
Memperhatikan setiap gerak saddam memasak, tak ada kesulitan bagi lelaki itu memegang pisau tajam untuk mengupas sayur dan bumbu dapur.
Setiap langkah saddam tak lepas dari mata Lintang menunggunya duduk di meja pantry, meskipun wajah saddam tak terlihat.
Membiarkan bahan apa saja yang di ambil saddam dalam lemari pendingin. Hanya bisa mengamati tanpa mau membantu lelaki itu. Bergumam dengan hati dan logikanya. Menyangkal apa yang ada di dalam isi kepalanya.
Dia tak sama.
Dia berbeda.
Dia, bukan kamu kan?
" Kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Saddam menoleh ke belakang, saat dirinya tak sengaja melihat Lintang merenung.
" Hhmm, tidak." Tersadar mendengar suara Saddam, tepat lelaki itu ada di hadapannya dengan senyum.
" Jangan ngelamun? Enggak baik, udah malam. Nanti kesambet gimana?" Imbuhnya, menepuk-nepuk kepala Lintang sebelum kembali lagi berkutat dengan masakannya.
Terkejut, tentu saja terkejut. Bukan karena perkataannya. Tapi karena sikap perlakuan saddam barusan.
Menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. Seperti... Dia, yang juga selalu memperlakukannya dulu. menepuk kepalanyanya dengan lembut dan tersenyum manis padanya.
Hanya dia yang berani melakukannya, dan kini, ada lelaki lain yang sama melakukan hal itu padanya.
Sama, tapi bukan dia.
Berdetak cepat jantung Lintang, mata seakan tak bisa lepas dari punggung lebar di hadapannya. Mengembun mata Lintang, seakan lelaki itu dia, yang selama ini ia rindukan.
Berdiri dari duduknya, berjalan tanpa mengedipkan mata ke arah lelaki itu di mana berdiri tegak membelakanginya.
Menggigit bibirnya, memperhatikan punggung lebar itu yang mungkin sama dengannya, bila lelaki yang di cintainya masih ada.
Perlahan Lintang maju, tanpa keraguan, tanpa berpikir, tanpa menyangkal lagi.
Saddam terkejut, tangannya berhenti mengaduk sayur dalam panci kala ada kepala seseorang menyandar di punggungnya.
Terdengar suara tangis tertahan, punggung yang mulai basah akibat tetesan air mata hingga ia ingin berbalik menghadapnya, tapi tertahan oleh ucapan wanita yang menyandarkan kepala di punggungnya.
" Biarkan aku begini sebentar saja." Lirih Lintang. memegang ke dua pinggang Saddam, tanpa membolehkan lelaki itu berbalik ke hadapannya.
Sebentar saja, ia ingin merasakan itu. Merasakan punggung untuknya bersandar dan menangis karena, 'dia' yang selalu di rindukan, yang selalu di hati dan membuatnya tak bisa berpaling.
Saddam membiarkan Lintang menangis bersandar di punggungnya, membiarkan punggungnya menjadi sandaran untuk wanita kuat yang tak tau kenapa tiba-tiba manangis malam ini.
Ada sesuatu yang di sembunyikan Lintang, ada yang rapuh dalam tangisan pelan dari wanita ini. hingga ia begitu saja tak malu menunjukkan pada dirinya.
" Aku butuh kamu, aku butuh kamu satya!" Ucapnya, dalam isakan Lintang menyebut nama lelaki yang sangat di cintainya.
Lelaki yang ia rindukan bahunya untuk bersandar, untuk menguatkan hatinya yang rapuh, untuknya berbagi keluh kesah.
Punggung yang seakan sama dengan lelaki yang di cintainya dan mata meneduhkan sama sepertinya.
Tapi itu bukan dia.
Bukan yang selalu di rindukannya, bukan orang yang ada di masa lalunya. Hanya ada lelaki baru yang bisa membuat Lintang menangis seperti 'dia'. Dan membiarkannya menjadi sandaran untuknya meraung saat ini.
Nama itu lagi yang terdengar Saddam dari bibir lintang, nama lelaki itu yang di sebut dalam tangisan wanita ini. Siapa lelaki itu hingga Lintang begitu membutuhkannya. Dan di mana lelaki itu sekarang, sampai tidak ada waktu bagi wanita yang bersandar menangis di punggungnya.
