He'S Not You

He'S Not You
Bab 5



Teguh saksono


Bin


Sono.


Tgl lahir : 12-4-1980


Wafat : 21-4-20xx


Tertera jelas nama suaminya di batu nisan bercat hitam dengan tanah merah yang mengering. Masih tak percaya dengan kepergian sang suami yang begitu cepat meninggalkannya sendiri.


Dua belas tahun sudah menjalin rumah tangga dengan ayah Lintang yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, penuh dengan keharmonisan dan saling melengkapi kekurangan yang di miliki.


Tak pernah bayangkan, akan begini berakhir kepergian suaminya. Bayang-banyang menua bersama telah sirna sudah. Dia meninggalkannya, meninggalkan penuh dengan kenangan yang akan sulit di lupakan. Kenang-kenangan manis pahit rumah tangga serta perselisihan tak akan bisa hilang di ingatan Saskia.


Duduk di kursi roda sambil menatap nanar batu nisan nama suaminya. Menangis, sesak hati ini dan tertahan untuk berteriak.


Kenapa?


Saskia tak sanggup, sungguh ia tak sanggup untuk kehilangan suaminya. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan takdir yang sudah di tentukan sang pencipta, yang telah mengambil suaminya.


Genggaman ke dua tangan dari putra sulung dan berjongkok tepat di depannya membuat ia menatapnya dengan bergelinang air mata.


" Ayah kamu Mas?" Ucap Bunda Saskia, terisak kembali di hadapan sang anak.


Abbas menghapus air mata bundanya, rasanya juga sakit melihat bundanya menangis. Selama ini bunda tak pernah menangis seperti ini, terakhir menangis setelah sang ayah kandung membuat kesalahan terbesar yang tidak akan bisa di maafkannya.


Sungguh, mengingat itu rasanya sakit. Lebih sakit saat bunda menangisi kenakalan Lintang dulu.


" Bunda harus iklhas." Ucap Abbas. " Ayah gak akan tenang kalau bunda nangis."


" Bunda gak sanggup kehilangan ayah."


" Aku, Ali dan mbak Lintang juga gak bisa kehilangan ayah, tapi kami mencoba mengiklaskan kepergian Ayah, agar ayah tenang di sana. Bunda juga harus bisa."


Mengiklaskan kepergian orang yang di cinta sangatlah susah. Apa lagi kepergian itu tanpa pamit dan meninggalkan kenangan manis, hingga tak bisa lagi untuk di gantikan. Tuhan mengambilnya dengan cara yang berbeda, takdir memisahkannya dengan alam yang tak sama.


Sungguh, itu sangat berat.


Sanggupkah Saskia menjalaninya. Mungkin bisa, karena dirinya mempunyai anak-anak yang sangat sayang serta perhatian lebih padanya.


Saskia membalas genggaman tangan putranya, menganggukkan kepala.


" Bunda akan coba iklas dengan kepergian ayah." Jawabnya, meskipun terasa berat mengucap dengan hati yang masih tak rela.


" Kalau begitu kita pulang, Bunda harus istirahat."


Masih enggan untuk pulang, tapi sudah lama sekali saskia dan anak-anaknya berada di pemakaman. Menangisi kepergian suaminya begitu lama hingga melupakan anak-anak yang menunggunya dalam diam. Membiarkan emosi dan semua tangisannya keluar begitu saja, tanpa bisa di ganggu. Tak peduli keberadaan anak-anaknya, hingga pastinya mereka tau bagaiamana cinta Bundanya pada sang Ayah yang bukan ayah kandung mereka.


Mereka akan mendengar dan akan meminta maaf mengakui dengan kesalahan yang di buat dan tak pernah mencoreng nama baik bunda atau ayah tirinya.


Abbas dan Ali bukan takut, tapi memang sifat mereka sangat lembut serta tak pernah berbuat kesalahan. Berbeda dengan Lintang.


Ya, berbeda sekali.


