
Ini untuk pertama kalinya Abbas keluar dengan Lintang setelah beberapa tahun tak pernah bertemu. Dulu mereka hanya sering pulang berangkat sekolah bersama, tapi dengan kesibukan dan Lintang mempunyai teman lelaki yang selalu mengantar jemput Lintang akhirnya tak ada lagi drama berangakat dan jemput sekolah.
Abbas merindukan masa itu.
Jelas ia senang mempunyai kakak perempuan yang bisa membuatnya tertawa dan sebal sendiri. Sering menjaili Lintang dulu hingga Bunda memarahinya karena Lintang mengadu pada Bunda.
Menjadi sandaran saat Lintang menangis juga pernah. Saling berbagi cerita juga pernah. Tapi seiringnya jalan menuju dewasa dan jarang berkomunikasi karena kesibukan akhirnya sedikit menjadi jauh juga dengan sang kakak tiri.
Di siang hari Lintang dan Abbas akan membeli perabotan dalam rumah. Ingin membuat kakak tirinya nyaman dengan kontrakan barunya. di tempat swalayan besar mereka memilih perabotan rumah lengkap dan cepat pengirimannya.
Dua tempat tidur berukuran sedang, sofa dengan meja kaca transparan, tv dan beberapa peralatan dapur. Tentu bajet yang di keluarkan pastinya lebih besar dari uang kontrakan rumah.
Memang tak masalah bagi Abbas, tapi itu sangat masalah bagi Lintang. Karena sebagian peralatan rumah kontrakan itu pemberian dari Abbas. Karena Abbas tak ingin kakaknya memiliki kekurangan di dalam rumah.
" Ngapain beli kasur dua sih Bas! Satu saja cukup kan?"
" Dua lah mbak.. Nanti kalau bunda dan Ali ingin main, nginap di rumah mbak, memangnya mau di tidurkan di mana? Bertiga tidur di kamar mbak.. Mana cukup kasurnya." Jelas Abbas panjang lebar. Membut Lintang berdecak saja mendengarnya.
Abbas tak pernah keberatan membelikan barang perabotan untuk Lintang. secara Lintang adalah kakak tirinya yang baik dan penyayang. Royal dengan bunda dan juga Ali. Membalas kebaikan sang kakak tiri apa salahnya. Meskipun sudah tak ada ayah Lintang, persaudaraan antara Abbas dan Lintang masih tetap berlanjut. Tidak ada kata terpisah walaupun semua kerabat bunda tidak setuju mendengarnya.
Yang menjalani kehidupan adalah Abbas, jadi apa yang abbas putuskan itulah yang akan abbas lakukan. Toh.. Lintang tak pernah merugikan keluarganya. Justru Lintang anak tersayang Bunda dan kakak yang di cintai dua adiknya.
" Sudah mau sore, kita cari makan dulu Bas dari tadi siang kita belum makan." Kata Lintang.
Terlalu asyik mencari barang keperluan rumah hingga tak tau hari sudah mulai sore dan melupakan makan siang.
Abbas mengangguk, berjalan menuju restoran dalam swalayan. Sepertinya Abbas dan Lintang menikmati jalan bersama, hingga seseorang dari belakang berteriak memanggil nama Lintang.
Lintang dan Abbas menoleh ke sumber suara, sempat abbas memicingkan mata sedangkam Lintang tentu sedikit terkejut dan tersenyum lebar saat orang itu berjalan cepat ke arahnya.
" Lintang!" Sapanya, membuat Lintang mengangguk tersenyum lebar.
" Oh, ya Tuhan!" Serunya dan memeluk lintang dengan erat.
" Kamu sudah pulang? Kapan? Kenapa gak bilang-bilang sih Lin!" Cecarnya dengan mata yang berembun dan bibir menekuk kebawah setelah melepas pelukan.
" Sorry." Kata Lintang.
" Kamu udah ngelupain aku! Tega bangey sih kamu Lin!" Setengah drama, dan meneteskan air mata.
Lintang mengusap air mata yang menurun di pipi perempuan itu, sambil menggenggam tangannya erat.
" Aku gak bakalan ngelupain sahabat aku yang masih cantik ini... Yasmin alana putri!" Kata Lintang, membuat wanita itu tersenyum.
