He'S Not You

He'S Not You
Bab 3



" Lintang?" Terkejut Bunda Saskia, memanggil putri tirinya yang kini terlihat nyata di depannya bersama putra pertamanya. Saat mendengar pintu kamar terbuka.


Lintang berjalan menghampiri sang Bunda, membuat Ali bergeser memberikan tempat untuk Lintang menyapa Bunda. Karena saat Lintang datang, ia melihat bundanya tertidur lelap dan tak ingin membangunkan bundanya saat itu.


" Bunda sudah bangun."


" Kamu pulang nak?" Ucap bunda. Tanpa menghiraukan pertanyaan Lintang. Mata mengembun dan bibir mulai bergetar, melihat putri dari suami ke duanya datang duduk menghampiri dirinya sambil menyentuh telapak tangannya.


" Iya. Lintang pulang, kangen Bunda." Jawab Lintang, membuat ibu tirinya meneteskan air mata dan tersenyum mendengarnya.


" Bunda juga kangen Mbak Lintang." Balasnya, mengusap tangan mulus Lintang berlinangkan air mata kebahagiaan.


Bagaimana tak menangis bahagia, putri tiri yang di sayanginya pulang ke rumah tanpa di minta dan memaksanya. Selama sepuluh tahun ini hanya lewat komunikasi ponsel, mereka menanya kabar dan melepas rindu. Selama sepuluh tahun itu pula, ia selalu berdoa pada Tuhan meminta anak-anaknya di manapun menempuh pendidikan atau bekerja selalu di lindungi dan selalu di berikan kelancaran serta kesehatan. Tak peduli itu darah dagingnya atau bukan, ia akan selalu berdoa untuk Lintang dan dua putranya.


Tak pernah tau bagaimana kehidupan lintang di luar negara. Tapi ia selalu menelpon setiap saat putrinya, hanya untuk melihat keadaannya dan juga apa yang sedang di lakukan putrinya. Ia hanya takut, putri yang sudah di anggap anaknya sendiri terluka dan menderita di sana.


Tapi nyatanya? Sungguh, Lintang gadis yang sngat luar biasa. Tangguh, pemberani dan juga pintar. Tak pernah merepotkan dirinya maupun sang suami. Tak pernah meminta uang jajan ataupun uang kuliah selama ini, tak pernah juga ia mendengar putrinya mengeluh tentang uang ataupun kuliahnya di sana. Entah, bagaimana Lintang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa meminta orang tua. Ia dan suaminya juga tak pernah tau Lintang bekerja apa, hingga bisa memenuhi kebutuhan kuliah dan hidupnya di luar negeri.


Jangan di tanya lintang mendapatkan uang dari mana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sana.


Tentunya tak perlu di ragukan lagi, selama masa sekolah lintang sudah mendapatkan uang dari hasil kerja freelansnya. Menulis dan juga menjadi penerjemah itu adalah pundi-pundi uangnya selama ini dan bisa memenuhi kebutuhannya. Karena di negara lain sangatlah mahal dan harus benar-benar menghemat. Untungnya lintang mendapatkan beasiswa dan asrama tempat tinggal gratis. Tak perlu lagi bersusah-susah membayar sewa rumah setiap bulan atau tahun.


Setiap Bundanya bilang khawatir dan cemas pada Lintang. Lintang selalu meyakinkannya bila ia akan baik-baik saja, karena itu.. Juga berkat doa dari Bunda.


Setelah lulus kuliah, Lintang tidak pulang ke negaranya. Lintang memilih mengajukan lamaran kerja dan di terima di salah satu perusahaan periklanan. Perusahaan yang sangat menggiurkan dan juga melelahkan. Tapi sepadan dengan uang gaji selama sebulan. Itulah kenapa, ia bisa memanjakan adik bungsunya meskipun tak mempunyai ikatan darah. Karena ia juga ingin merasakan punya saudara.


" Ayah kamu pasti senang kamu kembali mba." Ucap Bunda, tersenyum bahagia.


