
Satu minggu sudah Bundanya di rawat di rumah sakit, dan kini Bunda sudah di perbolehkan pulang dengan kondisi yang mulai membaik, Meskipun tangan masih ada perban.
Wajah Bunda terlihat cerah, semangatnya sangat membara kala sang bunda mendapatkan kabar tentang kepulangannya. Tentu saja, Bunda senang akan kepulangannya dari rumah sakit. Ia sudah membayangkan akan berkumpul bersama dengan anak-anak dan suaminya, dalam meja makan ataupun di ruanh keluarga. Ingin berliburan pula dengan anak dan suaminya, apa lagi putrinya kini sedang bercuti panjang dari kerjanya di luar negeri dan Abbas juga masih mempunyai waktu cuti kerja meskipun tak lama.
Sungguh, ia merindukan kebersamaan.
Dalam pikirannya, ia sudah membayangkan akan memasakkan kesukaan tiga anaknya. Memasakkan cemilan apa yang di sukai tiga anak dan suaminya. Ia juga sudah rindu dengan suaminya selama satu minggu ini, yang terpisah ruangan.
Ia merindukan suaminya. Hanya bisa menanyakan kabar lewat putra dan putrinya tanpa bisa menatap wajah dan mendengar suaranya. Seperti anak-anaknya menghalangi dirinya bertemu sang suami. Dengan alasan begitu banyak.
Ia tetap berfikir positif dan tetap tenang, harus percaya dengan anak-anaknya, dan berdoa semoga suaminya baik-baik saja.
" Bunda pengen ketemu ayah dulu." Ucap Bunda Saskia. duduk di ranjang, melihat Ali dan Lintang yang sudah membersihkan semua barang pribadinya.
Ali menatap Lintang yang sudah selesai mengemasi barang bundanya. Dan berjalan ke arah Bunda. Ini yang Ali takutkan bila bundanya meminta bertemu dengan ayah, yang ternyata sudah berbeda alam. Dan kebohongan mereka akan membuat bunda kecewa, serta menangisi kepergian Ayahnya.
Selama satu minggu ini Bundanya tersenyum, tertawa dan senang melihat anak-anaknya ada di dekatnya berkumpul bersama. Tapi bunda juga tak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya tak berjumpa Ayah, walaupun berkali-kali ke tiga anaknya berbohong dan menutupi semuanya hanya demi kesembuhan sang Bunda.
" Bunda ingin ketemu Ayah?" Ulang Lintang.
Sambil mengangguk." Bunda kangen ayah, ingin lihat keadaan Ayah kamu juga."
Pintu kamar terbuka, Abbas datang dengan berkas kepulangan Bundanya.
" Sudah semua Mas?" Tanya Ali.
" Sudah, semuanya juga sudah di bayar sama orang itu." Jawab Abbas, membuat Ali mengangguk paham.
Siapa orang yang sudah membayar semua pengobatan dan ruang inap vvip bundanya. Dan dia, kepercayaan orang dari si penabrak mobil ayahnya.
" Bunda sudah siap pulang." Kata Abbas.
" Iya, sudah. Ayo, bunda pengen ketemu ayah." Jawab Bunda Saskia, yang sudah duduk di kursi roda di bantu Lintang.
Abbas menatap Lintang yang hanya memberi isyarat anggukan kepala, sebagai tanda sudah waktunya sang ibu mengetahui keberadaan suaminya.
" Mas Abbas." Lirih Ali, membuat Abbas menoleh.
" Sudah waktunya Li." Kata Abbas.
Ali menghembuskan nafas berat, ia tak sanggup bila Bundanya akan menangis dan marah pada mereka yang telah berbohong menutupi kematian ayahnya.
Tak semuanya bisa di sembunyikan lagi, karena waktu telah tiba dan bunda harus tau kenyataan di tinggal sang suami untuk selama-lamanya.
Abbas dan Ali berjalan di belakang Lintang yang mendorong kursi roda bunda menuju lift.
" Ayah kalian di rawat di ruang mana?" Tanya Bunda Saskia.
Tak ada yang bisa menjawab, semuanya diam membisu hingga membuat Saskia kembali mengulangi perkataannya.
" Abbas?" Panggil Bunda Saskia. Yang sudah masuk ke dalam lift dan melihat Abbas memencet tombol satu menuju lobby.
