOSA DI DEPAN BANYAK ORANG!!"
Wanda ingin menarik rambut Lyana, tapi tak berhasil karena Lyana berhasil menghindar. Tangan Wanda yang sempat mengudara untuk menarik rambut Lyana, Lyana tangkis lalu dikunci hingga Wanda tidak bisa bergerak.
"LEPASIN AKU, JAL*NG!! AKU AKAN ADUIN INI KE KEPALA SEKOLAH DAN ORANG TUAMU!! BIAR MEREKA TAHU KAMU LEBIH BURUK DARI MEREKA BAYANGKAN!!!"
"KASIH TAHU SAJA!! AKU TIDAK TAKUT SAMA ANCAMANMU!!" Balas Lyana sengit.
"DASAR CEWEK NGGAK TAHU MALU!! DASAR CEWEK BOOKINGAN OM OM!!"
"IYA!!! OM OM YANG KAMU LIHAT JAUH LEBIH MENGUNTUNGKAN KETIMBANG BAYU YANG SELALU KAMU BANGGAKAN ITU!!"
"DASAR JAL*NG NGGAK TAHU DIRI!! MASIH BAGUS BAYU BAIK SAMA KAMU SELAMA INI!! BERUNTUNG BAYU NGGAK JADI SAMA KAMU!! BAYU SAMA SEKALI NGGAK PANTAS BUAT JAL*NG KAYAK KAMU!!"
"KURANG AJAR KAMU!!" Wanda meronta dalam kuncian Lyana.
"AYO BALAS AKU!! KEMANA TENAGAMU?! DASAR LEMAH!! KAYAK GINI KAMU NGGAK BISA BALAS!! OIYA AKU LUPA, KELEBIHANMU CUMA BISA MENGHINA!! DI SIJI KAMU NGGAK ADA APA-APANYA!! LEMAH!!"
Keributan semakin memanas disaat kekuatan Wanda muncul seketika dan langsung membalas Lyana dengan pukulan di wajah. Lyana merasakan sekujur wajahnya seketika kebas karena pukulan Wanda, sudut bibirnya juga terasa perih. Sudah dipastikan ia akan mengalami lebam dan berdarah.
"DASAR JAL*NG NGGAK TAHU MALU!! NGGAK TAHU TEMPAT!! JADI JAL*NG AJA BANGGA!!" hina Wanda sambil memukul Lyana tanpa ampun.
"IYA AKU BANGGA!! KENAPA KAMU NGGAK SUKA??!! KATAKAN SAJA KAMU SIRIK DAN BERENCANA MAU MEREBUT OM KU!! IYA KAN??!!"
Lyana tak mau kalah lagi. Ia kembali menjatuhkan Wanda dan menarik rambut Wanda hingga Wanda meringis kesakitan di lantai.
Tanpa diduga salah satu teman sekelas mereka memberitahukan keributan ini ke ruang guru hingga beberapa guru berdatangan untuk menyelesaikan perkelahian mereka.
Belum selesai permasalahannya di sekolah, hidup Lyana seakan semakin runyam setelah ia kembali berargumen dengan El hingga akhirnya di sinilah Lyana sekarang. Terkurung di dalam kamar dan merenung kejadian terakhir kali yang membuatnya berdiam diri seperti ini.
Sebenarnya El tidak mengurung Lyana di kamar. Lyana yang memutuskan untuk mengurung dirinya sendiri. Ia tidak ingin menatap Ayahnya sementara waktu. Hanya disaat jam makan datang, Milly yang akan mengantar makanan ke kamar Lyana.
Sudah tiga hari ini Lyana mengurung diri. Lyana pikir hal itu akan membantunya untuk lebih merasa tenang dan dapat menyembuhkan luka di dalam hatinya.
Mikael pergi, kehilangan Nathan, di-skorsing, dan sekarang hubungannya dengan El merenggang.
Sudah cukup masalahnya tertimbun dengan sempurna. Lyana seperti seorang tahanan yang memiliki tumpukan kesalahan yang tak bisa diampuni.
Bisa dibilang, Lyana pantas memperlakukan dirinya seperti ini.
Sampai pandangannya beralih menatap pintu. Ketukan pintu tersebut merupakan jadwalnya untuk makan. Perlahan Lyana melangkah dan membuka tuas pintu. Milly langsung tersenyum sambil memapah nampan berisi sepiring makanan dan segelas air.
Tanpa diminta Milly langsung memasuki kamar Lyana dan meletakan nampan di atas meja nakas. Setelah itu ia membantu merapihkan tempat tidur Lyana agar Lyana tetap merasa nyaman di kamar. Walau tempat tidurnya masih rapih seperti tadi pagi setelah ia bersihkan.
"Habiskan makananmu ya sayang. Jangan sampai ada yang tersisa."
Dengan penuh sayang Milly mengelus lengan Lyana. Anak gadisnya mengangguk pelan dan langsung memakan makanan yang dibawa Milly dengan lahap.
