He'S Not You

He'S Not You
Bab 10



Sebenarnya tidak ada yang berubah, semuanya masih terlihat sama. Hanya saja rumah-rumah penduduk sebagian tidak seperti dulu. Ada sebagian penduduk memperbaiki rumah mereka dengan layak dan lebih bagus bila di lihat. Ada sebagian pula, masih terlihat sama sembilan tahun yang lalu.


Jalanan, tak pernah berubah, menuju ke rumah singgah pun masih sama. Tapi, rumah singgah itu sekarang tidak seperti dulu. rumah singgah itu berlantai dua, memiliki pagar dan ada plang putih besar dengan tulisan yang di perjuangkan Lintang untuk anak-anak singgah sebelum ia mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri.


Yayasan, rumah singgah.


Ada tiga anak kecil sedang bermain di halaman rumah. Saat Lintang membuka pagar, tiga anak itu melihat ke arahnya. Hanya melihat, tidak berani mendekat dan Lintang yang mendekatinya untuk bertanya.


" Dek, mbak mau tanya boleh?" Ucap Lintang, membuat tiga anak berusia enam tahun itu mengangguk bersamaan.


" Kak Ferdi atau Kak Tina ada gak?" Tanyanya lagi.


" Mas Ferdi gak ada, cuma ada mbak tina." Jawab anak anak lelaki.


" Minta tolong panggilkan mbak tina bisa tidak."


" Bisa?" Jawabnya cepat, berlari masuk ke dalam rumah singgah meninggalkan dua temannya yang sedang menatap Lintang.


" Sedang main apa?" Tanya Lintang. Entah kenapa ia bisa mendirikan rumah singgah itu untuk anak-anak yang di telantarkan orang tuanya atau tak mempunyai oran tua.


Seperti ia dulu, terlantar akibat perceraian ke dua orang tuanya.


Rumah singgah yang penuh perjuangan, penuh kemandirian tanpa ada yang membantunya dulu. Rumah dimana yang dulu hanya di tempati jutuh anak saja, kini malah bertambah banyak. Dan mendapatkan donatur serta bantuan dari pemerintah. Tidak perlu khawatir lagi tentang makanan yang entah kapan akan datang. Tidak perlu lagi anak-anak mengamen di pinggir jalan hingga membuatnya marah besar, dan tidak perlu lagi malu karena tidak bisa sekolah.


Kini fasilitas di rumah singgah sudah terpenuhi, dan anak-anak yang berada di rumah singgah bisa bersekolah hingga tamatan sma dengan biaya gratis dari pemerintah. Meskipun mereka tau bila akan ada yang namanya pembullyan.


" Main kelereng mbak?" Jawab anak lelaki berambut kriting.


" Yang lain mana?"


" Ada di dalam nonton tv." Jawab anak lelaki yang satunya.


Lintang mengangguk. Ya, di rumah singgah juga terdapat tv tabung berukuran sedang. Lintang tidak membiarkan anak-anak singgah merasa sedih, karena tidak bisa menonton kartun seperti anak-anak lain.


Pernah Lintang dulu tidak sengaja melihat anak singgah sedang duduk di pinggir pintu rumah orang yang ternyata anak itu sedang menonton tv kartun tanpa berani masuk ke rumah itu.


Miris, hati Lintang seperti sakit dan sedih melihatnya. Ia pun bertekat membelikan tv berukuran sedang dengan hasil uang bekerjanya sebagai penulis, untuk anak-anak singgah dulu, agar mereka tak lagi menonton di rumah orang.


Suara pagar berdecit membuat Lintang dan dua anak lelaki itu menoleh ke belakang. Empat anak remaja berpakaian sekolah menengah yang ternyata sudah pulang.


Lintang memperhatikan satu persatu wajah empat remaja itu. Dan ia tersenyum saat mengenali dua anak lelaki berpakaian sekolah sudah tumbuh dengan besar.


" Boni, Anton." Gumam Lintang, mereka yang belum menyadari kehadirannya karena sibuk berbicara dengan yang lain.


Salah satu anak remaja menyenggol lengan yang lain untuk diam saat melihat ada tamu yang datang di rumah singgah.


Tentu saja Boni dan Anton ikut menatap tamu itu. Tapi wajah itu tidaklah asing di mata Boni atau Anton. Hingga dua remaja itu terkejut tak percaya apa yang di lihatnya sekarang. Dan memekik memanggil nama wanita itu.