" Hhmm."
" Ruangan Ayah di bawah Mas." Tanyanya.
" Ayah sudah pulang." Jawab Lintang, bukan Abbas yang bingung harus menjawab apa.
" Nanti Bunda tanya Ayah sendiri ya." Membuat Ali dan Abbas terdiam, tak sanggup bila harus melihat bundanya menangis.
" Ih.. main rahasia-rahasian sama bunda nich!" Herannya dengan senyum, meskipun hati merasa berdebar.
" Ayah kalian sama siapa di rumah?" Tanyanya. berhenti di lobby, menunggu Abbas yang sedang mengambil mobil di parkiran.
" Ada banyak teman di sana."
" Teman?" Sambil mengerutkan kening mendengar jawaban Lintang. " Siapa?" Imbuhnya.
Tak ada jawaban, saat mobil Abbas sudah berhenti di depan Lobby. Abbas menuntun Bundanya untuk masuk ke dalam mobil, sedangkan Lintang dan Ali memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.
" Mbak?" Lirih Ali, tak habis pikir kakak perempuannya ini menjawab pertanyaan Bundanya. Yang bisa membuatnya kadang sedih, heran atau bisa melucu.
Sungguh, Ajaib sekali.
" Hhmm." Menutup bagasi mobil hitam.
" Memang ada teman ayah di kubur di sana." Lirih Ali.
Lintang hanya mengangkat bahu tanda tak tau juga, sebenar ia bingungnya harus menjawab apa, bibirnya begitu saja berucap. Tidak menjawab pun juga bundanya pasti akan bertanya-tanya terus menerus. Gelisah dan juga merasa bersalah menjadi satu dalam diri lintang.
Dalam perjalanan terasa sangat sunyi, ingin rasanya Abbas berlama-lama mengendarai menuju tempat di mana Ayah tirinya di makamkan. Ali pun sama, hati tak tenang melihat Bundanya yang mulai diam menatap jalanan. Dan Lintang, masih tetap tenang meskipun hatinya sama dengan ke dua adiknya.
" Ini.. Bukan jalan ke rumah Mas." Ucap Saskia, memperhatikan jalan bukan menuju jalan rumahnya.
" Kita mau kemana?" Tanyanya lagi, memperhatikan dua anak lelakinya yang diam membisu dan menatap Lintang yang menatapnya dengan diam.
" Mbak?" Panggil Saskia, dengan jantung yang mulai berdebar.
Tepat mobil berhenti di depan pemakanan, membuat Saskia semakin gelisah dan pikirannya sudah tak menentu. Hingga dirinya terkejut saat mendengar sang putri berucap dengan genggaman tangan begitu erat.
" Di sini... Tempat ayah tinggal sekarang Bunda, Tujuh hari yang lalu, meninggal di tempat kejadian."
Tentu, siapa yang tak syock mendengarnya. Hati mana yang kuat mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan dari anaknya.
Di tinggal pergi suaminya untuk selama-lamanya. Tanpa ia tahu bagaimana jasadnya.
Tak perlu lagi menanyakan, semua apa yang di katakan Lintang jelas tanpa harus mengulang kembali. Tapi, kenapa? Kenapa tiga anaknya harus menyembunyikan tentang kematian ayahnya selama ini?
Ali tertunduk meangis, Abbas tak berani menatap bundanya dan Lintang dengan pembawaan yang tenang sekali menatap sang Bunda sudah berurai air mata.
Sungguh, tak ada air mata kesedihan di mata Lintang.
" Kalian berbohong?"
" Bunda mau lihat makam ayah?" Sela Lintang.
Saskia terdiam, kaki terasa lemas untuk melangkah kepemakaman. Semua itu pasti tak mungkin, suaminya masih hidup. Tidak mungkin suaminya meninggalkannya, Ya.. Anak-anaknya pasti berbohong. Ia akan memastikan sendiri.
" Iya, bunda ingin lihat." Jawabnya, membuat ke dua anak lelakinya menoleh ke arah bunda dan kakaknya.
Apa bundanya akan sanggup?
Lintang mengangguk, menyetujui apa yang di jawab bundanya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan kebenaran yang harus di ketahui istri Ayahnya.