
Duduk di kursi kebesaran, tangan memegang bulpoin dan kertas putih yang belum ia tandatangi kala mengingat-ingat ucapan Lintang malam itu.
Malam di mana ia hampir saja di buat serangan jantung akibat Lintang menyatakan cinta. Ralat, tapi memintanya untuk menjadi kekasihnya dan menjalin hubungan dengannya.
Tak bisa berkata, tidak bisa menjawab karena lidahnya keluh untuk mengatakan IYA malam itu. Meskipun Saddam juga mempunyai rasa ketertarikan dengannya. Tapi tidak begitu cepat dengan reaksi yang di berikan Lintang pada dirinya.
Apa maksud tujuan Lintang ingin dirinya yang menjadi kekasihnya. Bukannya dia sedang membutuhkan Satya malam itu. Bakankah Nama Satya sudah dua kali ia dengar dari bibir Lintang dan mengapa Lintang mengajaknya untuk menjalin kasih bila wanita itu sudah memiliki lelaki yang selalu di sebutnya dalam tangisan.
Apa Lintang ingin selingkuh dari kekasihnya
Apa dirinya di jadikan selingkuhannya.
Atau Lintang memang kesepian hingga membutuhkan lelaki di sampingnya untuk bisa di jadikan sandaran keluh kesahnya.
Saddam sungguh bingung, dan ia belum menjawab ajakan Lintang malam itu.
" Aku akan menunggu jawaban kamu, sampai besok malam di rumah."
Ucap Lintang saat mengantarkannya ke depan mobil.
Memiliki waktu dua puluh empat jam, untuk menentukan jawabannya sendiri yang membuat dirinya hampir-hampir stres karena wanita itu.
Wanita yang memang mencuri pikiran dan hatinya. Wanita yang mampu membuatnya kembali jatuh cinta setelah lima tahun yang lalu, karena tak pernah mendapat restu dari orang tua kekasihnya dan akhirnya dia menikah dengan pilihan orang tuanya. Meskipun Saddam tau itu sangat sulit untuk di terima baginya dan juga kekasihnya dulu.
Sempat ingin melarikan diri, ingin menikahinya tanpa restu orang tua kekasihnya, ingin membuat dia hamil tapi ia tak bisa melakukannya. Akal sehatnya masih waras masih bisa ia di kendalikan dan tak ingin merusak wanita yang di cintainya.
Mengalah, dan tak ingin memperjuangkan lagi. meskipun mereka sudah sama-sama sepakat untuk berpisah dengan cara yang baik, hingga kenangan sulit untuk di lupakan dan janji yang terucap begitu saja keluar dari bibirnya.
Menghembuskan nafas berat, bersandar di kursi kebesaran, mendongak dan memijat kepala yang pening. Tak menyangka Saddam harus kembali mengingat masa lalunya, masa lalu di mana ia kubur dan tak ingin di ingatnya lagi. Dan itu karena Lintang, karena ucapan Lintang malam itu.
" Apa yang harus aku lakukan." Gumamnya, menutup ke dua matanya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuatnya tersadar dan kembali duduk tegap.
" Masuk." Perintah Saddam, dengan dirinya yang mulai membaca dokumen di hadapannya. Membiarkan ucapan Lintang mengudara begitu saja, karena pekerjaannya sudah menumpuk di depan mata.
****
Menunggu. Ya, menunggu seseorang datang ke rumah untuk pertama kali bagi hidup Lintang.
Menunggu lelaki yang tak sehari pun ia lihat di dalam kantor. Entah itu di jam istirahat atau di jam pulang kerja. Lintang akan selalu berpas-pasan dengan Saddam, entah di lobby atau di kantin kantor biasa dirinya makan bersama dengan dua temannya.
Tapi hari ini, ia tak melihatnya. Seharian ia tak bertemu mata Saddam yang terkadang sedang mencuri pandang ke arahnya. Ia tahu itu, dan dirinya mencoba menghindari dari tatapan mata meneduhkan.
Lintang juga tak percaya dengan ucapannya malam itu. Meminta Saddam untuk menjadi kekasihnya. Memberikan waktu jawaban hingga malam ini.
Antara gila atau bodoh.
