He'S Not You

He'S Not You
Bab 26



" Sudah selesai?" Tanya Saddam, selesai menata hidangan malam yang di buatnya di atas meja pantry.


Melihat Lintang yang sudah berada di hadapannya hanya terpisah meja pantry saja dan wanita itu duduk tenang mengangguk tersenyum. Meskipun sudah membasuh muka agar terlihat lebih segar, tapi nyatanya, mata Lintang masih terlihat membengkak. Hingga itu Lintang tak berani menatap Saddam lama-lama. Hanya menunduk melihat makanan yang sudah di buat Saddam.


Apa lintang menangis lagi di dalam kamar mandi? Hingga itu matanya membengkak lebih parah. Sepertinya dugaan Saddam memang benar. Lintang menangis kembali di dalam kamar mandi, hingga lama sekali saddam menunggunya. Dan ia tak ingin mengganggu Lintang menangis tertahan di dalam kamar mandi. Membiarkannya lama-lama meskipun sebenarnya Saddam sangat cemas.


" Ada sup ayam, masih hangat. di coba dulu enak apa enggak." Ucap Saddam, mengambilkan sup ayam ke dalam mangkuk, dan memberikannya pada Lintang.


" Makasih." Kata Lintang, menerima mangkuk sup dari Saddam.


" Mau saya ambilkan nasi?" Tawar Saddam.


" Hhmm, saya bisa ambil sendiri sa-,"


" Duduk saja, biar saja ambilkan." Potong Saddam, melarang Lintang yang ingin beranjak dari duduknya.


Mengambil nasi yang masih ada di dalam penanak nasi hangat. Membawanya di hadapan Lintang.


" Banyak sekali?" Cicit Lintang, melihat nasi di dalam piringnya sedikit menggunung. Seperti dua centong nasi yang di ambil Saddam, yang pastinya bukan porsi makan Lintang meskipun ia lapar.


" Habis menangis pati lapar kan? Makanya saya ambilkan nasi banyak buat kamu." Jujur Saddam, mulai duduk di hadapan Lintang dengan nasi dan sup ayam yang sudah ia sajikan sendiri.


Membuat Lintang berdecak menahan tawa. Sungguh lelaki di hadapannya ini mulai berbicara santai dengannya. Dan sedikit mulai menggodanya.


Menyebalkan.


" Kenapa nasi kamu sedikit?" Protes Lintang, melihat nasi Saddam hanya sedikit. Seperti porsi makannya setiap hari.


Bukannya lelaki suka memakan banyak? Apa lagi masakan itu sangat selera di lidah. Ah.. Lintang lupa, bila seorang gm pastinya akan menjaga tubuh profesionalnya dan juga pola makan yang harus seimbang.


Buktinya lelaki ini mempunyai tubuh yang bagus dan perut yang tak buncit sama sekali. Pasti Saddam senang berolahraga dan menjaga bentuk tubuhnya.


Lintang juga melihat secangkir air hangat sedikit menguap di samping piring saddam. Itu artinya lelaki ini benar-benar menjaga tubuh atlentisnya agar tidak seperti lelaki perut buncit.


" Saya tadi sebenarnya sudah makan." Jujur Saddam, yang sebenarnya memang sudah makan malam bersama rekan kerjanya.


Dan bertemu Lintang tanpa di sengaja di luar lobby saat ia akan mengikuti rekan kerjanya berparty di salah satu club terkenal. Beruntungnya Saddam bisa lepas dari rekan bisnis bermodel dajj*l itu. Yang sebenarnya Saddam enggan untuk mengiyakan ajaran rekan bisnis bila bukan karena pekerjaan.


Mengatakan bila dirinya sedang di tunggu teman wanitanya, pada akhirnya rekan bisnis Saddam melepaskan dirinya dengan menggodanya terlebih dulu.


Ya, lelaki tua bersama asistennya itu menggodanya kala wanita yang di tunjuknya sedang duduk di salah satu cafe sambil menatap ponsel. Menggoda Saddam bila teman wanitanya sangat manis dan juga cocok untuk menjadi pendampingnya.


Tak pernah mendengar desas desus tentang Saddam yang suka bermain dengan wanita. Tak ada daftar hitam Saddam yang menjadi lelaki play boy. Lelaki itu sangat terkenal pendiam dan tak pernah mendengar berdekatan dengan wanita selama menjabat menjadi seorang gm.


