He'S Not You

He'S Not You
Bab 12



Awal pagi untuk memulai bekerja. Dengan outfit yang selalu sederhana tanpa polesan bedak di wajah Lintang, tanpa penampilan seksi di tubuhnya. dan tak pernah menguncit rambutnya di atas bahu. Selalu kemeja dan celana bahan kulot yang ia pakai. Begitu nyaman saat ia melakukan aktivitas.


Mendapat penempatan di bidang yang sudah ia kuasai tidaklah begitu sulit, meskipun ia harus bertanya terlebih dulu pada karyawan lain yang sudah lama berada di devisi yang sama. Sedikit bersyukur di sebelah kubikel Lintang mau membantu dan menerangkan tentang pekerjaan barunya. Wanita yang usianya lebih muda darinya. Begitu banyak pekerjaan di mejanya yang menumpuk.


Menjadi anak baru bukan berarti ia harus menurut dengan seniornya. Lintang orang yang tidak suka di perintah begitu saja tanpa alasan.


" Sudah, istirahat dulu. Nanti di kerjakan lagi." Ucap gadis di sebelah kubikel lintang menyembulkan kepala untuk menatap Lintang yang masih fokus dengan komputernya.


" Hhmm.. Iya." Jawab Lintang.


" Nama kamu siapa? Aku sampai lupa belum kenalan sama mbak." Tanyanya lagi.


" Lintang. Kamu?" Tanya balik Lintang memutar kursi untuk menatap gadis berponi, yang setengah hari ini membantunya tanpa di minta.


Mengulurkan tangan dengan senyum mengembang, membuat Lintang membalas senyuman dan menjabat tangannya.


" Riska. Salam kenal." Ucap Riska.


Gadis yang ceria, pikir Lintang.


" Ayo ke kantin, sebagai salam perkenalan kamu yang harus traktir!" Imbuh Riska, membuat Lintang tertawa kecil sambil menggelengkan kepala mendengarnya.


" Sudah aku bantu loh! Masak gak-,"


" Iya.. Ayo." Potong Lintang, mengambil dompet kecil dan ponselnya di dalam tas.


" Yes!" Pekik Riska senang, hingga mengadu kesakitan saat mendapat tabokan di bahunya.


" Kau ya! Anak baru mau kamu peras! Yang benar saja." Seru wanita berambut panjang di kuncit kuda tanpa poni, berkacak pinggang menatap Riska


Riska berdecak, menatap sebal satu temannya yang menghampiri dirinya di ruanganya. " Hih.. Sirik loh! Bilang saja kalau kamu juga mau."


" Kenalin nih Lin! Anak monyet, Yolla. ada di ruang sebelah." Imbuhnya, mengenalkan temannya pada Lintang.


" Anj*ng!" Umpat Yolla, membuat Lintang tertawa kecil mendengar perdebatan dan umpatan dari dua orang yang baru di kenal Lintang.


" Yolla." Ucap Yolla.


" Lintang." Jawabnya.


" Udah aya.. aku lapar. Nanti saja ngobrol-ngobrolnya di kantin." Kata Riska.


Berjalan bersamaan menuju lift khusus karyawan yang tidak lagi mengantri seperti awal jam istirahat. Kantin yang berada di lantai lima, dengan ruangan mereka yang berada di lantai delapan. menawarkan berbagai menu macam makanan pilihan berganti-ganti agar para karyawan tidak merasa bosan.


Lintang bersama dua orang yang baru di kenalnya, mengikuti bagaimana mereka mengantri memilih makanan yang sudah tersaji di atas meja kichen.


Sebagian dari mereka memang menyukai makanan kantin, dan sebagian orang juga memilih makan di luar kantor bila bosan dengan menu-menu itu saja.


Selesai memilih dan membayar, Lintang dan dua gadis itu memilih duduk di dekat jendela dengan pemandangan kendaran.


" Sebelumnya pernah kerja di mana?" Tanya Yolla, menyeruput minuman berwarna orange.


" Singapura." jawab Lintang.


" Jadi tkw?" Sela Riska.


" Tidak, kerja di perusahaan asing."


" Bidang apa?"


" Sama kayak yang aku jalani sekarang."


" Oh!" Mengangguk angguk mengerti.


Belum Lintang menjawab, Riska begitu heboh melihat kehadiran lelaki tampan yang di gandrungi para karyawan wanita.


