
" Makasih sudah di antar pulang." Ucap Lintang, membuka saltbat tersenyum ramah pada Saddam.
" Sama-sama." Jawabnya, membalas senyum Lintang. " Makasih juga, sudah mau menemani saya makan malam." Imbuh. Membuat Lintang hanya menggukkan kepala.
" Selamat malam." Kata Saddam, melihat Lintang sudah membuka pintu mobil.
" Selamat malam juga." Balas Lintang, sebelum menutup pintu mobil dan berdiri tepat di sampingnya.
Seperti tak rela, waktu begitu cepat saja kala berdua dengan wanita itu. Saddam juga tak bisa mencari alasan lagi, hanya bisa tersenyum dan melajukan mobilnya keluar dari komplek rumah Lintang.
Menghembuskan nafas berat. Tidak perlu tersenyum lagi, sudah kembali dengan wajah dinginnya. Ia bukan wanita yang suka menghayal manisnya cinta.
Makan bersama dengan atasannya bukan berarti ada maksud yang lebih. Baginya ia hanya menganggap itu biasa saja dan menghargai sebagai donatur di rumah singgah. Tapi saat ada seorang wanita tua mengemis meminta-minta di mejanya dan mengucapkan terima kasih serta doa yang seharusnya bukan buat dirinya dan Saddam. Membuat Lintang sedikit marah.
" Terima kasih ya Nak. Kalian pasangan yang serasi, semoga menjadi keluarga sakinah. Amin."
Pasangan yang serasi, keluarga yang sakinah. Hanya bisa menggelengkan kepala saat kembali mengingat ucapan ibu tua itu.
Bukan hanya Lintang saja yang masih memikirkan ucapan ibu tua pengemis itu. Di perjalanan Saddam pun juga sama memikirkan ucapannya, dan tanpa sadar saddam mengucapkan dalam hatinya ' Amin.' saat mendapatkan doa dari wanita tua untuknya dan Lintang.
Berharap semoga doa itu terkabulkan. Karena Saddam juga sudah mulai menemukan kembali benih rasa sukanya pada wanita.
Tapi tidak dengan Lintang, yang menganggap itu tak akan terjadi. Karena baginya, hanya satu lelaki yang masih melekat di hatinya. Dan tak akan bisa di ganti sampai kapanpun.
Berharap kunci itu tidak akan terbuka, dan tak akan menggoyahkan hatinya untuk kembali membuka lembaran cinta menyakitkan.
****
" Nanti pulang kerja kita nonton yuk!" Ajak Riska. " Lama banget aku enggak nonton, ada film baru juga di bioskop." Imbuhnya, menyuap makanan ke dalam mulut.
" Film apa, aku gak mau kalau film cinta-cintaan kayak dulu ya! Jijik aku lihat kamu nangis, malu-maluin." Kata Yolla, membuat Riska mengerucutkan bibir.
Ya, Riska pernah mengajak Yolla nonton bioskop sepulang kerja. Riska memilih film romantis yang sedang trending di bioskop. Bukannya menikmati, Yolla malah merasa malu sendiri melihat Riska menangis kesegukan karena filmnya mengandung bawang. Dan yang paling parah, Riska mengusap ingusnya dengan baju tanpa rasa malu di lihatin orang sebelahnya.
" Ih.. jangan di ingetin lagi kenapa sih Yol!" Kesal Riska, yang sebenarnya juga malu menyadari tingkahnya waktu di bioskop. Hingga ada orang yang membicarakannya setelah keluar dari bioskop.
" Ada film horor barat baru. Ayo, aku mau lihat. Penasaran tau!" Semangat Riska mengajak Yolla dan Lintang.
" Oke, aku mau kalau filmnya horor." Kata Yolla.
Tak masalah bila film horor, yang penting bukan soal percintaan lagi. Bisa malu bila kembali terulang bersama Riska si gadis cengeng.
" Ikut ya Lin! Please!" Pinta Riska, seperti tau apa di otak Lintang saat ini.
" Hhmm.. Iya." Pasrah Lintang, seolah tak masalah untuk ikut bersama Riska dan Yolla.
Sekali-kali juga ingin keluar bersama teman kantor. Dan menghilangkan ucapan-ucapan tak masuk akal malam itu.
