
" Satya." Ucap lintang tanpa sadar, menutup mata erat dan mencengkram baju depan Saddam yang ada di hadapannya.
Dalam kegelapan, kilatan dan suara petir datang secara tiba-tiba membuat Lintang begitu saja memanggil nama lelaki lain yang bukan di hadapannya. Ia juga menutup mata dan mencengkram baju Saddam. Tentu ia terkejut dan sedikit takut dengan suara petir di tambah gelapnya malam.
Ia juga wanita yang mempunyai sedikit rasa takut bila gelap malam suara petir begitu keras. Dan entah kenapa nama itu keluar dari bibir Lintang.
Saddam tentu saja mendengar, mendengar Lintang menyebutkan nama Satya meskipun pelan. Saddam membuka ponsel, mencari cahaya senter dari ponselnya untuk menerangi gelapnya rumah Lintang.
Tapi apa yang di lihatnya, Dia begitu dekat dekali dengan wanita ini. Dekat, hanya berjarak dua jangkal tangan. Saddam bisa merasakan cengkraman ke dua tangan Lintang di bajunya, merasakan parfum lintang dan hembusan nafas yang tidak teratur serta mata yang tertutup.
" Tenanglah." Ucap Saddam, mencoba menenangkan Lintang tanpa menyentuhnya.
Lintang membuka mata, kembali terkejut sedikit mendongak menatap lelaki yang ada di hadapannya. Apa lagi ia mencengkram kuat baju Saddam.
" Maaf." Ucap Lintang, melepas cengkramannya dan mundur sedikit menjauh dari Saddam.
" Tidak apa-apa." Jawab Saddam. " Kamu punya senter atau lilin?" Tanyanya.
" Aku tidak punya." berbalik kebelakang mengambil ponsel di atas meja. " Sial, bateraiku tinggal sedikit." Umpatnya, melihat ponsel dengan batrai yang sudah hampir habis karena ia terlalu asyik menonton film dan tak bisa menyalakan senter ponselnya.
Mendengar umpatan Lintang, Saddam hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak hanya suka rokok, ternyata gadis ini juga suka mengumpat kata kotor.
" Bukannya kamu punya ponsel dua?" Saddam mengingat jelas, wanita ini mempunyai ponsel dua saat mereka tak sengaja bertabrakan.
" Ponselnya mati." Jawab Lintang.
Ya, lintang memang mempunyai dua ponsel. Dan ponsel yang terjatuh itu mati, karena iya juga lupa untuk mengisi batrai.
Mendesah, seharusnya Lintang menyetok persediaan lilin atau membeli senter untuk berjaga-jaga di murah bila lampu padam di tengah malam. Dan Lintang tidak memikirkan itu.
Berbalik menatap managernya. " Bila anda ingin pulang, silahkan pak." Ucap Lintang. Tidak perlu lagi merepotkan orang, apa lagi ini sudah begitu malam di tambah rumah begitu gelap.
Bukannya ia sudah biasa sendiri? Jadi untuk apa lelaki ini ada di rumahnya begitu lama.
" Kamu tinggal sendiri di sini?" Tanya Saddam.
" Iya."
" Kalau begitu, saya akan menemani kamu sampai lampu menyala." Ujarnya, membuat alis lintang berkerut.
" Untuk apa.. Itu tidak per-."
" ini sudah malam, di rumah kamu juga tidak ada penerangan. belum tentu juga kapan menyalanya. Lebih baik saya tunggu." Jelas Saddam.
Ya, sebenarnya kasihan dan tidak tega melihat wanita ini sendiri dalam kegelapan. Di tambah dengan adanya suara petir. Terlihat jelas bila Lintang takut, dan memanggil nama lelaki yang tidak ia kenal.
Apa itu kekasihnya.
Mungkin saja, tapi ia tidak peduli. Yang terpenting wanita ini tidak sendiri sekarang.
