He'S Not You

He'S Not You
Bab 9



" Aku boleh nginep di sini malam ini mbak." Ucap Abbas, selesai mandi dan berganti baju. Setelah beberapa jam membantu Lintang merapikan barang-barang rumah yang di belinya.


" Iya, nginep di sini saja. dari pada balik ke rumah bunda." Jawab Lintang.


Tak ada salahnyakan adiknya menginap di rumah kontrakannya? Ia juga merasa kasihan melihat Abbas yang pasti lelah karena membantu dirinya seharian. Tak mungkin juga mengusirnya, atau menyuruhnya kembali ke rumah bunda yang jarak rumahnya lumayan jauh.


Abbas tersenyum, lebih baik menginap di rumah sang kakak dari pada ia harus kembali ke rumah bunda atau meneruskan perjalanannya menuju luar kota dengan keadaan yang sangat lelah. Ia pastinya tak sanggup.


" Ayo makan, aku sudah pesanin makanan lewat ojek online." Menaruh dua nasi bungkus di atas piring dan duduk di sofa tamu bersama Abbas.


Maklum, tak ada meja makan di ruang tengah. Hanya ada meja bar di depan dapur. Jadi untuk apa ia membeli meja makan?


Untuk apa coba? Hanya dia sendiri kan dikontrakan. tak perlu banyak-banyak barang karena tak mungkin selamanya Lintang akan mengontrak di rumah ini.


Bisa sajakan lintang pindah ke apartemen? Bisa.. Bila ia mampu mempunyai uang lebih.


Malam ini Lintang mempunyai teman di rumah, tapi tidak tau bila besok. Pastinya akan sepi.. dan sendiri lagi di kontrakan ini.


Bukannya hidup Lintang sedari dulu memang sendiri?


Sudah terbiasa dan jangan mengeluh.


" Mobilku aku tinggal di sini ya mbak?" Kata Abbas.


" Kenapa?"


" Buat mbak kalau mau pergi kerja."


" Kamu?"


" Masih ada mobil kantor, aku bisa di antar jemput sopir kantor." Jawab Abbas.


Ya, memang tempat kerja Abbas memiliki sopir antar jemput karyawan. Dan Abbas pernah menaiki mobil kantir sebelum ia membeli mobil pribadi sendiri dan bisa leluasa ke mana-mana tanpa harus menunggu ojek.


" Enggak perlu, kamu bawa saja. Aku lebih suka kemana-mana pakai motor." tolak halus Lintang." Lagian tempat kerjaku juga dekat dari sini." Imbuhnya, dan menyuapkan makanan ke dalam mulut.


" Memang mbak sudah beli motor?" Tanya Abbas.


" Belum sih.. Besok aku cari deller motor, mau lihat-lihat dulu siapa tau cocok." Kata Lintang." Udah kamu bawa aja mobil kamu, kalau enggak di bawa aku kembalikan ke rumah bunda." Ancam Lintang.


Sudah di pastikan bila Lintang menolaknya. Dan tidak bisa di paksa, karena Lintang paling tak suka di paksa. Perabotan yang ia beli untuk isi rumah saja sudah membuat Lintang menggerutu dan sebal. Tapi karena desakan dan juga atas nama bunda di bawa-bawa akhirnya lintang menerima walau terpaksa.


Selesai makan dan menulis data diri untuk di bawa ke kantor tempat kerjanya besok, kini Lintang dan Abbas masuk ke dalam kamar masing-masing. Mengistirahatkan tubuh agar kembali fit dan memulai aktivitasnya.


****


" Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai kabari aku." Kata Lintang, mengantarkan Abbas ke depan rumah. Pagi-pagi sekali Abbas akan kembali ke luar kota tempatnya bekerja.


" Hhmm.. Iya mbak." Jawab Abbas. " Sering-sering kunjungi Bunda mbak, kasihan Bunda sendiri di rumah. Ali juga sudah mulai sibuk sama kuliahnya." Imbuhnya, mengingatkan Lintang untuk sering mengunjugi bundanya.


" Boleh peluk." Pinta Abbas. Selalu begitu, meminta ijin pelukan pada Lintang.


