He'S Not You

He'S Not You
Bab 6



Mencium kening wanita yang sudah di anggapnya ibu sendiri, tertidur dengan mata membengkak setelah menangisi kepergian suami yang di cintainya.


Setulus itu, ibu tiri mencintai ayahnya?


Menyayanginya lebih dari mantan suami pertamanya?


Setulus itukah cinta ibu tirinya?


Menyelimuti tubuh bunda, sekali lagi menatap wajah lelah bunda akibat lelah menangis. Seberuntung apa, ayahnya mendapatkan wanita yang tulus sekali mencintainya tanpa syarat itu, meskipun tidak lagi bersama.


Keluar dari kamar bunda, menutup pintu dengan pelan dengan menutup mata mengingat dulu ia masih remaja. begitu banyak menyusahkan ibu tirinya hingga membuat beliau pernah menangis akibat kenakalan dan juga ketidak ramahannya.


Sungguh, ia menyesali itu.


Dan air mata itu kembali lagi menetes di wajah cantik ibu tirinya. Karena ayah yang kini tak bisa lagi menua bersama dengannya. rencana-rencana yang di buatnya untuk menua bersama telah sirna, tak ada lagi keluh kesah atau sandaran ternyaman bagi ibu tirinya saat ini.


Dan setiap kata yang keluar dari bibir serta air mata yang mengalir menceritakan tentang ayahnya. Ia yakin, sangat yakin. Bila ibu tirinya memang sangat mencintai ayahnya.


Berjalan munuju teras rumah untuk menghirup udara malam menenangkan jiwa. Tidak sengaja ia melihat abbas duduk di sofa tunggal sambil memijat kening, dan Ali meringkuk memejamkan mata di sofa panjang.


menepuk pelan pundak Abbas, hingga membuat Abbas mendongak. " Sudah malam, istirahatlah." Ucap Lintang.


" Bunda sudah tidur?" tanya Abbas.


" Sudah." Jawab Lintang, sambil berjalan ke arah Ali mengambil ponsel dalam genggaman tangan adiknya yang tertidur pulas.


Terlihat pula wajah lelah Ali saat tidur dan tak terganggu sama sekali kala ponsel di tangannya di ambil Lintang. Mungkin efek lelah lebih dari satu minggu ikut menjaga bundanya di rumah sakit. Sebenarnya tidak perlu ke rumah sakit juga tidak masalah, karena sudah ada Lintang yang menjaganya dua puluh empat jam non stop tanpa mau di gantikan siapapun.


Tapi Ali maupun Abbas, tidak akan tenang meskipun sang bunda sudah ada yang merawat di rumah sakit. Sebagai anak tetap khawatir dan ingin menemani bundanya dengan bagaimana pun keadaan mereka yang lelah letih. Dan Lintang memaklumi itu, karena dirinya juga akan merasakan serta melakukan hal yang sama seperti ke dua adiknya.


Seperti dulu ia harus berbolak balik ke rumah sakit untuk menemani mamanya yang mengidap penyakit serius hingga meregang nyawa dan usianya tidaklah lama. Hingga pertemuan dengan sang mama kandung begitu singkat, dan Lintang memaafkan semua kesalahan mamanya.


Apa yang di buat orang tuanya di masa dulu, membuat Lintang menjadi anak nakal dan arogan. Tapi juga membuat Lintang menjadi anak tangguh dan mandiri. Itulah kenapa, hatinya sudah kebal dengan apa kata orang. Hingga itu hatinya seakan sudah mati.


" Mau kemana mbak?" Tanya Abbas.


" Cari angin di teras." Jawab Lintang, berjalan menuju teras.


Memperhatikan punggung wanita yang sudah di anggap saudaranya. Wanita yang kuat, jarang menangis dan menyimpan kesedihannya sendiri, membuat Abbas menjadi kagum dengan sosok Lintang.


Sedari dulu, sikap Lintang tak pernah berubah. Meskipun sebenarnya hati lintang sangatlah lembut bila dengan seorang anak kecil dan lansia.


