
Menatap sendu wajah pucat wanita yang tertidur pulas di atas brankar dengan infus di tangan. perban di kening dan tangan yang terlihat jelas di mata Lintang.
Tak bisa di bayangkan, bagaimana kejadiannya hingga membuat wanita di depannya ini terluka begitu parah hingga membuat hatinya sedih. Dan bagaimana hancurnya Lintang tak ada di samping bundanya di saat membutuhkan dirinya, yang juga sama hancurnya karena kejadian yang sangat tak terduga ini. hingga membuat beliau kehilangan orang yang di cintainya.
Mengusap tangan sang Bunda yang sudah dirinya anggap sebagai ibunya sendiri. Bagaimana sabarnya wanita di hadapannya menghadapi keras kepalanya Lintang selama di rumahnya dulu. Bagaimana baiknya sang Bunda yang selalu memberikan pengertian dan juga kasih sayang lewat sambungan telpon selama ia berada di luar negeri.
Tak ada ikatan darah, tapi beliau selalu memperlakukan Lintang seperti anak kandungnya sendiri dan lebih di sayang dari dua anak kandungnya. Tak ada perbedaan di antara Lintang dan dua anak lelakinya, semuanya sama di mata beliau. Hanya saja sifat dinginnya Lintang tak bisa hilang meskipun sudah mencoba untuk berdamai lagi.
Dua puluh menit sudah Lintang menatap bundanya yang tertidur pulas karena efek obat cairan di dalam infusnya. Tak ingin mengganggu tidur pulasnya bunda saat ini, Lintang memilih keluar dari kamar dan menyuruh Ali untuk menjaga sang Bunda di dalam.
Menutup pintu, duduk di kursi panjang dan menghembuskan nafas berat, menghilangkan rasa sedih dan lelah di otaknya. Perjalanan jauh memang membuatnya lelah, tapi tak selelah hatinya yang menghadapi takdir.
Takdir yang membuatnya selalu sendiri.
Tanpa terasa setetes air mata keluar membasahi pipi Lintang. hancur dan sedih melihat bunda yang kini sendiri tanpa lelaki yang di cintainya. Tanpa lelaki yang dulu selalu saja bertengkar dan berselisih paham dengan dirinya hingga membuat sang bunda harus melerainya.
Membuat hati sedih bunda dan memilih pergi menempuh pendidikan tinggi di luar negeri dengan jalur prestasi jalan satu-satunya ia bisa mengobati hati yang sakit karena di tinggal pergi tanpa alasan oleh orang yang di sayang.
Dia, yang mengajarkan Lintang berdamai dan dia yang membuat Lintang kembali menjadi dirinya yang dulu tanpa punya hati.
" Mbak?" Suara lelaki memanggilnya, membuat dirinya menghapus air mata dan mendongak menatap siapa yang memanggil dirinya.
Dia, adik pertamanya.
" Abbas." Sapa Lintang, membuat Abbas tersenyum tipis dan duduk di samping sang kakak perempuan.
" Mbak dari tadi?" Tanya Abbas.
" setengah jam yang lalu?" Jawab Lintang. " Bagaimana hasilnya?"
" Polisi masih menangani penyebabnya mbak. Dugaan sementara rem blong." Jawab Abbas. Membuat Lintang mengangguk mengerti.
" Apa kita perlu menuntut mbak."
" Apa dia tanggung jawab?"
" Iya." Sambil mengangguk.
" Kalau begitu, apa yang harus kita tuntut. Semua juga tak akan bisa kembali seperti dulu. Kita serahkan saja sama polisi." Kata Lintang.
Benar, apa yang harus di tuntutkan. Semua tidak akan kembali seperti dulu, serahkan polisi adalah jalan satu-satunya. Hanya saja, polisi bisa meloloskan. Asalkan, ada segebok amplop coklat di depannya, semua akan beres. Tidak perlu lagi berurusan dengan pengadilan.
Bukannya begitu banyaknya uang?
" Kamu sudah makan?" Tanya Lintang.
Menatap adik pertamanya ini yang sudah tumbuh menjadi dewasa, dan selalu ucapan yang sangat lembut saat berbicara.
Seperti Bundanya.
