He'S Not You

He'S Not You
bab 20



Hari minggu Hari libur Lintang bekerja. Ralat, hari semua para pegawai libur tentunya. Dan hari yang sudah di nanti anak-anak singgah bertemu dengannya.


Ya, Lintang sudah berjanji akan ke rumah singgah di hari liburnya. Sebelum berangkat ke panti, ia mampir ke supermarket. Membeli makanan ringan dan minuman manis untuk anak singgah. Lintang suka menghabiskan waktu di rumah singgah, suka bersama dengan anak-anak singgah yang menurutnya bisa menghibur rasa kesendiriannya.


Entahlah, kenapa ia lebih suka rumah singgah yang menurutnya lebih damai di sana meskipun bangunan sedikit berubah. Mungkin, setengah dari masa lalunya selalu tersimpan indah di rumah singgah. Hingga tak ayal ia bisa tertawa lepas tanpa paksaan bermain dengan anak-anak singgah.


Rumah pertama bagi Lintang berteduh.


Mengantri di kasir, begitu banyak yang ia beli hingga lupa bila ia harus memesan taksi saja.


" Kamu belanja begitu banyak?" Suara dari beakang, membuat lintang menoleh mendapati lelaki ada di belakang mengantri bersamanya.


" Pak saddam." Datar Lintang, setengah membungkuk mengetahui siapa yang sedang bertanya padanya.


" Buat Siapa?" Tanya Saddam, memperhatikan trolly lintang begitu banyak makanan ringan. Dan bertemu kembali di tempat yang sama.


Bukankah itu sebuah kebetulan saja? Atau memang sudah takdir di pertemukan. Karena di tempat kerja pun saddam dan lintang jarang bertemu.


" Buat adik-adik saya." Jawab Lintang.


" Adik-adik kamu banyak?"


" Iya." Jawabnya mengangguk sedikit tersenyum.


Lintang memang menganggap anak-anak singgah sebagai adiknya, bukan sebagai anak terlantar dan yatim piatu. Karena ucapan itu bagi lintang menyakitkan, meskipun itu fakta adanya. Ya, tetap saja.. Sakit mendengarnya.


" Bisa bawa? Naik apa?" Tanya Saddam, karena tau wanita di hadapannya ini tidak mempunyai kendaraan pribadi. Dan selalu memakai jasa ojek untuk kemana-mana.


Sebenarnya untuk apa lelaki ini bertanya, ini bukan tempat kantor yang bisa bertanya-tanya tentang apa yang sedang di lakukannya.


Ini di tempat umum dan ini bukan hari kerja. Jadi apa perlu ia menjawab? Meskipun sebenarnya tidak ada masalah juga. Lelaki itu bertanya dengn baik.


" Bisa, Naik taxi pak." Jawab Lintang.


Saddam menganggukkan kepala, apa lagi yang harus di tanyakan. Sedangkan Lintang jug tak bertanya apapun padanya.


Apa ia harus menawarkan tumpangan untuk Lintang? Tapi... Ia sudah mempunyai janji dan sudah membeli bahan makanan dapur serta makana ringan begitu banyak dalam trolly.


Tidak mungkin Saddam menunda, ini yamg selalu saddam tunggu di hari liburnya. Dan bisa melihat senyuman-senyuman yang membuat Saddam bisa ikut tersenyum dan damai dalam ketenangannya.


" Saya duluan pak? Mari?" Pamit Lintang, selesai membayar dan mengemasi belanjaannya ke dalam trolly kembali.


" Iya, hati-hati." Ucap Saddam, membuat Lintang kembali mengangguk tersenyum.


Hati-hati.


Baru kali ini tercetus dari bibir Saddam mengatakan 'hati-hati' pada seorang wanita asing selain keluarganya senderi.


Sungguh, entah kenapa ia bisa begitu perhatian pada Lintang bawahannya. Bila di ingat-ingat, saddam tidak pernah seperti ini. Justru para wanita yang selalu mengejar dan membuatnya begitu ilfil.


" Total semuanya dua juta lima ratus empat puluh pak." Ucap kasir, melihat castamernya hanya diam dan tersenyum-senyum sendiri.


" Pak! Permisi!" Tegur kasir sekali lagi, dan membuat Saddam tersadar.


" Ah.. Iya berapa." Ucap Saddam dan mengambil kartu gesek dalam dompetnya.