" Oh my good Yolla! Pak Saddam ada di sini!" Seru Riska, menatap kagum ke arah lelaki itu sedang memilih makan bersama asistennya.


Yolla dan Lintang mengikuti pandangan Riska. Yolla hanya menggelengkan kepala, sedangkan Lintang hanya menatap datar dan kembali dengan makan siangnya.


Mana peduli Lintang seperti itu? Memuja seorang pria? Bukan sifat Lintang.


" Pak Saddam itu general manager kita." Terang Yolla pada Lintang.


" Dan lelaki tampan yang banyak di sukai para wanita di sini." Tambah Riska.


" Termasuk kamu!" Ejek Yolla.


" Mata kamu saja katarak, orang ganteng seperti itu kamu bilang jelek." Sungut Riska, selalu tidak terima bila general manager yang tampan di bilang jelek oleh Yolla.


" Dia tampan kan Lin?" Tanya Riska pada Lintang, yang sudah selesai dengan makan siangnya dan membuka ponsel kala melihat ada pesan masuk.


" Hhmm, iya." Jawab lintang sekenanya, Karena ia sedang membalas pesan dari Abbas tanpa mau berdebat dengan gadis berponi ini. Yang mungkin memang fans sang manajer.


" Tuh kan! Lintang saja mengakui kalau Pak Saddam tampan. Jadi mata kamu saja yang memang buta kegantengan." Sambil menjulurkan lidah pada Yolla.


Yolla hanya berdecak, memilih melanjutkan makan siangnya dari pada mengurusi Riska yang terlalu memuja manajer tampan itu. Padahal menurutnya ya.. Lumayan.


Entah itu keberuntungan atau memang tidak ada tempat lagi, manager dan asistennya duduk tepat di meja bersebelahan dengan Riska. Riska yang melihat itu langsung menendang kaki Yolla untuk melihatnya.


Menatap Riska dan menoleh untuk melihat apa yang Riska kodekan. Ikut tersenyum saat sang manager tersenyum menyapa mereka, tapi tidak dengan Lintang yang masih fokus dengan ponsel di tangannya tanpa mempedulikan apa yang ada di sampingnya.


" Ada area terbuka gak di sini" Tanya Lintang, selesai membalas pesan Abbas.


" Rofftop, di atas." Jawab Yolla. " Kenapa?" Tanyanya lagi.


" Smoking."


" What!!" Pekik Riska, membuat manajer dan asistennya sedikit terkejut.


" Kamu ngerokok lin!" Tanyanya begitu keras. Yolla yang malu langsung menginjak kaki Riska dan melototkan mata serta mengode untuk melihat ke sebelah meja.


Apa yang salah? Pikir Lintang.


Semenjak sekolah menengah Lintang sudah menghirup nikotin, sempat berhenti saat di minta oleh lelaki yang meninggalkannya dan kembali menikmati nikotin kala ia merasa strees.


Bukan yang tabu menurut Lintang. Hidup di negara bebas dan kota yang besar pasti sebagian wanita juga ada yang penikmat nikotin dan juga menikmat bir. Menurutnya biasa saja, tapi tidak tau menurut orang. Yang pastinya akan menganggapnya sebagai gadis nakal.


Sudah biasa bagi Lintang.


" Maaf pak?" Ucap Riska dan Yolla, pada manager serta asisten perempuan yang menatap ke arahhnya. Hanya Lintang lah yang mengangguk dan tersenyum tipis.


" Iya, tidak apa-apa." Jawab Saddam, kembali menikmati makan siang.


" Ayo, ikut aku." Ajak Yolla, Lintang menurut dan berdiri mengikuti Yolla.


" Tunggu, Aku ikut." Riska mengikuti mereka, meski sebenarnya kesal sekali karena tidak bisa berlama-lama mencuri pandang manajer tampan itu.


Diam-diam, Saddam memperhatikan Lintang berjalan di belakang Yolla. Wanita yang tidak pernah ia lihat di kantor ini. Dan penampilan sederhana tanpa make up serta lipstik.


Menarik.


" Apa dia karyawan baru?" Tanya Saddam pada asistennya.


" Iya pak, dia baru bekerja hari ini. Bagian marketing." Jawab Asistennya. Membuat dia mengangguk-anggukan kepala.