
" Beneran kalian tidak ada apa-apa?" Selidik Yasmin, mengintograsi Lintang di toilet bermodus ingin buang iar kecil sambil mengajak Lintang.
Sungguh Yasmin penasaran, tak begitu percaya bila hanya sekedar atasan dan bawahan saja. Secara Lintang tidak pernah berjalan bersama dengan lelaki berdua begitu saja, kecuali dulu, bersama kakak kelasnya yang bernama Satya.
Jangankan di negaranya, di luar negeri selama sembilan tahun Lintang juga tak pernah berjalan berdua dengan lelaki, bila bukan itu tentang pekerjaan penting saja. Dan Lintang memang sulit di ajak kencan atau jalan bersama seorang lelaki. Entahlah dengan Saddam ini Lintang begitu saja mau berjalan bersama, mau menjalin kasih walau hanya sebuah tantangan bagi Saddam.
" Iya, dia cuma atasanku di kantor saja Yas." Jawabnya. " Kami tidak ada apa-apa." Imbuhnya, membersihkan tangannya di wastafel.
" Tapi kenapa kok kalian ada di swalayan. Belanja bersama lagi. Dan itu pasti belanjaan kamu kan? Hayo... ngaku!"
Di tanya seperti itu sulit sekali untuk mencari jawaban yang pas. Apa lagi sahabatnya ini pasti juga sudah tau jujur dan kebohongan dalam dirinya.
Menghembuskan nafas panjang, menatap sahabatnya. " Penasaran?"
" Iya lah! Secara sahabatku gak pernah jalan sama cowok, kecuali kak Sat..."
Terputus, tak ingin melanjutkan ucapannya saat akan menyebut nama Satya di hadapan Lintang. Yang pastinya wajah Lintang akan berubah sendu bila mengingat nama itu.
Lintang hanya bisa tersenyum tipis, bagaimana pun memang benar apa yang di katakan Yasmin.
Tak pernah jalan dengan lelaki, kecuali Satya.
Kenangan bersama Satya hanya sahabat dan orang-orang di sekitarnya saja yang tau. Bersama Satya, Lintang bisa tertawa lepas bisa tersenyum, bercanda gurau dan tak ada lagi sedih di wajah Lintang.
Dan perubahan kembalinya Lintang menjadi wanita pendiam dan dingin pada lelaki, saat Satya pergi dari sisi Lintang dan tak lagi kecerian dalam hidup sahabatnya.
Berusaha baik-baik saja. Nyatanya itu tak mudah bagi Lintang. Dan perubahan Lintang membaut sahabat serta keluarganya ikut menjadi sedih, dan tak ada lagi menyebut nama Satya di hadapan Lintang sampai saat ini.
" Maaf Lin?" Lirih Yasmin, merasa bersalah menyebut nama Satya.
Lintang tersenyum, sahabatnya tak sengaja menyebut nama Satya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun lamanya.
" Udah ayo keluar, Pak Saddam sama kak Aiman sudah menunggu kita." Ajak Lintang, menyudahi penyelidikan Yasmin.
Yasmin mengangguk, masih tak enak hati dengan Lintang dan jujur, ia juga masih penasaran ada hubungan apa Lintang dengan atasannya.
Bersyukur Yasmin tak lagi bertanya tentang Saddam, itu juga karena Yasmin telah kelepasan mengucapkan Nama Satya. Bila nama Satya tak keluar dari bibir Yasmin, mungkn Lintang masih akan mendapat cecaram bertubi-tubi dari Yasmin.
Menuju meja restoran yang sudah terisi Saddam dan Aiman. Saddam yang memangku anak kecil, sambil berbicara dengan Aiman. Terlihat sudah waktunya, lelaki itu pantas menggendong anak kecil.
Anak kecil memang tak bisa berbohong, terbukti anak Yasmin dan Aiman sudah mulai melekat pada Saddam walau hanya sekali bertemu. Atau juga karena Saddam tampan, hingga itu anak perempuan Yasmin mau di gendong Saddam.
Ah.. memang anak Yasmin!
Duduk di samping Saddam, Lintang menoel pipi anak Yasmin dengan gemas hingga membuat anak gimbul tertawa.
" Mirip banget sama mamanya?" Cicit Lintang. Membuat Yasmin berdecak.