Boni dan Anton begitu bahagia melihat kehadiran Lintang, mereka berjalan cepat menuju ke arah Lintang yang sedang menunggu kedatangannya dan berhambur memeluk wanita yang sudah berjasa selama ini di dalam hidup mereka.


" Aku kangen mbak Lintang." Ucap Boni, menangis memeluk Lintang.


" Aku juga kangen mbak Lintang." Tambah Anton, tak mau kalah memeluk wanita berambut sebahu itu. Yang kini malah membuat Lintang tersenyum haru mendengarnya.


" Mbak juga kangen kalian, tapi ya jangan gini juga meluknya! Mbak gak bisa nafas loh!" Ucap Lintang, tak merasa marah di peluk dua remaja yang sudah di anggap sebagai adiknya.


Anton dan Boni melepaskan pelukan, masih menangis melihat Lintang ada di rumah singgah. Sudah sembilan tahun mereka tak bertemu, dan mereka masih mengingat wajah Lintang meskipun rambut yang tak lagi memanjang seperti dulu.


" Boni, Anton?" Panggil Tina, melihat dua remaja lelaki menangis di hadapan wanita berambut sebahu.


" Mbak Tina, lihat siapa yang datang?" Ucap Boni, dengan Lintang membalikkan badan menghadap Tina.


Tentu, reaksi Tina awalnya tak mengenal siapa wanita yang ada di antar Boni dan Anton. Tapi setelah di telisik dan mengingat siapa wanita itu, Mata Tina membulat sempurna terkejut kala ia tak percaya siapa di depannya sekarang.


" Mbak Lintang!" Seru Tina." Ini mbak Lintang kan?" Tanyanya lagi, untuk memastikan benar atau tidaknya wanita di hadapannya ini Lintang atau bukan.


" Iya, Tina." Jawab Lintang tersenyum lebar.


Seperti yang di lakukan Boni dan Anton, Tina begitu saja menghambur memeluk Lintang. Menangis dalam pelukan wanita yang sudah di anggap kakak dan juga malaikat baik selama hidupnya.


Bila Tina tidak bertemu dengan Lintang, mungkin hidupnya dulu tidak akan pernah seperti ini sekarang. Tina adalah anak ke dua yang di rawat oleh Lintang, sesudah ferdi.


Tina gadis pengamen jalanan hidup sebatang kara saat ibunya meninggalkan dirinya dan memilih hidup dengan suami barunya hingga ia di buang di jalanan begitu saja.


Bertemu dengan Lintang, seperti anugrah. Lintang yang dulu adalah gadis pejuang dan pemberani, gadis sekolah yang tak pernah lelah untuk memenuhi kebutuhan anak-anak singgah.


Gadis yang pernah berjuang bersama dengan anak singgah mewujudkan mimpi agar anak-anak singgah tidak terlantar dan mendapatkan bantuan dari pemerintah atau donatur.


Mengusap bahu Tina dengan lembut saat menangis dalam pelukannya. Tak pernah di bayangkan, apakah begini rasanya memendam kerinduan selama sembilan tahun tidak bertemu.


Ada rasa terharu dan bahagia, ternyata mereka masih mengingat dirinya yang tak pernah memberi kabar selama ini.


" Mbak Lintang apa kabar? Kenapa enggak pernah memberi kabar pada kami mbak? Apa mbak sudah lupa sama kami?" Ucap Tina.


" Aku baik, kamu apa kabar. Yang lain juga bagaimana kabarnya?" Tanya Lintang, mengusap basah pipi Tina.


Sebenarnya merasa bersalah, tidak pernah memberi kabar pada anak-anak singgah. Tapi ia tidak akan pernah lupa untuk bertanya anak-anak singgah pada sahabat-sahabatnya yang juga masih setia menjadi donatur di rumah singgah.


Belum Tina menjawab, suara motor tossa berhenti tepat di depan pagar. Membuat remaja lain segera membuka gerbang dengan lebar. Motor tossa itu masuk ke dalam halaman rumah singgah, Lintang tau siapa yang sedang ada di atas motor tosaa itu.


Dia anak pertama yang di tolong lintang saat di hajar oleh preman pasar.