Lintang, Abbas dan Ali terdiam. Tentu Bunda tidak tau tentang kabar suaminya yang sudah meninggal akibat kecelakaan yang menimpa mereka. Tiga hari itu pula Abbas dan Ali merahasiakan kabar duka Ayahnya pada Bunda. Karena Bunda belum sepenuhnya pulih, mereka juga takut bila Bundanya akan mengalami syock berat bila tau kabar tentang suaminya. Bukan tak sayang, tapi memang ini demi kebaikan kesehatan bundanya. Tentu saja semua itu juga perintah dari Lintang pada dua Adiknya.


Lintang tersenyum kecil, mengusap-usap telapak tangan bundanya sambil menganggukkan kepala. Ia tahu ini tak baik untuk di sembunyikan, tapi setidaknya mereka harus menunggu sampai bundanya membaik dan pulang dari rumah sakit. Dan ia akan menjelaskan semuanya.


" Sudah ketemu sama Ayah?" Tanya Bunda.


" Sudah." Jawab Lintang.


" Ayah senang kan mbak? Ayah minggu-minggu ini selalu bilang kangen sama kamu ke bunda. Kalau kamu pulang, ingin ngajak kamu ke puncak. Katanya mbak suka sekali ke puncak." Jelas Bunda, menceritakan tentang kerinduan dan keinginan suaminya yang mengharapkan putrinya pulang.


Ia tahu suaminya sangat merindukan putrinya, tapi suaminya juga merasa gengsi mengungkapkan kerinduannya pada sang putri.


Mendengar ucapan Bundanya, tentu saja membuat dua hati anaknya sedih. Mata Ali sudah berkaca-kaca, Abbas menunduk dan Lintang tetap dengan expresinya yang tenang tapi tak tau dengan hatinya. Sulit sekali di jelaskan.


Ali memilih berbalik badan, melangkah keluar ruangan untuk menghindari Bundanya yang mungkin akan tau bila dirinya mengeluarkan air mata. Sungguh, ali tak bisa melihat dan mendengar lagi ucapan bunda tentang ayahnya. Meskipun ia tau itu bukan ayah kandungnya, tapi Ali sangat menyayanginya melebihi ayah kandungnya sendiri. Karena sedari dulu, Ayah teguh yang selalu memberi kasih sayang dan perhatian pada dirinya melebihi anaknya sendiri.


" Sekarang ayah kalian lagi apa?" Tanya Bunda.


" Lagi istirahat." Jawab Lintang.


Berbohong?


Tidak. Memang beristirahat. Beristirahat selamanya dan tak akan pernah terbangun serta berjumpa lagi.


" Bunda pengen cepat pulang, biar kita bisa kumpul lagi. Mbak cuti lama kan?"


Lintang mengangguk, membuat Bundanya tersenyum dan menyentuh pipinya.


" Bunda sudah makan?" Tanya Lintang


" Sudah?"


" Minum obat?"


" Sudah juga. Ayah kamu sudah makan sama minum obat. Paksa ayah kamu kalau gak mau minum obat, Ayah sulit sekali soalnya di suruh minum obat pil." Ucap Bunda.


" Iya." Jawab Lintang mengangguk. " Sekarang bunda istirahat, biar cepat pulang." Imbuhnya, membuat Bunda mengangguk tersenyum.


Kembali merebahkan tubuh bundanya ke tempat tidur dan menyelimutinya. Memberikan ciuman di pipi bunda dan menunggu bunda tidur sambil memijat lengan bundanya.


Sungguh, dalam hati Lintang tak tau esok iya akan menyampaikan bagaimana kabar buruk menimpa keluarganya hingga mengambil nyawa lelaki yang di cintai bundanya. Lelaki yang mempunyai darah mengalir di dirinya dan lelaki yang dulu selalu berdebat dengannya, karena keegoisan dan kenakalan dirinya.


Ia tahu, ayahnya juga menyayanginya. Ayahnya selalu memberikan kasih sayang dan juga perhatian dengannya. Lintang tau, Ayahnya merindukannya sama seperti dirinya. Lintang tau ayahnya begitu baik dan penyayang.


Tapi, karena kembali dirinya kembali yang dulu dan semua itu karena 'Dia' yang meninggalkannya penuh dengan kesedihan emosi, hingga dirinya tak bisa menjadi anak yang baik lagi. Kembali menjadi gadis dingin tanpa hati dan tanpa bisa menangis lagi. Tanpa bisa mengerti hatinya sendiri.


Semua itu, Karena cinta lelaki yang meninggalkannya.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