
" Mbak Lintang!" Panggil remaja lelaki yang sedang berdiri di depan lobby tempatnya bekerja, tersenyum mengembang melambaikan tangan pada Lintang.
Mengerutkan kening melihat Ali sedang berada di tempat kerjanya.
" Siapa Lin?" Tanya Riska, berada di samping Lintang yang juga melihat lelaki muda itu tersenyum ke arah mereka sambil melambaikan tangan.
" Adik aku." Jawab Lintang. Membuat Riska dan Yolla mengerutkan kening.
Adik?
Riska dan Yolla baru tau bila Lintang mempunyai seorang adik. Adik yang tampan dan periang. Mengikuti langkah Lintang menuju adiknya.
" Barusan?" Tanya Lintang.
" Setengah jam yang lalu mbak." Jawabnya.
" Sendiri atau sama bunda."
" Sendiri mbak, bunda lagi keluar kota ngunjungi toko barunya." Jawabnya.
Ya, bundanya mulai menyibukkan diri untuk menghibur hati yang lara akan kepergian suami tercintanya. Membuka cabang toko baru di luar kota yang sudah di rencanakannya dulu bersama ayah Lintang dan baru di mulai hari ini kala ayah Lintang sudah pergi untuk selama-lamanya.
Tentu saja membuka toko baru di luar kota mendapatkan persetujuan dari anak-anaknya, termasuk Lintang. meskipun sebenarnya tidak perlu juga bertanya pada Lintang karena dia bukan anak kandungnya. Dan Saskia bukanlah orang tua yang bisa mengakhiri hubungan dengan anak tirinya, meskipun sudah tidak ada ikatan lagi.
Saskia begitu sayang dengan anak dari suaminya, sudah menganggapnya sebagai anak sendiri dan menjadikannya kakak dari ke dua anak kandungnya. Dan akan mendapatkan hak yang sama.
Lintang merasa khawatir dengan bundanya, yang berpergian ke laur kota bila sendiri. hingga itu ia menelpon Abbas agar adiknya mencarikan asisten untuk menemani bundanya berpergian ke luar kota. Dan Lintang tidak ingin mengambil keputusan sendiri tanpa berbicara terlebih dulu dengan adik ke duanya. Karena Lintang tau, ia sudah bukan lagi keluarga dari Saskia. Tapi Lintang menghargai itu.
" Adiknya Lintang ganteng La." Bisik Riska pada Yolla, memperhatikan interaksi kakak beradik yang sedang membahas ibunya.
Yolla berdecak. " Tukang parkir juga kamu bilang ganteng Ris." Cibir Yolla, membuat Riska berdecak sebal dan memukul lengan Yolla.
Bisa-bisanya membawa tukang parkir dalam jawabannya. Dan jangan samakan Ali dengan tukang parkir, yang menurut Riska sangat jauh sekali bila di bandingkan. Apa lagi Riska selalu menemukan tukang parkir yang berperut buncit, atau bapak-bapak berkumis. Membayangkan itu lagi, Riska bergedik ngeri.
" Terus.. Bunda sama siapa? Kenapa kamu enggak ikut."
" Sama pegawainya. Aku kangen sama mbak mangkanya Aku mau nginap di rumah mbak plus aku pengen lihat rumah baru mbak." Jawab Ali tersenyum lebar sambil memainkan alisnya. membuat Lintang hanya bisa menggeleg dan menghembuskan nafas pasrah menghadapi tingkah ali.
" Ini teman baru mbak ya." Tanya Ali, melihat dua wanita di samping Lintang. " Salam kenal mbak. aku Ali, adik paling terakhir mbak Lintang yang tampan sekali." Jawabnya, memperkenalkan diri pada dua teman Lintang sambil mengulurkan tangan.
" Aku Riska." Kata Riska, menerima jabatan tangan Ali. " Kamu orangnya periang ya.. Beda sama mbak kamu." Puji Riska.
" Yolla." Ucap Yolla, bergantian menjabat tangan Ali.
" Mbak aku orangnya pendiam." Kata Ali.
" Lebih dari pendiam malah." Cicit Riska, membuat Ali tertawa mendengarnya.
Tidak bisa mengelak bila Lintang memang orang yang sangat pendiam, hampir jarang berbicara panjang dan juga tertawa. Tapi tidak dengan dulu, sebelum kehilangan lelaki yang selalu ada di samping Lintang dan membuat kakaknya bisa tertawa atau tersenyum lebar.
