
" Gila ya.. kenapa aku punya teman baru bisa kayak si Yolla ini sih! Aku gak nyangka banget sumpah!" Kesal Riska, mondar mandir sana sini di hadapan Lintang dan Yolla yang sama-sama sedang menikmati nikotin sambil menatap Riska yang mendumel dari kantin hingga ke rofftop tanpa berhenti.
Hanya saja dua wanita ini sedikit berbeda, Yolla suka menghisap rokok Listrik dengan varian rasa, sedangkan Lintang masih dengan sebatang rokok berwarna putih sejak dulu.
Riska tidak menyangka saja, anak baru seperti orang yang pendiam ternyata penikmat nikotin. Gilanya lagi Yolla senang mendapat teman seperti Lintang. Yang ternyata suka dengan kebebasan dan tidak mempedulikan omongan orang.
" Diam kenapa Ris, kayak cacing kepanasan tau gak!" gerutu Yolla.
" Hih..!" Gemas Riska, duduk di hadapan dua temannya yang kini sudah tidak lagi merokok.
" Sejak kapan kamu merokok Lin?" Tanya Riska.
" Dari SMA." Jawab Lintang.
" Waoww!" Gumam Yolla, takjub dengan keberanian Lintang merokok di saat masih sekolah.
" Suka minum alkohol juga?" Telisik Riska, membuat Lintang menatapnya dengan senyum.
" Kau juga suka minum!" Tuding Yolla, melirik sebal ke arah temannya ini.
Mengintograsi seperti seorang guru. Padahal Riska juga seorang wanita yang suka ke club malam, meskipun tidak suka dengan rokok. tetap saja kan, dia juga gadis nakal.
Riska tentu melototkan mata pada Yolla. Temannya ini begitu saja mengatakan keburukannya pada Lintang. Padahal citranya ingin menjadi gadis baik, tapi tetap saja tidak bisa.
Lintang menggeleng, tersenyum tipis." Belum pernah." Jawabnya, membuat dua teman barunya memicingkan mata.
" Seriously!" Telisik Riska.
" Ya." Singkat Lintang.
Memang ia pecandu rokok. Tapi tidak dengan menyentuh minuman bir. Ia juga pernah sekali masuk ke tempat club saat berada di luar negeri bersama teman-teman kantornya dan itu membuatnya pusing bukan tenang. Bukan sok alim, tapi lebih tepatnya ia tidak suka dengan kebisingan. Apa lagi tempat club itu penuh dengan keramaian, orang-orang berjoget, bau asap menjadi satu dengan bau bir.
Sungguh.. Itu sangat menyesakkan.
Bukan tipe Lintang sekali.
" Lebih baik kamu jauhi yang namanya club malam atau bar. Dan jangan pernah masuk ke sana sendiri!" Peringatan Yolla, melarang Lintang untuk tidak ke tempat hiburan malam.
Meskipun ia wanita nakal, tapi ia tak pernah menjerumuskan temannya untuk mengikuti jejaknya.
Kecuali dia yang minta sendiri.
" Ya, sebaiknya begitu. Jauhi yang namanya club dan bar." Tambah Riska.
Ia juga setuju dengan perkataan Yolla, Meskipun mereka sama-sama nakal. Mereka tidak akan pernah menjerumuskan orang yang baru di kenal masuk ke dalam bar atau club.
Apa lagi wanita seperti Lintang, wanita perokok tapi tak pernah meminum alkohol dan pembawaannya begitu tenang, bukan wanita bar-bar seperti dirinya atau Yolla.
Melihat jam di pergelangan tangannya, Lintang hanya mengangguk saja.
" Aku sudah selesai, ayo kembali." Ajak Lintang, membuat ke duanya mengangguk bersamaan. Meninggalkan tempat rooftop untuk kembali memulai pekerjaannya.
" Hhmm.. Iya."
" Ini mau pulang."
" Bunda sudah makan?"
" Jangan telat makan."
" Lagi apa?" Berada di dalam lift sambil menerima telpon Bunda sore hari menjelang pulang dari kantor, tidak peduli bila ada yang mendengarnya. Termasuk Riska dan Yolla, yang meliriknya.
Mendapat telpon dari bunda tidak pernah lintang abaikan. Ia akan menjawab, meskipun itu dengan berjalan bersama teman. Lintang tau, bunda kesepian, karena kesibukan anak-anaknya sekarang.