Lintang mengangguk tersenyum, memberikan ijin adiknya untuk memeluknya. Pelukan sebagai seorang kakak yang sayang pada adiknya.


" Aku bakalan kangen sama mbak." Ucap abbas dalam pelukan Lintang.


" Kalau kangen ya pulang, jangan ngejar target terus! Bunda selalu ngeluh begitu ke aku." Sindir Lintang, membuat abbas berdecak dan tersenyum mendengarnya.


Ya, bundanya selalu mengeluh tentang Abbas pada Lintang bila di suruh pulang selalu sulit karena mengejar target yang tak kunjung usai.


Dan bila Bundanya sudah merajuk, sudah marah, pada akhirnya Abbas pulang dan menuruti permintaan sang Bunda.


Sebenarnya Bunda bangga mempunyai anak-anak yang pekerja keras. Tapi Bunda juga merasa kesepian serta merindukan kebersamaan bersama anak-anaknya walau hanya sehari saja.


" Iya, aku usahain bakal pulang setiap bulan, tapi mbak juga harus janji juga bakal pulang ke rumah bunda." Ucap Abbas.


" Hhmm, iya." Jawab Lintang.


selalu susah untuk mengatakan janji.


Melambaikan tangan saat mobil abbas akan meninggalkan rumah. Menghembuskan nafas berat melihat mobil Abbas tak lagi terlihat.


Kini rumah hanya ada dirinya sendiri.


Melangkah masuk ke dalam rumah. Lintang akan bersiap memulai wawancara kerja di salah satu perusahaan yang sudah ia lamar. Tak ingin terlambat, ia pun memutuskan cepat memesan ojek online. Karena pagi di hari kerja akan banyak pengendara yang lalu lalang tak ingin terlambat menuju tempat kerja.


Memakai celana hitam di padu kemeja putih dan sepatu fantovel serta rambut di atas bahu biarkan tergerai tanpa kuncit.


Tak butuh menunggu lama, ojek yang di pesan Lintang sudah datang. Pagi ini Lintang semangat untuk memulai lembaran baru lagi di tempat asalnya, tanpa lagi ke dua orang tua. Meskipun begitu, masih ada ibu tiri dan ke dua adik yang menyayanginya sebagai keluarga.


Dua puluh menit menuju gedung kantor menjulang tinggi tempat Lintang melamar pekerjaan di sana. Sudah ada beberapa karyawan yang masuk ke dalam kantor. Lintang memberikan uang pada ojek dan tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum masuk memulai wawancara.


Apa jantung Lintang berdebar, tentu saja tidak. Lintang sudah terbiasa dengan ini, dan tak perlu khawatir bila akan mendapatkan beberapa pertanyaan sebelum di terima atau tidaknya.


Tidak masalah tidak di terima kerja, Lintang bisa mencari pekerjaan lain. Mungkin bukan rejekinya. Tapi siapa sangka, Lintang begitu saja di terima di perusahaan yang ia lamar ini tanpa di persulit.


Mungkin mereka tau khualitas, pendidikan dan pengalaman Lintang bekerja di luar negeri hingga di terima begitu gampang.


Setelah tes wawancara usai, Lintang memilih pulang untuk mempersiapkan esok pagi di mana ia sudah memulai bekerja di perusahaan itu.


Tapi sebelum pulang, ia teringat dengan rumah singgah. Ia merindukan anak-anak singgah.


Bagaimana kabar mereka?


Sudah sembilan tahun tidak bertemu. bagaimana rumah singgah, bagaimana kabar ferdy dan tina. Apa mereka sudah tumbuh semakin dewasa? Apa ada anak-anak baru di sana?


Menatap jam di pergelangan tangan, masih menunjukkan angka sebelas. Lintang melupakan niatnya untuk ke deller motor, ia memesan ojok online untuk ke rumah singgah. Rindunya pada rumah singgah tidak bisa ia bendung lagi, anak-anak yang selalu membuatnya tenang di saat ia merasa kacau, atau lebih tepatnya ia akan mengingat kenanagan itu kembali bersama lelaki yang masih tersimpan di hatinya.