Abbas rindu kakaknya dulu.
Andai lelaki itu masih ada, mungkin kakak tirinya tidak akan sedingin ini. Tidak akan menutup diri pada lelaki, di usia yang sudah lebih dari dua puluh tujuh tahun.
Mungkin kakaknya sudah menikah. Ya, pastinya. Tapi ia tidak akan bisa bermanja-manja lagi dengan kakaknya.
" Udah, ayo pulang." Ajak Lintang, cukup lama berdiri di lobby bersama dua teman dan Ali. Hingga sebagian karyawan sudah tidak terlihat di kantor.
" Ayo!" Semangat Ali. " Mbak Riska sama mbak Yolla mau ikut gak ke rumah mbak Lintang?" Ajaknya.
" Memang boleh?" terkejut Riska mendapatkan tawaran Ali untuk ikut ke rumah Lintang.
Selama ini Lintang tidak pernah menawarkan untuk main ke rumahnya dan menolak selalu tawaran mengantar pulang hingga nama Lintang berakhir menjadi gosip.
" Memang mbak Lintang pernah ngelarang?" Kata Ali memicingkan mata.
" Enggak sih! Cuma kalau di antar pulang selalu nolak."
" Mbak Lintang itu gak suka ngerepotin orang. Kalau gak kepepet saja baru minta tolong. Jadi jangan pernah marah sama mbak aku, oke!" Setengah membela kakaknya sambil mengerlingkan mata. dan memberitahu bila memang sifat Lintang sangat keras kepala dan pantang menyerah.
" Ayo ikut saja mbak, sekalian party di rumah mbak Lintang." Imbuhnya, tersenyum lebar menatap kakaknya yang hanya bisa menatap datar.
Menatap Lintang seperti meminta persetujuan. Lintang mengangguk, tidak masalah juga dua temannya ingin singgah kerumahnya.
" Oke!" Semangat Riska, Yolla hanya mengikut saja dan juga sama penasaran runah Lintang.
****
" Iya, hati-hati!" Seru Ali dan Lintang melambaikan tangan mengantar kepulangan Yolla dan Riska.
Mereka menikmati makan malam, bermain remi yang entah dari mana Riska dapatkan. dan juga bercanda sampai larut malam di rumah Lintang, hingga mereka lupa bila esok akan bekerja.
Lintang menyuruhnya untuk menginap, tapi sayang.. Yolla dan Riska tidak membawa baju ganti untuk besok bekerja. Dan akhirnya pulanglah begitu malam dengan rasa senang.
Lintang bukan wanita yang kaku juga, ia juga menikmati bermain remi bersama adik dan dua temannya. Menikmati coretan lipstik Riska bila ada yang kalah dalam bermain.
Tertawa, menikmati cemilan dan juga makan malam bersama dengan mereka. Ali dan Riska pembawan ceria, suka adu ngotot dan juga membawa keberisikan dalam permainan. Yolla yang tertawa, yang juga terkadang emosi karena kalah dalam permainan sampai ucapan kotor keluar dari bibirnya, serta membalas kejailan Ali dan Riska.
Malam ini bibir Lintang tersenyum dan tertawa, ikut menikmati permainan mereka.
" Mbak itu harus sering-sering tertawa! Kalau tertawa kelihatan tambah cantik." Puji Ali, mengekor di belakang Lintang masuk ke dalam rumah.
" Masa!"
" Ih.. beneran mbak!"
" Pasti ada maunya!" Selidik Lintang, mengerti kelakuan Ali kalau sudah menggombal begini padanya.
Apa lagi kalau bukan ada maunya.
Mengekori Lintang menuju dapur, duduk di meja bar sambil memperhatikan kakaknya sedang mencuci piring dan gelas.
Menghembuskan nafas berat. Ali bimbang, ia ingin mengatakannya apa tidak.
Hatinya bertaka untuk mengatakannya, tapi untuk apa? Semuanya juga sudah berlalu. Ya meskipun begitu.. Lintang belum pernah bertemu dengannya.
" Al.. Ada apa?." Kata Lintang.
" Aku lihat saudara gadis yang menabrak mobil ayah di tempat kerja mbak lintang." Ucap Ali, membuat Lintang menghentikan aktivitasnya.