He'S Not You

He'S Not You
Bab 17



Pilihan yang tepat untuk Lintang saat ini, meminta tolong pada ob untuk mengantarkan sesuatu di ruang gm kala ia tidak ingin menjadi bahan gosip di pagi hari. Meskipun gosip itu sebenarnya sudah tersebar semalam lewat grup chat dan mendapat bahasan kembali di tempat kerja.


Berita itu cepat menyebar begitu saja, hingga Lintang merasa pusing mendengar gosip yang menurut Lintang berlebihan. Di tambah banyak karyawan wanita iri ataupun merasa mereka mulai tersaingi karena Lintang mendapatkan perlakuan manis dari seorang gm.


Bagaimana semua orang bilang itu perlakuan manis? Buktinya saat Lintang tak sadarkan diri atau tertidur di lobby, Saddam menunggunya dan meminta pada asistennya untuk membantunya menyadarkan Lintang.


Tapi tetap saja, sudah di berikan pertolongan Lintang tidak bangun hingga satu jam lamanya. Sore sudah berganti malam, masih ada beberapa karyawan yang lembur dan melihat Saddam menggendong anak baru itu menuju mobilnya.


Tentu saja kan itu gempar, di tambah lagi sang asisten tidak ikut dalam mobil Saddam. Hanya membantu saddam membawakan tas Lintang ke dalam mobil.


Apa ada hubungan di antara gm dan anak baru itu?


Mustahil. Lintang dan General Manager tidak mungkin ada hubungan. Lintang tidak pernah menunjukkan kegenitan atau mengejar Saddam seperti wanita lain. Tidak pernah juga berinteraksi di kantor. Malah seakan Lintang tidak menganggap gm itu ada, meskipun mereka selalu makan siang di tempat yang sama dan tempat duduk yang bersebelahan.


Tapi Lintang tak pernah meliriknya, tidak pernah membicarakannya dan tidak pernah pula tebar pesona di hadapan dia. Lintang biasa-biasa saja, dan Lintang tidak seperti karyawan wanita lain. Yang kecentilan bila melihat atasan tampan.


Menghembuskan asap rokok dari bibirnya, menatap langit cerah di atas rofftop bersama dua temannya yang selalu mengikutinya tanpa di minta.


" Gosip itu benyebar cepat banget ya. Aku gak nyangka kamu di gosipin sama Pak Saddam." Ucap Riska, sambil memakan stik berlapis coklat strowbery.


" Tapi ada yang bilang kalau pak saddam itu gak pernah sekhawatir ini sama bawahannya. Apa lagi sama wanita. Dan kamu... wanita pertama yang di tolong pak saddam." Imbuhnya, merasa kagum dengan Lintang yang bisa membuat seorang gm begitu peduli dan khawatir padanya.


" Kamu pakai pelet apa sih Lin! kasih tau aku." cerocosnya, hingga membuat Yolla memukul kepala Riska.


Bukannya tersinggung, Lintang malah menggeleng tersenyum mendengarnya.


" Aw.. Bangkek!" Umpat Riska, mengusap kepalanya yang sakit karena Yolla.


" Masih musim pakai pelet! Percaya begituan?" Kata Yolla.


" Percaya lah... Buktinya pak gm yang gak pernah tertarik sama bawahan. Malah sekarang dapat gosip sama Lintang anak baru." Jawab Riska.


" Pak GM cuma nolongin Lintang, riska!"


" Tapi katanya orang pak gm khawatir banget sama Lintang Yolla!" Ngotot Riska, sedikit tidak percaya bila yang di pujanya selama ini malah tertarik dengan Lintang. Ya walaupun itu tidak masalah juga baginya.


" Aku enggak pakai apa-apa Riska." Jawab Lintang sekian lama membisu menikmati seputung rokok di ke dua jarinya. Dan menatap Riska dengan tersenyum. " Dan aku, bukan wanita yang begitu saja tebar pesona pada laki-laki, meskipun itu seorang CEO." Imbuhya, menatap langit cerah, tapi tak secerah hatinya saat ini.