Begitu banyak yang ingin saddam tanyakan pada Lintang, begitu ingin Saddam menenangkannya, Memeluknya, memberi kekuatan pada wanita yang rapuh di belakang punggungnya ini. Hanya karena Lintang, membutuh 'dia'.
Saddam tak bisa, cengkraman tangan di pinggangnya seakan melarangnya untuk berbalik dan ingin menumpahkan semua tangisan pilu itu di punggungnya saja.
Saddam hanya bisa diam, membirkan Lintang menangis di punggungnya sebagai sandaran. Dengan hati yang berdebar dan juga sedih.
Puas Lintang menangis dalam sandaran punggung Saddam, perlahan ia melepas cengkraman tangannya dari pinggang Saddam, kepala kembali tegak untuk melihat punggung lelaki itu yang basah akibat air matanya.
" Maaf, kalau saya sudah lancang bersandar di pung-." Ucap Lintang
" Apa kamu sudah tenang sekarang." Sela Saddam, berbalik pada Lintang.
" Iya." Jawabnya, mendongak untuk menatap Saddam.
Ya, sedikit tenang hati Lintang saat bersandar di punggung Saddam. Menumpahkan semua perasaan yang selama ini ia pendam sendiri tanpa mau berbagi pada yang lain, kecuali 'dia' orang di masa lalunya. Tapi kini, ada lelaki lain yang sama seperti ' dia' begitu nyaman untuk menyandarkan keluh kesahnya.
Dan sadar, bila lelaki itu bukan dia. Hingga Lintang tak akan berani lagi menyandarkan keluh kesahnya di sana. Meskipun ia ingin sekali.
" Mau makan sekarang, apa mau cuci muka dulu?" Tawar Saddam, tak ingin membahas apa yang terjadi pada wanita di hadapannya ini.
Karena Saddam tau bila Lintang bukan wanita yang bisa begitu saja menceritakan tentang masa lalunya pada orang lain.
Terbukti Lintang menangis dan hanya mengucap sekali saja dengan menyebut nama satya serta membutuhkannya. Tanpa lagi mengucap apapun di bibirnya.
Mungkin, Lintang menahan ucapannya. Menahan apa yang ingin di sampaikan dalam isi hatinya. Karena dirinya, bukan Satya.
Mengusap wajahnya dengan ke dua tangan, tak menyangka ia harus menangis di hadapan seorang gm tempatnya bekerja.
" Saya mau cuci muka dulu." Ucap Lintang, menyadari akan menjadi momen yang sangat menyedihkan malam ini.
" Hmm, Saya tunggu." Kata Saddam, tersenyum membuat Lintang ikut tersenyum.
Memperhatikan lintang menuju kamar mandi, menghembuskan nafas pelan merasa kasihan dengan Lintang yang kini mencoba baik-baik saja di di hadapannya.
Semoga, semoga saja apa yang menjadi masalah Lintang cepat membaik dan tentunya wanita itu bisa tersenyum seperti dulu yang Ferdi katakan padanya.
Ya, hanya Ferdi, pengurus yayasan yang tau tentang cerita Lintang. Tentang masalalu wanita itu. Dan Saddam, ingin mengetahui cerita masalalu Lintang padanya nanti.
Di dalam kamar mandi, Lintang menatap dirinya sendiri dalam pantulan cermin. Mata sedikit membengkak akibat menangis yang sudah lama tak pernah ia rasakan dalam sandaran seseorang.
Sandaran itu sama seperti lelaki di masa lalunya, Menenangkan. Tapi itu bukan lelaki yang di cintainya, melainkan lelaki baru dalam lingkungannya. Lelaki yang entah keberapa selalu ada di saat dirinya ingin sendiri.
Tak pernah meminta, tapi dia begitu saja menawarkan diri. Tak bisa menolak, meskipun nyatanya menyangkal bila itu tidak boleh terjadi.
" Please Lintang, Please! Dia bukan Satya, dia bukan orang yang kamu cintai. Dia orang lain, dia orang lain Lintang!" Gumamnya sendiri, kembali meneteskan air mata.
Menangis membedakan Saddam dan Satya, yang sangat jelas tak sama. Tapi rasa itu.. sama pada lelaki masa lalunya.
Menghapus air mata, menghirup oksigen sedalam dalamnya dan menghembuskannya dengan pelan. Tak boleh menangis, ya Lintang tak boleh menangis.
Ia harus mengambil keputusan, meskipun itu gila bagi dirinya sendiri.