Tak ada kata kasar dan nada tinggi dari Abbas selama Lintang menjalin komunikasi dengannya. Tubuh yang lebih berisi dan tinggi dari adiknya, mata yang sendu sama seperti ibunya.
" Belum, mbak sudah makan?" Tanya Abbas.
Untuk baru kali ini Lintang perhatian dengan adik pertamanya. Biasanya tak pernah mereka seakrab ini dan saling memberi perhatian serta menguatkan keadaan. Rasa cuek Lintang dan Abbas sama persis, jadi tak perlu mereka menunjukkan perhatian tiap hari seperti adik terakhirnya.
Lintang berdiri, membuat Abbas mendongak memperhatikannya.
" Boleh pinjam mobilnya, Aku mau ke ayah." Ucap Lintang.
" Aku antar mbak."
Lintang tak bisa menolak, ia juga tak tau di mana tempat ayahnya berada. Di sisi lain ia juga mulai sedikit lupa dengan jalanan di kotanya, ia tak tahu apa semuanya sudah berubah atau masih sama seperti dulu. delapan tahun bukan waktu yang singkat baginya meninggalkan kota yang penuh kenangan ini. Tempat kota di mana semua kepahitan, kesedihan dan juga penuh emosionalnya di uji di sini. Dan kini, semua kembali lagi.
Pergi, tanpa kembali.
Seperti dia, yang pergi tanpa kembali lagi memberi kabar.
*****
Masuk ke dalam luasnya tanah tanah gundukan dengan batu-batu nisan berjajaran. Setapak demi setapak, dengan hati yang semakin berdebar tak menentu membuatnya harus kuat menuju ke tempat ayahnya berada.
Berhenti tepat di atas tanah merah penuh dengan taburan bunga-bunga yang sedikit mulai layu. Lintang, melihat jelas papan nisan dari kayu dengan ukiran nama sang ayah serta tanggal lahirnya.
Abbas, memberikan jalan untuk kakaknya menyentuh nisan kayu bernama ayahnya.
Teguh saksono.
Lintang berjongkok menyentuk nisan tertuliskan nama ayah kandungnya. setetes air mata membasahi pipinya kembali dengan mata tertutup.
Mengingat Kenang-kenangan masa kecil bersama ayahnya, teringat kembali dalam otaknya. dan pertengkaran serta perselisihan dengan ayahnya pun ia ingat di dalam kepalanya. Tak ada jeritan tangis pilu di dalam bibir Lintang, tak ada tangisan menggebu-gebu dalam diri Lintang. Hanya tetesan kecil air mata yang membasih pipi Lintang tanpa permisi.
Bukan tak sayang, Tapi memang ia tak bisa lagi menangis seperti dulu. Hatinya sudah mati, atau memang dirinya tak punya hati. Hingga ayahnya sendiri sulit sekali ia tangisi.
" Maafin Lintang yah, Maafin Lintang." Lirih Lintang, masih memegang nisan ayahnya.
Ia berdoa, dan mendoakan ayahnya. Meminta pada sang pencipta untuk mengampuni segala dosa apa yang di perbuat ayahnya dan berdoa semoga di tempatkan di tempat yang baik. Kembali meneteskan air mata kesedihan, ia pun menghapusnya dan tak ingin lemah di hadapan sang adik yang mungkin lebih rapuh dari dirinya. Karena dua adiknya lebih dekat ayahnya dari pada dirinya sendiri.
Cukup lama ia berdoa, ia pun mulai berdiri membuat Abbas juga ikut berdiri di sampingnya.
Ya, Lintang melihat mata Abbas yang memerah dan menggenang air mata. Lintang pun tak kuasa melihatnya, ia mulai merentangkan ke dua tangannya di hadapan Abbas. Abbas pun memeluk sang kakak dan menangis di pundak kakak dari anak kandung ayah tirinya.
seperti dulu, saat Lintang membutuhkan sandarannya.
Abbas tak tau bagaimana perasaan Lintang saat ini. Tapi yang ia tau kakaknya hanya berpura-pura tegar di hadapannya. Tanpa mau dikasihinya. Karena sifat kakaknya, yang lebih dingin dari dirinya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