Tapi Milly merasa tidak senang, anak gadisnya masih terlihat murung. Tak ada gurat senyuman lagi di bibirnya. Tak ada gurat keceriaan lagi di bingkai wajahnya.
Hati Milly seakan terkoyak tak beraturan. Ia sangat sedih melihat keadaan anak gadisnya.
Ditambah El juga sama terlihat murung setelah terakhir kali El dan Lyana berargumen hebat untuk pertama kalinya. Melihat mereka murung, membuat Milly merasa tertekan.
Ia ingin El dan Lyana kembali seperti dulu.
Tapi ia bingung bagaimana caranya.
Selama mereka murung, selama itu pula Milly merutuki kebodohannya. Sebagai seorang Ibu, ia tidak percaya dengan dirinya bahwa ia ternyata tidak mampu merasakan sirat kesedihan yang membekas di hati anak-anaknya selama ini.
Yang ia tahu anak-anaknya selalu ceria bersamanya dan El.
Ternyata, anak-anaknya memiliki segurat luka yang membekas begitu dalam.
Adit ada benarnya. Milly harus memberikan waktu dan ruang untuk El dan Lyana sementara. Akan ada saat yang tepat untuk kembali merangkul bersama-sama menyelesaikan masalah mereka.
Milly akan menunggu waktu itu. Dan Milly pastikan itu tidak akan lama.
...-o- ...
Baris perbaris di setiap halaman buku Lyana amati dengan seksama. Merangkum adalah hal yang tidak ia sukai dalam setiap mata pelajaran.
Tapi karena ia masih berada dalam hukuman, terpaksa Lyana merangkum beberapa bab agar nilainya tidak dibawah nilai standar.
"Sudah selesai menulisnya belum?" Fanya membuyarkan konsentrasi Lyana melalui video call. Lyana berdecak kesal.
"Sabar! Sebentar lagi aku selesai." Lyana menemukan kalimat terakhirnya untuk ia tulis di buku tulis.
"Sudah." Lyana langsung merebahkan punggungnya ke senderan kursi dan meregangkan tangannya yang terasa pegal dan kaku.
"Nanti sore aku akan ke rumahmu buat ambil bukumu. Besok harus dikumpulkan."
Lyana hanya mengangguk dan meneguk sisa air di botol sampai habis. Hanya merangkum saja, Lyana merasa kelelahan.
"Sekalian aku juga mau cerita, Wanda mengeluarkan diri dari sekolah."
Lyana terperanjat dari kursinya. "Hah? Serius?! Kenapa?!"
"Aku nggak tahu. Anak-anak pada heboh dengar Wanda keluar."
Lyana terdiam dan mencerna dengan seksama. Apa alasan Wanda keluar dari sekolah?
Terakhir Lyana mendapat kabar kalau Wanda juga kena di-skorsing sekolah dengan masa hukumannya hanya seminggu, lebih ringan dari Lyana.
Tapi kenapa Wanda keluar dari sekolah?
Terdengar ketukan pintu membuat Lyana menoleh. Buru-buru Lyana beranjak menuju pintu saat ia melirik jam sudah memasuki jadwal makan siang.
Lyana terpaku ditempat. Bukan Milly yang berdiri di depan pintu sambil memapah nampan berisi makanan seperti biasa, melainkan sosok El dengan pakaian santai menatap Lyana.
Ini hari kerja, bukankah seharusnya El bekerja hari ini? Lyana tidak tahu karena dari sejak hari pertama mengurung diri di kamar, ia tak pernah melihat Ayahnya lagi.
Lyana membalas tatapan dingin El, tapi sebenarnya Lyana sungkan. Lyana takut. Lyana takut kejadian terakhir kali disaat ia berani membentak El akan terulang.
Mengurung diri juga sebagai alasan utamanya menghukum diri karena telah berani membentak El didepan Milly. Amarah dengan sirat luka begitu menakutkan. Terkadang Lyana masih tidak percaya bahwa dirinya telah berani membentak El begitu kasar. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau ia berani dan berhasil mengeluarkan apa yang menjadi beban di dalam hatinya.
El adalah sosok yang sangat Lyana kagumi. El adalah Ayah yang paling Lyana banggakan didepan teman-temannya. El adalah sosok Ayah yang paling sempurna dan Lyana sayangi melebihi apapun.
Tapi kesempurnaan yang dimiliki El belum bisa menutupi luka di hati Lyana.
"Sedang apa?" El membuka obrolan mereka setelah cukup lama mereka tidak mengobrol lagi. Matanya tajam menatap seisi kamar Lyana yang tampak rapih dan bersih. Kecuali area atas meja yang terlihat sedikit berantakan oleh tumpukan buku. Juga terlihat sebuah ponsel yang menyala.
Sekarang Lyana merasa gugup. Apa El akan kembali melanjutkan persoalan mereka yang belum terselesaikan?