Hingga sampai sekarang, sangatlah berbeda. Lebih pendiam, irit bicara dan dingin. Walaupun begitu, hatinya sangat lembut pada dua adik dan bundanya.


Menganggukkan kepala lagi, mengiyakan ajakan pulang anaknya. Ia juga perlu beristirahat, memulihkan keadaannya serta hatinya untuk berlapang dada menghadapi dirinya yang kini akan menua sendiri tanpa sang suami.


Memandang dua adik dan bunda yang melangkah keluar pemakaman tanpa Lintang yang mengikutinya. Menatap kuburan ayahnya, yang sudah mengering tanpa lagi bunga segar di atasnya.


Genangan air mata menetes membasahi pipi Lintang tanpa di minta. Tanpa sadar air matanya keluar begitu saja, hingga tak tau kenapa ini terjadi. Mendengar jeritan tangis bunda yang juga memanggil-manggil nama ayahnya seakan hati teriris.


Ibu dan dua adik tirinya begitu sayang dengan Ayahnya, sesayang dan juga seperhatian apa sang ayah hingga dua adik tirinya begitu menyayangi Ayahnya dan tak rela dengan kepergian Ayahnya yang mendadak ini.


Apa sama seperti dirinya dulu? Yang selalu di manja, di sayang dengan tulus, di rawat dengan baik dan selalu di manja sebagai tuan putri sebelum semua hancur dan membuatnya menjadi gadis nakal serta pendendam.


Kepergian Mama dan Ayahnya, membuat dirinya kini menjadi anak yatim piatu. Menjadi anak tunggal tanpa saudara kandung. Menjadikan dirinya seperti dulu. sendiri, tanpa adanya orang tua akibat perceraian. Membuat dirinya menjadi tangguh, pemberani dan juga dingin.


Kepergian Ayah dan Mamanya seakan tak berat, tak membuatnya emosional seperti dulu. Kesendiriannya seakan membuat dirinya memang harus menjadi tangguh tanpa harus mengeluh mengeluarkan air mata. Tapi kepergian Mama dan Ayah, ini sangat berbeda. Ia tak akan lagi berjumpa, tak akan lagi saling melihat senyuman manis, mendengar suara dan melepas rindu. Hanya bisa melepas rindu dengan doa, dan melihat warisan foto bersama keluarga yang masih tersimpan di bukunya. Kenangan terakhir sebelum ke dua orang tuanya bercerai.


" Mbak?" Panggil Abbas, menepuk bahunya pelan.


Menghapus air mata, dan berbalik menatap Abbas.


" Ayo kita pulang." Ajak Abbas.


Pulang?


Apa itu rumahnya? Apa masih pantas Lintang menginjakkan rumah Bundanya yang tak lagi ada ikatan dengannya. Bila dulu ada ikatan dengannya karena sang Ayah. Tapi kini? Ayahnya sudah tak ada, apa masih pantas menginjakkan di sana?


" Bunda enggak akan pulang kalau tidak sama mbak." Tambahnya.


Menatap mata Abbas, tak ada kebohongan di matanya. Mungkin hanya kasihan pada dirinya, yang kini sendiri tanpa siapa-siapa.


Abbas memeluk Lintang, tanpa di minta. Membawanya dalam pelukan sayang sebagai adik yang selalu ada di saat dirinya membutuhkannya.


Tanpa terasa setetes air matanya kembali membasahi pipinya, membasihi kemeja Abbas dan membuat abbas paham, bila kakak tirinya ini menangis dalam kesendirian kembali seperti dulu.


" Kita masih tetap menjadi saudara, sampai kapanpun kita akan tetap saudara mbak. Dan aku tidak akan ninggalin mbak Lintang." Ucap Abbas, mengusap rambut Lintang.


Abbas tau perasaan Lintang sekarang. Di tinggal lagi selama-lamanya membuat dia harus sendiri kembali. Kesendiriannya seakan sudah takdir yang entah kapan akan begini.


Sedih Lintang, juga membuatnya sedih. Teringat dimana ia pernah menjadi sandaran Kakaknya dulu dalam menangis kegelapan.