Lintang tidak menjawab, ia juga tidak suka berdebat. Jadi terserah managernya, mau pulang atau tetap di rumahnya juga tidak masalah sekarang. Dalam kegelapan sendiri pun ia sebenarnya juga tidak takut, bila tidak ada suara dan kilatan petir. Entahlah, kenapa tiba-tiba saja ada suara petir dan lampu padam.
Kembali, perut lintang berbunyi. menahan lapar di tambah perutnya mulai perih rasanya sakit. Lampu juga belum menyala, apa begitu lama lampu padam?
" Bisa tolong antar saya ke dapur? Saya ingin membuat sesuatu." Pinta Lintang, akhirnya ia menyerah dengan perut yang tidak bisa di kondisikan lagi.
" Iya, ayo." Ucap Saddam. Mengekor di belakang lintang, sambil menerangkan senter ponsel ke depan.
Sungguh, gelap sekali.
Apa benar gadis ini berani sendiri di rumah yang gelap ini?
Rasanya tidak mungkin.
" Saya ingin buat mie instan, apa bapak juga mau di buatkan?" Tawar Lintang, tidak mungkin ia makan sendiri di saat ada orang di rumahnya.
Menawarkan itu keputusan yang baik. bila mau ia akan buatkan, bila menolak, ia juga tidak masalah.
" Boleh." Jawab Saddam, ia juga merasa lapar. Apa lagi malam dengan hawa yang dingin.
Lintang mengangguk, mulai mengambil stock dua mie instan berkuah dan dua telor untuk di buatnya setengah matang. Hanya bisa memperhatikan Lintang dari belakang sambil memberikan penerangan cahaya.
Saddam tidak pernah menyangka malam ini bersama dengan seorang wanita, menunggunya di dapur dalam penerangan yang minim untuk membuatkan makanan.
Menaruh dua mangkok berisi mie kuah di atas meja bar, duduk berhadapan dengan masih penerangan cahaya ponsel. Seperti makan malam romantis, tapi tidak bagi Lintang yang biasa-biasa saja.
" Selamat makan" Ucap Lintang, memilih menyantap terlebih dulu kala perut sudah semakin perih dan keroncongan.
Tapi ia lupa, bila mie berkuah itu masih panas dan membuat mulut terbakar.
" Hah!" Terkejut Lintang. " Panas." Imbuhnya. Panik dan mata mulai menggenang.
Saddam menyentuh ke dua pipi Lintang untuk menghadapnya, sedikit menekan ke dua pipi Lintang agar bibir tipis itu terbuka. Dan Saddam dengan perhatiannya, memberi tiupan di bibir Lintang.
" Kalau makan hati-hati." Kata Saddam, masih dengan tiupan di bibir Lintang.
Tentu siapa yang tidak terkejut ,mendapatkan perlakuan lembut dari lelaki yang belum di kenalnya ini. Lintang membulatkan mata, tubuh begitu tegang saat ada lelaki menyentuh pipi dan memberikan tiupan di bibirnya. Aroma nafas berbau minst menyeruak di indranya, di tambah wajah tegas tepat ada di depannya meskipun cahaya tidak begitu terang.
" Apa masih panas?" Tanya Saddam lembut, menatap manik mata lintang yang membulat.
Sadar apa yang di lakukannya, Saddam melepas ke dua tangannya dari pipi Lintang, kembali duduk di awal sebelumnya dan sama seperti Lintang, terkejut dengan apa yang di lakukan dirinya pada gadis itu.
" Maaf." Ucap Saddam, dan tepat lampu rumah menyala.
Saddam bisa lihat wajah Lintang begitu datar, begitu dingin dan tak ada wajah ramah padanya.
" Lampu sudah nyala, Saya pulang du-,"
" Tolong di makan, saya tidak suka lihat orang menyia-nyiakan makanan." Potong Lintang, memilih melanjutkan makan tanpa menatap Saddam yang sudah siap untuk turun dari kursinya.
Kali ini lintang makan dengan tenang, tanpa berbicara dan tanpa menatap lelaki di depannya. Saddam tidak bisa menolak, ia pun memilih makan dalam kebisuan meskipun sebenarnya ia merasa canggung berhadapan dengan wanita berambut bonde.