Keluar dari lift, lintang masih mendengarkan ucapan bunda yang mengeluhkan Ali sibuk dengan kuliahnya. Hanya melambaikan tangan membalas ucapan Riska dan Yolla yang berpamitan pulang lebih dulu. Sedangkan dirinya memilih duduk di depan resepsionis, untuk mengambil ponsel satunya di dalam tas. Tanpa mengalihkan ponselnya di telinga.
Ya, Lintang mempunyai dua ponsel. Satu untuk kepentingan pribadi dan ponsel satunya untuk dirinya bekerja menulis di waktu senggang saja.
Lintang masih aktif menulis online, membuat cerita meskipun ia jarang sekali mengupdate. Setelah selesai memesan ojek onlie dan setia mendengarkan tlp bundanya sambil sekali-kali menjawab. Lintang berdiri, ingin menunggu ojek online di lobby.
Tapi karena ia terlalu fokus dengan ponsel, lintang tidak sengaja menabrak tubuh seseorang hingga membuat ponsel untuk menulisnya jatuh di lantai.
Sempat saling menatap. Hingga lintang terlebih dulu mengakhirinya.
" Maaf." Ucap Lintang, sedikit menunduk sebelum mengambil ponsel yang terjatuh tepat di depan sepatu fantovel hitam mengkilap.Tapi kalah cepat dengan lelaki itu yang sudah mengambil ponselnya dan mengulurkan tangan di hadapannya.
" Hati-hati." Ucap lelaki itu.
" Hhmm,.. Iya. Terima kasih." Ucap Lintang, mengambil ponsel di tangan lelaki itu. " Selaki lagi maaf." Imbuhnya, dan melangkah pergi menuju lobby.
Lelaki itu hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala menatap kepergian lintang. Tanpa harus menunggu dirinya terlebih dulu. Bila bawahannya memberi hormat, berbeda dengan wanita ini. Dia seperti tidak mempedulikan status dan kedudukanya. Apa lagi tatapan dia padanya biasa-biasa saja.
Lelaki itu kembali berjalan menuju mobil hitam di depan lobby yang sudah menunggunya di sana. Tidak sengaja matanya melihat gadis yang menabraknya sedang memakai helm dari ojek online.
Tampilannya sangat sederhana, sehari bekerja pun tetap wajahnya tidak terlihat kusam.
Menggelengkan kepala, ia pun masuk ke dalam mobil. Entah kenapa karyawan baru itu bisa mencuri perhatiannya, saat awal melihatnya di kantin bersama dua karyawan lama. Apa lagi yang dia dengar saat mengatakan 'Smoking' dan tanpa rasa malu dia mengangguk. Sungguh, wanita yang tak jail menunjukkan sikap aslinya pada siapapun meskipun dia baru bekerja di sini.
****
Entah untuk ke berapa kali Lintang menerima telpon dan vidio call di jam pulang kerja begini.
Menerima telpon dari bunda setelah selesai kerja. Menerima vidio call dari Yasmin sahabatnya yang cerewetnya seperti ibu-ibu karena belum juga memberitahu Bimo dan Galuh bila sudah kembali ke negaranya. Mendapat pesan dari Adik manjanya Ali, yang menanyakan tentang apa dirinya sekarang. Dan belum lagi dari dua teman barunya di tempat kerja yang hanya memberitahu bila itu nomer yang harus di simpannya. Rasanya ponsel pribadinya ini sedikit sibuk selesai pulang kerja.
Lintang yang merasa lapar ingin mencoba mencari makan malam, tapi ia lupa bila dirinya belum membeli motor untuknya kemana-mana. Jam juga masih menunjuk di angka tujuh, ia pun juga belum mengisi stok makan dan minuman di dalam kulkas.
Lagi-lagi ia harus memesan ojek, untuk mengantarkannya ke tempat swalayan terkdekat.
Membeli beberapa sayuran, bumbu dapur, ikan dan daging serta beberapa cemilan dan minuman kafein kesukaan Lintang. Entah kapan, Lintang suka mengkonsumsi kafein. Sambil terus mendorong trolly dan melihat-lihat etalase rak, tanpa sengaja kembali ia menabrak trolly orang hingga membuatnya sedikit terkejut.
" Maaf." Ucap Lintang, dan sedikit terkejut melihat siapa orang yang di tabraknya.