" Udah tau sama om-om tampan. Makanya mau di gendong." Timpal Yasmin, kini Lintang dan Saddam tertawa kecil mendengarnya.
" Ya cuma bahas pekerjaan saja sayang." Jawab Aiman. " Memangnya kenapa?" Imbuhnya.
" Kamu gak tanya ada hubungan apa gitu sayang Pak Saddam sama Lintang?" Bisikny lagi, masih memperhatikan interaksi Lintang dengan atasannya.
" Tidak." Jawabnya, dan menarik hidung istrinya mulai dengan kekepoannya pada sahabatnya sendiri.
" Ih.. Sakit sayang!" Seru Yasmin, memukul lengan Aiman dan mendapatkan perhatian sepasang mata di hadapannya.
Lintang hanya bisa menggelengkan kepala tersenyum, sahabatnya selain cerewet dia juga sangat manja pada suaminya. Kemanjaan itu selalu ia lihat sepuluh tahun yang lalu dan tak akan pernah hilang pada diri Yasmin hingga sekarang meskipun sudah mempunyai anak dua.
Dan sepuluh tahun lamanya menikah, Suami Yasmin pun tak pernah bosan memanjakan istrinya. Tak pernah Lintang mendengar percecokan yang lebih fatal dari rumah tangga Sahabatnya itu, kecuali mengeluh tentang anak-anak saja yang terkadang membuatnya sampai pusing.
Bisakah ia manja seperti Yasmin? Ah... rasanya tak akan bisa, membayangkan dirinya seperti tingkah Yasmin. Lintang tak tahu, bagaimana caranya bermanja. Romantis saja terkadang ia tak sengaja mengucapkannya dan itu pertama kali ia ucapkan pada Saddam.
" Sepertinya kamu harus belajar sama sahabat kamu? Bagaimana cara wanita bermanja." Bisik Saddam, membuat Lintang menaikkan alis.
" Saya suka kalau kamu manja sama saya." Imbuhnya, dan menggoda putri Yasmin dalam pangkuannya. Tanpa menatap Lintang yang sudah tersenyum lebar mendengarnya.
Baru saja ia membantin dan menghayalkan dirinya mencoba manja seperti Yasmin. Rasanya sangat-sangat menggelikan sekali, dan itu bukan sifat Lintang.
Tapi.. Ya, boleh saja kalau ia mencobanya. Walaupun nanti pasti akan kaku dan geli sendiri melihat tingkahnya seperti Yasmin.
Pelayan datang, membawa pesanan yang sudah di pesan di meja Lintang.
" Sini dek, ayo sama Mama. Om biar makan dulu." Ucap Yasmin, merentangkan dua tangan untuk mengambil Putrinya dari pangkuan Saddam. Agar atasannya Lintang bisa makan dalam tanpa di ganggu putrinya.
Bukannya berpindah pangkuan, justru putri Yasmin enggan bersama mamanya. Ia sudah nyaman dengan Saddam menggelengkan kepala.
Saddam dan Lintang tertawa melihatnya.
" Loh.. Kok gak mau sih! Kasihan omnya dek." bujuknya sekali lagi, dan masih tetap dengan gelengan kepala. " Ya ampun sayang! Lihat putri kamu ini?" Adunya pada Aiman.
" Enggak apa-apa, kalian makan saja dulu. Jangan di paksa, Biar si cantik ini sama saya." Ucap Saddam tertawa kecil, melihat tingkah putri sabahat Lintang menggelayut manja di pangkuannya.
" Eh?" Tak enak Yasmin.
" Ini mah sebelas dua belas sama kayak ibunya. Manja sekali?" Timpal Lintang, menoel pipi gembul gemas.
Berdecak. " Kalau mirip tantenya pasti kayak ini, datar banget!" Mengacak rambut putranya, dan setengah membandingkan kemiripan Lintang dengan putra pertamanya.
Yang di sindir hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum saja. Tak menyangkal memang dirinya tidak bisa manja seperti wanita lain.
Saddam juga memaklumi dengan sifat Lintang, mendekatinya pun juga maju mundur hingga keajaiban selalu datang sendiri mempertemukan Lintang secara berulang kali.
Menjadi selingkuhan Lintang adalah hal yang baru bagi Saddam. Dan kali ini Saddam lah menjadi orang ke tiga dalam hubungan orang