Sungguh, itu masih terngiang di kepalanya.
" Yes." Senang Riska. " Kalau gitu aku boking dulu tempat duduknya sekarang." Imbuhnya, membuka aplikasi booking bioskop di mall yang biasa Riska dan Yolla berbelanja.
" Oke, sudah aku booking. Tapi di antara kita gak bisa duduk bersama. Enggak apa-apa kan?" Sedikit menyesal, tapi Riska juga tidak bisa menunda film yang tayang perdana ini.
" Ih! Kenapa gitu di booking sih!" Gerutu Yolla.
" Enggak apa-apa. Tidak masalah juga." Jawab Lintang.
" Terus kam-,"
" Duduk sendiri juga gak apa-apa." Potong Lintang.
Dirinya tidak mempermasalahkan tempat duduknya. Lintang ke bioskop juga bukan kerena ingin melihat film saja tapi juga sedang men
" Eh.. Ada Pak gm." Riang Riska, membuat Yolla dan Lintang mengikuti pandangan Riska.
Hanya menatapnya sebentar dan kembali menyantap makanan tanpa lagi mau memperhatikan atasannya.
Saddam memang sengaja ingin Makan kembali di kantin. Ia hanya ingin melihat Lintang, karna setengah hari ini Saddam sibuk dengan pekerjaan dan tak melihat seluit wajah Lintang.
" Pak Saddam lihatin ke arah kita dari tadi?" Kata Riska. Pergerakan mata Saddam tak luput dari Riska yang ikut memperhatikannya dan melihat ke tempat meja makannya.
" Tapi Pak gm gak lihat ke kamu!" Terang Yolla, yang juga sadar di perhatikan gm.
Riska dan Yolla saling berpandangan, menoleh ke arah Lintang bersamaan dengan temannya yang tak menggubris ucapannya. Lebih Asyik menikmati makan dalam diam.
" Lin?" Panggil Riska.
" Hhmm." Jawabnya. " Aku sudah selesai, mau balik ke ruangan dulu." Imbuhnya, selesai meneguk minuman.
Bukan tidak tau. Lintang sangat tau, dan memang tau bila Saddam memang sedang memperhatikannya.
Meninggalkan dua teman yang sedang bingung sendiri melihat perubahan wajah Lintang. Dan tak menyapa saddam kala melewati mejanya.
Perubahan wajah lintang jelas bisa di lihat Saddam. Saddam menjadi bingung, ada apa dengan Lintang. Hingga seolah-olah ingin menghindar, padahal semalam baik-baik saja.
****
" Tuh kan! Ramai. Untung aku sudah boking." Ucap Riska, melihat antusiasnya penonton bioskop film terbaru.
Masuk ke dalam bioskop, pilihan yang bagus bagi Riska memboking kursi tengah urutan ke lima tepat di depan tengah layar lebar.
Sayang, Lintang tak sejajar dengan Riska dan Yolla, karena ada dua orang yang sudah di boking orang lain hingga membuat Lintang menjadi terpisah dengan dua temannya.
Ada yang menimati film, ada yang sedang asyik berpacaran dan ada juga yang tertidur tanpa mau menonton.
Masih setengah perjalanan film, Lintang sudah merasa enggan menikmatinya. Ia memilih berdiri untuk keluar dari dalam ruangan lebar penuh orang-orang asyik menyaksikan film.
Bukan wanita yang sering suka ke mall. Lintang memilih keluar dari gedung bertingkat penuh dengan lalu lalang orang berbelanja.
Menghembuskan nafas, memilih duduk di tempat cafe terbuka sebelah lobby. Memesan satu minumam dan menatap jalanan penuh dengan kendaraan. Tak lupa sebatang rokok untuk ia nikmati dalam malam penuh kebimbangan.
Sempat terdiam kala akan menyalakan pematik, tapi ada seseorang terlebih dulu membakar ujung rokoknya dengan pematik yang bukan miliknya.
Lintang mendongak, melihat siapa orang yang sudah menyela dan menyalakan rokok di sela bibirnya.
Sempat terkejut melihat dia yang ada di hadapannya sekarang.
Saddam.