
Melambaikan tangan pada anak-anak singgah yang mengantarkan dirinya pulang.
Tidak terasa, seharian Lintang berada di rumah singgah. Menghabiskan waktu di sana dengan tawa senang. Memeriahkan ulang tahun anak singgah dan berbagi mainan. Tak lupa, mengingat-ingat kenangan memori yang selalu di rindukan hingga sekarang.
Tak pernah tergantikan.
Terasa ringan hati Lintang setelah dari rumah singgah. Seakan hari itu ia tidak merasa kesepian. Meskipun begitu, masih ada banyak yang Lintang sesali bagi orang tua yang tak berperasaan. Menitipkan anak tanpa peduli sedihnya, tanpa peduli sakitnya dan tanpa peduli kemarahannya.
Hari ini, Lintang mendapatkan pelajaran, mendapatkan persamaan dengan masa lalunya pada anak-anak singgah. tidak bisa di pungkiri, dunia berumah tangga begitu kejam hingga anak menjadi sasaran.
" Sedang memikirkan apa?" Tanyanya sang pengemudi sopir.
Lintang menoleh. lupa bila dirinya sedang berada di mobil Saddam.
Lintang pulang bersama Saddam, menawarkan tumpangan untuknya meskipun sebenarnya lintang bisa menolak. Tapi karena kebaikan Saddam, Lintang pun akhirnya nenerima ajakan Saddam pulang bersamanya.
" Tidak ada." Jawabnya.
" Masih jam delapan. Apa bisa kamu menemani saya malam ini?" Menoleh pada Lintang, saat mobil berhenti tepat di lampu merah.
" Saya ingin makan, saya lapar." Imbuhnya.
Ah.. Lintang baru tersadar bila lelaki di sebelahnya ini melewatkan makan malam karena terlalu asyik dengan kegiatan anak-anak panti. Bukan hanya Saddam saja, dirinya juga belum sempat mengisi perutnya malam ini.
Hanya makan siang bersama dengan anak-anak dan juga Saddam. Menikmati makan sederhana yang di buatnya hingga ada yang memuji makanannya enak.
" Di mana?" Tanya Lintang, tidak ada salahnya menerima ajakan Saddam.
Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihnya pada saddam karena sudah menjadi donatur setia di yayasan rumah singgah. Dan menjadi donatur tersayang bagi anak-anak.
Bagaimana tidak sayang, Saddam selalu membawakan buah tangan untuk anak singgah. Selalu menyempatkan bermain dan juga mendengarkan cerita anak-anak kecil.
Sepedulinya itu saddan dengan Anak singgah.
Saddam tersenyum. " Suka pecel lele?"
" Apa saja suka." Jawab Lintang.
" Tidak jauh dari sini ada warung makan pecel lele. Kita makan di sana, apa kamu mau?" Tawar Saddam, takut-takut Lintang anti sekali dengan warung makan pinggir jalan.
" Hhmm, iya." Jawab Lintang.
Tidak perlu juga menawarkan makan di mana. Lintang tak pernah mempermasalahkannya, makan di manapun ia terima. Asal itu higenis dan tidak jorok. Karena yang di utamakan terlebih dulu adalah tempatnya dan baru itu rasa makanan.
Saddam tersenyum senang bisa mengajak wanita dingin ini makan malam bersamanya. Hari ini keberuntungannya, bertemu dan menghabiskan setangah hari bersama Lintang tanpa di duga di rumah singgah.
Tenda warung makan pecel lele terkenal sekali bagi orang-orang yang ingin makan di tengah malam. Bukan hanya menyediakan lele saja, tapi ada begitu banyak makanan yang tersaji di nampan berjejeran.
Tempat di pinggir jalan, banyaknya parkir mobil dan motor sedag singgah di warung makan pecel lele.
Memarkirkan mobil. Saddam dan Lintang turun, berjalan bersama dengan jarak yang begitu dekat. Dan tinggi Lintang hanya sebatas bahu Saddam.
Seperti pasangan serasi, sampai Lintang dan Saddam tidak menyadari bila warna baju yang mereka pakai sama.
Warna hitam.