Akal sehatnya mengatakan tidak, tapi hati kecilnya mengatakan untuk mencoba. Bolehkah dirinya mengatakan mata Saddam begitu sama dengan Satya, bahu kekarnya begitu nyaman untuk menjadi sandaran menangis seperti Satya.
Jahat sekali rasanya, Menyamakan Saddam dan Satya. Jelas-jelas meraka tak sama, meraka tidak mirip, mereka berbeda. Sepuluh tahun yang lalu, mungkin sekarang wajah Satya lebih dewasa dan tubuhnya juga sama kekarnya dengan Saddam.
Mungkin, bila dia masih hidup.
Dulu Satya Sedikit kurus, tinggi dan lelaki periang. Lelaki yang banyak bicara dan banyak membuat dirinya tersenyum dengan godaan dan candaannya. Satya yang tak pernah lelah membuat dirinya tak kesepian. Yang begitu berani dan bertanggung jawab.
Ia merindukan Satyanya.
Lintang menatap jam dinding, jam sembilan tepat. Tak ada tanda-tanda lelaki itu datang, mungkin.. dia tak mau dan dia tidak bisa menjadi kekasihnya.
Ya, mungkin saja.
Bodoh sekali, sudah menunggu dan mencarinya hari ini. Bodoh sekali mengajaknya untuk berpacaran di saat mereka belum saling mengenal.
Tersenyum miris, Saddam bukan Satya. Bukan Satya yang mau mengejarnya hingga mendapatkan cintanya.
Bodoh, bodoh sekali.
Memalukan.
Berdiri dari duduk berlama-lamanya di sofa, berniat untuk mengunci pagar dan ingin merebahkan diri di kasur dan melupakan jawaban yang tak kunjung datang.
Membuka pintu, terkejut dengan mata melebar sempurna kala ada seseorang lelaki ingin mengetuk pintunya.
" Pak Saddam." Lirih Lintang.
" Saya sudah memutuskan. Ya, saya mau menjadi kekasih kamu Lintang." Ucap Saddam.
Apa Lintang tidak salah dengar, apa lelaki di hadapannya ini sudah menjawab permintaannya. Seulas senyum tipis terbit di bibir Lintang. maju satu langkah, mengikis jarak tipis di hadapan lelaki berparfum rasa coklat.
" Bapak yakin." Tanyanya.
" Ya, saya yakin." Tegas Saddam, menutup jarak agar lebih dekat dengan wanita dingin.
Saling menatap, saling tersenyum dan Saddam mendekatkan bibir di telinga Lintang. Bau vanilla menyerbak di indra penciuamannya.
" Karena ajakan kamu, membuat aku jadi tertantang. Dan sampai seberapa, kita akan bertahan nanti." Bisiknya.
tertantang?
Lintang tersenyum. Ya semua ini adalah ajakannya dan dia juga merasa tertantang dengan hubungan baru bersama lelaki bermata teduh. Ingin mencoba, bisakah Lintang melupakan masa lalu dan mengganti lelaki baru di hatinya.
Ingin merasakan bagaimana berpacaran, karena sepuluh tahun yang lalu bersama satya bukan menjalin kasih, tapi pertemanan. Yang berakhir begitu saja, sebelum membalas cinta dia.
Persetan dengan nama Satya, tak peduli Saddam harus menjadi selingkuhan Lintang. Ia perasaran, ia juga ingin menjalin kasih dengan Lintang yang sudah sukses mempora-porandakan pikiran dan hatinya hari ini.
" Hmm.. Baiklah? Kalau begitu, kita mulai dari mana dulu berpacarannya." Tanya Lintang.
Sama tersenyum tipis, memikirkan untuk memulai dari mana hubungan yang akan di jalin Lintang dan Saddam.
" Kamu mau jalan-jalan, ke taman kota." Ajak Saddam.
" Dengan pakaikan kamu seperti ini?"
Memperhatikan Saddam, masih memakai baju kantor, tapi terlihat menawan bagi wanita.
" Ah.. Aku lupa, baru pulang dari kantor."
" Lembur?"
" Ya, itu semua karena kamu."
" Aku?" Ulang Lintang mengerutkan kening.
" Karena kamu, membuat aku tidak konsen dengan pekerjaan." Kata Saddam,