Ya, siapa lagi yang memanggil namanya dengan berteriak tanpa malu itu, bila bukan sahabatnya.
Yasmin, ya.. sahabat Wanita satu-satunya bernama Yasmin hingga sekarang dan sudah mempunyai anak dua. Wajah masih cantik hanya body yang sedikit berisi dan terlihat sexy.
" Aku kangen!" Ucap Yasmin.
" Sama, aku juga kangen kamu." Kata Lintang.
Melirik ke arah Abbas, membuat Lintang menggeleng tersenyum. Tau apa yang ada di pikiran Yasmin saat ini.
" Abbas?" Ulang Yasmin, Lintang mengangguk.
" Ya ampun.. Dia tinggi banget sekarang, tambah ganteng anaknya bunda." Puji Yasmin, membuat Abbas hanya bisa tersenyum, Sedangkan Lintang tertawa kecil.
Entah kenapa sahabatnya satu ini sekarang sangat mirip sekali seorang ibu. Sedikit cerewet dan omongan tak perlu di rem lagi.
" Sayang?" Panggil lelaki sambil menggendong anak perempuan dan laki-laki yang berjalan di sampingnya.
" Ah.. Mas. Tuh kan benar apa yang aku lihat, Nih anak sudah pulang tapi gak kasih kabar." Adu Yasmin pada suaminya.
" Kak Aiman." Sapa Lintang,
" Kamu kapan datang. Kenapa gak kasih kabar juga."
" Tiga minggu yang lalu." Jawab Lintang, mengusap kepala anak laki-laki yang sering sekali menongol saat mamanya sedang vidio call dengannya.
" Aunty." Sapa anak laki-laki itu, mencium tangan punggung Lintang sebelum memeluk sahabat mamanya.
" Kita ngobrol di sana saja." Ucap aiman, menunjuk tempat makan. Lintang mengangguk menyetujui ajakan suami istri itu untuk melepas rindu dan juga pastinya sedang mencecar tentang kedatangannya.
Tinggal dua sahabat lelakinya yang belum mengetahui kedatangan Lintang. Berharap mereka juga tak akan marah dengan dirinya, yang pulang tanpa memberi kabar.
Sungguh, bukan melupakan sahabatnya, Tapi memang kedatangannya pulang ke indonesia karana kepergian ayahnya, akibat kecelakaan di jalan tol. Selama tiga minggu itu pula, masih terasa berduka dan merawat sang Bunda yang berbaring di rumah sakit bersama dua adiknya.
Ia juga jarang sekali memegang ponsel, pekerjaan lewat email saat akan mengundurkan diri dari perusahaannya begitu menumpuk dan harus benar-benar selesai sebelum di gantikan oleh pegawai lain.
Lintang paling tak suka meninggalkan pekerjaan yang belum usai itu.
" Om teguh meninggal?" Ulang Yasmin, mendengar penjelasan sahabatnya yang pulang mendadak ke indonesia. Mendengar kabar duka sang ayah yang meninggal akibat kecelakaan.
Lintang mengangguk, tak ada menunjukkan rasa sedih atau menangis di hadapan sahabatnya ini. Wajahnya tetap datar dan tenang tanpa menggebu-gebu mengucapkan itu.
Lintang paling tak suka di kasihani, meskipun itu sahabatnya sendiri.
" Ya Tuhan, aku turut berduka lintang. Maaf aku tidak tau kalau om sudah tidak ada." Yasmin kembali merasa sedih mendengarnya.
Sebagai sahabat seharusnya ada di sisi Lintang, tapi karena ia tidak tahu itulah kenapa Yasmin berpikir Lintang pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga tak pernah mengangkat tlp atau membalas chatnya.
" Tidak apa-apa, aku juga minta maaf gak angkat dan balas chat kamu Yas."
" Enggak masalah." Balas Yasmin cepat. " Terus tante gimana kabarnya."
" Sudah baikan, sekarang hanya berdua saja sama Ali di rumah."
" Abbas?" Sambil menatap Abbas, yang asik memangku anak perempuannya. Ternyata anak perempuannya begitu saja mau menempel dengan Abbas yang baru di jumpainya.
" Aku kerja di luar kota mbak, jarang pulang ke rumah." Jawab Abbas.
Yasmin mengangguk mengerti, dari postur tubuh Abbas sudah di pastikan bila abbas pegawai kantor.