Ikut mengantri, bersabar untuk memilih menu apa yang akan di pilih mereka. Mencari tempat yang pas, dan mendapatkan duduk di meja kursi yang kosong tanpa harus berlesehan di depan ruko yang sudah tutup.
" Kalau dari rumah singgah saja mampir kesini, Tapi gak pernah makan di tempat, selalu di bawa pulang." Jawab Saddam.
" Pertama?"
" Hhmm Ya. Pertama kali, dan bersama wanita." Ucapnya, membuat Lintang tersenyum tipis.
Ya, ini pertama kali saddam duduk makan di pinggir jalan. Bukan berarti ia tidak pernah membeli makanan itu. Ia selalu membeli makanan di warung itu setelah pulang dari , tapi ia tak pernah makan di tempat. Selalu Saddam membawanya pulang. Entah kenapa? ia tidak suka keramaian. Ini saja, Saddam terpaksa makan di warung ini. Karena ingin menikmati makan malam bersama Lintang berdua tanpa lagi rasa canggung.
Ingin mengenalnya lebih.
" Jangan panggil saya bapak lagi." Protes Saddam. " Atau saya akan memanggil kamu ibu." Imbuhnya, setengah mengancam Lintang. Yang hanya di tanggapi Lintang dengan senyum hingga menunjukkan gigi putihnya.
Lucu sekali. Pikir Lintang.
Pesanan Saddam dan Lintang sudah datang. Sama-sama memesan bebek goreng, dengan taburan kelapa goreng sebagai rasa gurih dan lalapan hijau sebagai pelengkap.
" Mas, boleh minta sendok dan garpu?" Ucap Saddam pada mengantar makanan.
" Oh, iya mas sebentar." Jawabnya.
Lintang mengerutkan kening, baru kali ini makan di warung pecel lele memakai sendok dan garpu yang di minta saddam pada seorang pengantar makanan.
Bukannya lebih enak makan tanpa memakai sendok? Apa lagi ini makanan yang menyajikan sambal dan lalapan hijau.
" Terima kasih." Ucap Saddam menerima sendok dan garpu pada lelaki muda.
Hanya bisa menggelengkan kepala, lucu sekali melihat lelaki di depannya ini. Tak ingin berkomentar, Lintang mulai membersihkan tangannya di wadah kecil berupa air untuk mencuci tangan.
Memicingkan mata saat Saddam mengulurkan sendok dan garpu padanya.
" Kalau makan kayak gini, lebih enak tanpa sendok." Ucap Lintang, tapi menerima sendok dari saddam dan menaruhnya di samping piring.
" Selamat makan." Ucap Lintang, memulai makan terlebih dulu tanpa menggunakan sendok.
Saddam memperhatikan Lintang yang makan tanpa menggunakan sendok.
Apa enak makan tanpa sendok?
Apa gak sakit perut, makan tanpa mencuci tangan pakai sabun?
Saddam tidak pernah makan pakai tangan. Dirinya selalu makan memakai sendok, meskipun itu makanan ada sambal atau tidak. Meskipun itu memakai kuah atau tidak. Ia selalu memakai sendok.
Masih memperhatikan Lintang bagaimana cara memakan pakai tangan dan mengambil nasi tanpa menggunakan sendok.
Unik sekali?
Tapi sungguh, Saddam tidak bisa melakukan itu. Bisa-bisa nasi yang belum masuk ke dalam mulutnya terjatuh berkali-kali di dalam piring dan pastinya ia akan emosi sendiri.
" Pakai sendok saja kalau enggak bisa." Saran Lintang. Tau kebimbangan wajah Saddam yang melihatnya lahap makan tanpa sendok.
" Iya." Jawab Saddam mengangguk.
Ya lebih baik memakai sendok. Ia tidak bisa menirukan gaya makan Lintang dan orang-orang lain di sekitarnya yang lahap menikmati makan dengan tangan.
Ada satu yang membuat Saddam senang. Lintang, memang wanita yang unik tanpa malu menunjukkan sikap dan sifat aslinya pada lelaki seperti dirinya. Dan Dia, wanita yang lemah lembut di hadapan anak kecil.