Karena Abbas sudah mengetahui rumah singgah yang di bangun Lintang. Dan bagaimana lembut serta perhatiannya Lintang pada anak-anak singgah di masa dulu hingga sekarang, meskipun sudah sepuluh tahun tak berkunjung ke rumah singgah.


Duduk di kursi teras, menghirup udara malam sambil memejamkan mata. Sungguh, kehidupan Lintang sudah berubah. Tak lagi memiliki ke dua orang tua dan ia akan selalu menjadi sendiri di dunia ini.


Bukan dendam, Bukan. Sudah memaafkan masa lalunya, tapi memang entah kenapa masa lalu itu selalu saja membuat emosionalnya kadang kembali.


Kini, ia kembali sendiri tanpa ke dua orang tuanya, menjadi yatim piatu tanpa bisa kembali bertemu lagi.


Dan itu sudah terbiasa dalam diri Lintang.


Sendiri.


" Aku enggak bisa tinggal di sini, Bas." Ucap Lintang, tanpa membuka mata mengetahui kehadiran Abbas berdiri di sisi pintu, yang diam-diam memperhatikannya tanpa mau mengganggu kehadiran dirinya.


" Ini bukan lagi rumah aku." membuka mata mendongak menatap adik tirinya. " Dan kamu pasti mengerti, tak akan ada lagi di antara kita sebagai saudara." Imbuhnya.


Ya, tak ada lagi ikatan saudara di antara Lintang dan Abbas. meskipun sebenarnya berat untuk mengungkapkan kenyataannya. bahwa memang mereka bukan saudara sedarah, melainkan orang lain yang di ikatkan antara ke dua orang tua masing-masing.


Andai, Bunda mempunyai keturunan dari ayahnya. pasti lintang masih mempunyai saudara walaupun beda ibu, dan akan masih tetap menjadi saudara karena adanya darah yang mengalir dari adik abbas dan Lintang.


Semenjak ayah dan bunda menikah, mereka belum mempunyai keturunan. Bukan karena bunda dan ayahnya mandul, bukan. Ke dua orang tuanya sehat, sudah beberapa kali mencoba progam ke dokter kandungan. tapi memang Tuhan belum memberikan rejeki yang sangat berharga di dalam pernikahan selama tiga belas tahun lebih ini.


Ayah dan Bunda pun juga tak mempermasalahkan soal anak, mereka sudah mempunyai tiga anak meskipun bukan dari hasil mereka berdua. Dan ke dua orang tuanya, sangat menyayangi anak-anaknya Meskipun dengan cara yang berbeda.


" Tapi bunda yang meminta." Ucap Abbas.


Lintang mengangguk. Ya, bundanya meminta untuk Lintang tinggal bersamanya saat menemani bunda di kamar.


Sungguh, permintaan itu sangat berat.


" Bunda gak pernah minta apa-apa kan ke mbak. Tolong, Kali ini saja kabulkan permintaan bunda mbak, meskipun berat." Imbuhnya lagi, sebelum Abbas masuk ke dalam rumah. Membiarkan Lintang memilih dan merenungi semua yang ada di dalam


pikiran dan hatinya.


Meninggalkan pekerjaan, karir dan dunianya di sana?


Itu sangat berat.


Sepuluh tahun lebih tinggal di negara orang, banyak suka duka yang di laluinya. Dan hanya beberapa teman baik yang Lintang punya di sana. Di negara sini pun ia juga mempunyai sahabat. Sahabat yang tak akan pernah di lupakan.


Untuk memulai kembali di negaranya sendiri... Sebenarnya tidaklah sulit. Hanya saja, kenangan lama bersamanya membuat dirinya kembali terasa menyedihkan. Apa lagi... Kenangan itu, dengan ' Dia' .


Dia. Yang membuat Lintang tak bisa berpaling dari lelaki lain.


Dan Dia. Yang akan selalu di hati Lintang, meskipun tidak agi bisa bersama dan tidak bisa lagi bisa berjumpa.