Saddam bukan lelaki pemabuk, bukan lelaki yang suka minuman keras meskipun ia sering sekali pergi ke club hanya untuk menemui rekan bisnis yang sedang ingin membahas bisnis di club ruang vip bersama dengan wanita-wanita penghibur tentunya setelah selesai membahas pekerjaan.


Dan Saddam percaya, pertemuan tanpa sengaja lebih tiga kali itu... adalah jodoh.


" Terus... Kenapa tadi mengajak aku makan malam kalau kamu sudah makan." telisik Lintang mata yang masih setengah membengkak.


Saddam tersenyum, membuat Lintang bisa menebak dan berdecak.


" Dasar.. Modus." Cicit Lintang.


Memang benar, Saddam ingin mengantarkan Lintang pulang dan mengajaknya makan malam hanya ingin berlama-lama saja bersamanya.


Entahlah, kenapa dekat lintang ia merasa senang. Walaupun sebenarnya ia tak suka melihat Lintang merokok, apa lagi di tempat umum hingga orang-orang yang melihat Lintang saling berbisik mencelanya.


Saddam tak suka, tapi ia juga bukan siapa-siapa lintang yang bisa melarangnya merokok.


" Ini enggak akan mungkin habis." Keluh Lintang, dan membagi nasinya pada piring Saddam.


" Eh!"


" Kamu yang ambil, kamu juga yang harus habisin. Gak boleh di buang." Memperingati Saddam, yang melongo melihat nasi di dalam piringnya begitu banyak.


" Saya juga enggak bakalan habis Lintang?"


" Ya harus habis pokoknya! Kalau gak habis makanannya gak boleh pulang." Enteng Lintang, menyuapkan makanan dalam mulutnya.


" Hhmm." Gumam Saddam, alis mengerut mendengarnya.


Tunggu, tunggu. Ini bagaimana ucapan Lintang barusan? Saddam masih mencerna ucapan Lintang, tidak boleh pulang sebelum habis? Dan begitu enteng sekali mengatakan padanya?


Apa Lintang sadar atau itu efek selesai menangis?


Oh.. Rasanya senang sekali mendapat angin segar begini. Apa lagi gadis ini seperti mengancam, tapi menguntungkan baginya.


Dan sepertinya Lintang mulai berbicara non formal padanya. Lebih senang Lintang berbicara santai dan tersenyum manis yang bisa dilihat olehnya saja.


Senyum tanpa paksaan. Seperti dia tersenyum pada anak-anak singgah.


" Gak boleh pulang ya?." Ucap Saddam, kini mata Lintang teralihkan padanya.


" Tadi kamu bilang kalau gak habis makanan boleh pulang. Kalau begitu, saya tidur di sini saja. Gimana?" Godanya tersenyum tipis. Mencoba mencairkan suasana setelah drama Lintang menangis sambil memeluknya.


Ikut tersenyum, kembali menyendok nasi di atas piring.


" Boleh, kalau kamu mau." Jawabnya, membalas senyuman Saddam begitu manis.


Tersedak nasi yang mapir habis di dalam mulutnya. Lintang mengulurkan segelas airnya pada Saddam, dan dia meneguknya hingga setengah gelas.


Lagi-lagi di buat terkejut dan bingung dengan Lintang. Wanita ini membolehkan dirinya menginap di rumahnya tanpa berpikir dua kali.


Apa akibat menangis pikiran Lintang sedikit tidak beres, atau hatinya sudah merasa lega bisa menangis bersandar di bahunya begitu puas.


Saddam sungguh di buat bingung dengan sikap Lintang. sembilan puluh sembilan persen berubah drastis malam ini. Memang senang bisa lihat Lintang tersenyum dan ramah kembali padanya. Tapi ini seperti ada yang lain dari diri Lintang.


Apa ini sikap aslinya? Atau memang ia mencoba mencairkan suasana saja.


" Boleh aku mengatakan sesuatu sama kamu?" Ucap Lintang, menaruh sendok dan garbu. Melipat tangan di atas pantry dan tersenyum manis pada Saddam dengan alis dia naik sebelah.


" Maukah kamu jadi pacarku Pak.. Saddam?" Ucap Lintang.