Apa yang di gosipkan orang dan apa yang sedang di pikirkan mereka tentang Lintang. Lintang tidak mengambil hati ataupun sakit hati. Sudah biasa bagi Lintang mendengar ucapan-ucapan yang tidak masuk akal menurutnya. Sudah biasa Lintang di gosipkan dekat dengan lelaki yang bekerja menjadi atasannya. Tapi bila di usik tentang kehidupannya, ia tidak akan terima.


Contohnya saat ia bekerja di kantornya dulu. Tapi seiringnya waktu yang beredar, itu tidaklah benar. Dan semua apa yang di katakan mereka tidak ada yang nyata. Dan lebih tepatnya bukan lintang yang mendekatinya. Tapi lelaki itu yang mengejar hati lintang dan mendekatinya lebih dulu, hingga lelaki itu benar-benar lelah dan menyerah perlahan-lahan karena tak bisa mengambil hati Lintang.


Hatinya hanya ada dia.


Sepasang anting bulan sabit dan bintang.


Menatap lama-lama, wanita yang sedang mengadahkan pandanganya ke langit. Ada keseriusan dalam wajah Lintang saat mengatakan begitu pada Riska dan Yolla. Riska merasa sedikit bersalah sedangkan Yolla menatap yakin pada wanita yang lebih dewasa dari dirinya.


Yakin bila wanita ini mahal.


" Ayo. Sudah waktunya kembali." Ajak Lintang, mengakhiri pandangannya dengan langit biru untuk kembali berkutat dengan komputernya.


Yolla menganguk semangat, Riska berdiri dengan lesu. Dan mendapatkan tepukan semangat dari Yolla.


" Tenang.. Dia tidak marah." Ucap Yolla, tersenyum mengembang merangkul Riska, berjalan di belakang Lintang sambil menatap punggung wanita yang tegar dan sabar.


Sayangnya mereka belum mengerti bagaimana marahnya orang sabar.


Di sisi lain, lelaki duduk di kursi kerjanya menghadap jendela sambil menatap jalanan lalu lalang dan memutar-mutar dompet hitam klasik di tangannya.


dirinya berpikir dompet yang ada di tangannya menghilang. Ternyata ia salah, dompet itu di kembalikan oleh seorang OB yang di suruh karyawan wanita di devisi pemasaran, yang mengatakan bila dompetnya tertinggal di meja.


Dirinya mengingat, bila dompetnya tertinggal di rumah Lintang semalam. Dan wanita itu menyuruh ob, karena dia tidak ingin mengembalikannya sendiri. Ia tahu akan ada gosip bila menemuinya. Gosip di mana ia sudah mendengar pagi tadi, di mana wanita itu di gosipkan sedang berusaha menggoda dan mendapatkan perhatian darinya dengan cara menjatuhkan ponsel yang di genggamnya saat duduk memejamkan mata di depan resepsionis.


Bila di lihat dengan jelas semalam ia menunggunya. Wajah Lintang memang sedikit pucat dan lelah.


Memang pingan, dan berakhir dengan tertidur pulas tanpa ada yang membangunkan.


Lucu bukan?


Ya, memang Saddam sengaja tidak membangunkannya. Begitu pun saat ia menggendong Lintang pelan tanpa membuatnya terusik.


Memilih menidurkan di sofa. Saddam tidak mau masuk ke dalam kamar wanita itu, tanpa persetujuan dari wanita yang tertidur pulas dalam gendongannya dan entah kenapa Saddam ingin melihat wajah Lintang yang tertidur damai meski sedikit pucat.


Bukankah itu lancang masuk ke dalam kamar orang?


Ada raut wajah tegas dan manis, hidung lancip, wajah oval dan bibir tipis. Bukan wanita periang, bukan wanita mudah senyum dan bukan wanita yang pemarah.


Bisa di lihat dari gosib yang beredar, wanita itu memilih menutup telinga. Seakan tidak menyangkal atau marah pada gosip yang tidak benar adanya. Pembawaan yang tenang dan tak mudah terprovokasi membuat Saddam tersenyum sendiri, hingga ia mulai tertarik dengan wanita bernama.


' Lintang aulia alanza." Gumam Saddam.