*****


" Ada tamu?" Ulang Lintang, mendengar ucapan Ferdi.


memberitahukannya bila akan ada tamu donatur yang setiap satu bulan sekali datang menjenguk anak-anak singgah. Donatur yang selalu baik di mata anak-anak dan ferdi.


" Iya mbak, kita akan kedatangan tamu. Spesial.. orang itu baik sekali." Jawab Tina antusias


" Iya, sekalian makan siang bersama. Masnya gak masalah, malah mau makan bareng anak-anak mbak." Jawab Tina.


" baik banget?"


" Banget malahan mbak. Sama kayak mbak Lintang lah baiknya." Puji Tina.


Ferdi mengangguk, Benar apa yang di takatan Tina. Donatur satu ini sangat baik sekali, dan mau berbaur dengan anak-anak singgah, serta menyempatkan waltu bermain dengan mereka. Sama seperti Lintang, tak pernah putus kebaikan pada anak-anak singgah.


" Sudah berapa lama jadi donatur di sini?" Tanya Lintang.


" Hampir lima tahun ini mbak." Ingat Ferdi. " Masnya gak pernah absen setiap bulannya. Kadang kalau ada waktu luang bisa satu bulan dua kali ke sini." Imbuhnya.


Ya, tak pernah bolong untuk absen setiap bulan ke rumah singgah. Terkadang satu bulan bisa dua kali donatur itu datang, entah itu secara tiba-tiba atau menghubunginya dulu. Tapi yang jelas, donatur itu tak pernah merasa jijik bersama anak-anak singgah.


" Ya sudah, sini aku bantu masak."


" Eh.. Jangan mbak, mbak lintang duduk sa-,"


" Enggak apa-apa, aku juga sudah lama enggak masak buat kalian. Kalian gak kangen." Sambil tangan memulai membantu memetik sayuran.


Ferdi dan Tina saling memandang. Tak ada rasa canggung hingga memeluk lengan Lintang.


" Aku kangen banget sama masakan mbak! Kangen tempe sambel kemangi."


" Cck, gak ada yang lain?" Decak Lintang, menahan senyum.


Tempe sambel kemangi, di mana dulu mereka selalu makan bersama dengan lauk tempe hingga bosan. tapi tak pernah mengeluh. Karena mereka tau yang mencari nafkah untuk mereka hanya Lintang. Meskipun begitu Lintang tidak pantang menyerah untuk memberikan makanan enak, ya.. Walaupun hanya satu minggu sekali. Tapi mereka tetap bersyukur.


" Gak ada, hanya mbak yang bisa masak seenak itu dan aku gak bisa." Jujur Tina.


" Aku juga suka." Sahut Ferdi.


" Aku juga!" Seru Boni.


" Hi... Kalau soal makanan aja cepet banget!" Decak Tina.


" Makan nomer satu, yang lain baru nanti!" Sahutnya dengan nyengir kuda.


" Oke, aku buatkan." Semangat Lintang.


Ia juga merasa rindu dengan makan-makanan dulu yang dirinya buat untuk anak-anak singgah. Sudah lama rasanya tak makan dengan makan-makanan melokal.


" Mas Ferdi? Om Donatur sudah datang!" Ucap anak singgah.


" Iya sebentar." Jawab Ferdi. " Ayo mbak aku kenalin." Ajaknya pada Lintang.


" Untuk apa?"


" Biar orang tau kalau mbak yang bangun yayasan ini."


Lintang tersenyum. " Itu tidak perlu Ferdi. Aku tidak suka di sanjung, aku lebih suka menjadi orang biasa tanpa ada yang tau tentang kebaikan yang pernah kita buat." Jawab Lintang. " Kamu mengerti kan?" Imbuhnya.


" Tapi semua orang sudah tau dan mengenal nama mbak."


" Tapi tidak dengan wajahku." sahut cepat Lintang.


Ya, memang tak ada yang tau wajah pendiri Yayasan. Mereka hanya tau namanya saja dan bagaimana perjuangan anak muda mendirikan yayasan untuk anak-anak terlantar. Hingga banyak yang memuji kebaikannya.


" Sudah sana, temui dulu tamunya." Perintah Lintang. Membuat Ferdi mengangguk tersenyum.


Inilah yang Ferdi suka dari Lintang. Kesederhaan dan kedermawaannya.