
" Aku pikir, mbak sudah lupa sama anak-anak singgah." Duduk bersama Lintang di ayunan anak-anak saling berhadapan.
Lintang tersenyum, mana mungkin Lintang melupakan anak-anak singgah. Rumah yang di perjuangkannya untuk mereka semua, yang juga pernah menghiasi kekosongan hati Lintang, sebelum ada lelaki yang masuk mengisi kehidupannya dan pergi untuk selamanya tanpa mengerti sakitnya bagaimana.
" Mana mungkin aku lupa. Maaf, kalau aku enggak pernah kasih kabar ke kalian." Ucap Lintang, begitu tenang dan lembut.
Meminta maaf pada lelaki yang sudah dewasa dan bisa di handalkan untuk mengurus rumah singgah tanpa dirinya sekarang.
Ya, dia adalah Ferdi. Di mana dia dulu anak pertama yang di tolong Lintang dari siksaan para preman, dan membuat Lintang ingin mempunyai rumah bagi anak-anak jalanan serta memberikan perlindungan untuk mereka.
Bersama Ferdi dan Tina, Lintang begitu semangat mengejar apa yang di inginkan. Menulis dan menjadi penerjemah flim inggris serta belajar otodidak berbahasa korea, itu pekerjaannya di waktu sekolah menengah. Rela begadang dan rela menjual kalung serta sepasang anting pemberian dari mamanya demi kontrakan rumah dan memulai kebutuhan anak-anak jalanan dulu.
Tidak mudah memang. Tapi tekat dan perjuangannya untuk bangkit bersama, membuat Lintang yakin. Ia bisa, pasti Bisa.
Hidup sebatang kara, membuat Lintang mengerti arti kerasnya hidup dan bertahan sendiri demi sesuap nasi.
Kenakalannya dulu, bukan karena lingkungan. Tapi karena kebebasan, tekanan perceraian ke dua orang tua, dan kemarahan yang ada di diri Lintang begitu saja. membuatnya menjadi gadis nakal dan tak berperasaan.
" Mas Bimo, mas galuh, sama mbak Yasmin ke sini. Mereka juga mengatakan mbak sibuk sekali.. Jarang juga memberi kabar. Tapi aku bersyukur, mas Bimo pernah bilang bila mbak baik-baik saja di sana." Terang Ferdi, tersenyum menatap Lintang dengan mata berkaca-kaca.
Rasa rindu Ferdi pada Lintang begitu besar sama seperti anak-anak singgah yang mengenal Lintang. Kebaikan Lintang, merawatnya dan memberikan rumah layak untuknya berteduh tak akan pernah Ferdi lupakan. Lintang sudah seperti orang tua dan kakak baginya. Hanya Lintang yang bisa melindunginya dulu, hanya gadis remaja yang mau berteman dengannya tanpa syarat. Hanya Lintang yang sangat sabar merawatnya di rumah sakit, membiayai semuanya tanpa meminta di kembalikan.
Lintang seperti malaikat tanpa sayap.
Tidak bisa membalas kebaikan Lintang sampai kapanpun, hanya bisa berdoa setiap ia merindukan Lintang. Dan berdoa semoga baik-baik saja di sana.
" Hhmm.. Pasti mereka juga marah seperti kamu, apa lagi aku pulang tidak memberi kabar." Lintang tersenyum kecil, membayangkan bagaimana Bimo dan Galuh bila marah karena tak memberi kabar tentang kepulangannya hingga sudah hampir satu bulan lamanya.
Yasmin yang tidak sengaja bertemu dengannya, begitu marah dan menangis karena kepulangan tanpa kabar apapun. Bagaiama reaksi kedua sahabat lelakinya itu? Sudah pasti akan lebih marah.
Ya, pastinya.
Apa lagi Bimo, Hah... Kecerewetannya akan melebihi Yasmin. Sampai sekarang pun mungkin akan menjadi lelaki yang cerewet.
" Mbak Lintang belum memberitahu mereka?" Telisik Ferdi. Tidak percaya apa yang di dengarnya.
Lintang menggelengkan kepala. " Aku belum memberitahu Bimo, sama Galuh. Tapi Kalau Yasmin.. gak sengaja bertemu di swalayan, sampai dia marah-marah di lihatin banyak orang."
" Tuh..kan, mbak Yasmin saja marah. Gimana kalau mas Bimo sama Mas Galuh nanti." cicit Ferdi. Lintang hanya mengangkat bahu, tidak tau juga bagaimana nanti bertemu mereka.
Hari semakin sore, Lintang menyempatkan mengobrol bersama dengan anak singgah, bercanda bersama, makan bersama di bawah alas karpet dan memesan makanan ringan begitu banyak lewat ojek online untuk anak-anak singgah, yang mungkin jarang mereka memakan makanan enak.
Kebersamaan dengan anak-anak singgah menjadikan hati Lintang sedikit ringan, melihat mereka tumbuh dengan layak membuat Lintang bahagia. Dan Perjuangannya dulu tak pernah sia-sia bagi anak yang terlantarkan.
" Aku pulang dulu, ini buat kebutuhan kalian." Pamit Lintang, memberi amplop putih berisi uang yang sudah di siapkan Lintang sebelum ke panti.
" Uang yang mbak kirim setiap bulan ke rekening kita masih ada, kenapa mbak ngasih lagi?" Ferdi menolak pemberian dari Lintang. Merasa uang yang di kirim Lintang melalui rekening khusus donatur belum terpakai sama sekali.
Ya, meskipun lintang tidak pernah memberi kabar pada anak-anak singgah. Tapi lintang tidak pernah putus memberi sumbangan pada rumah singgah setiap bulannya. Ia akan mentransfer lewat rekening rumah singgah yang sudah di daftarkannya sembilan tahun yang lalu.
" Ambil saja, jangan nolak. Tidak baik." Paksa Lintang. Membuat Ferdi menghembuskan nafas berat dan menerimanya dengan terpaksa. Karena ia tahu Lintang tidak suka di tolak bila pemberiannya begitu bermanfaat.
" Makasih mbak." Ucap Ferdi dan Tina bersamaan. Lintang mengangguk tersenyum, melangkah dengan kaki ringan menuju taksi yang sudah di pesannya. Dan membalas lambaian tangan dari anak-anak singgah yang mengantarkannya ke depan rumah.
Menatap luar jendela, menyaksikan germicik hujan yang mulai membasahi jalan. Menghembuskan nafas berat kala ia tidak menyangka akan kembali menetap di kota asalnya.
Bagaimanapun Lintang mencoba menghindar, tetap saja ia akan kembali ke tempatnya. Sembilan tahun bukan waktu singkat bagi ia berdamai kembali dengan masa lalu menyedihkannya. Ia akan menjalani kembali kehidupannya di tempat asalnya. Dengan sendiri tanpa, ada yang menemani.
Membuka tas, mengambil selembar foto yang tidak sengaja ia lihat di ruang khusus tamu donatur. Foto di mana sepuluh tahun sebelum lelaki itu pergi meninggalkannya, foto dengan baju seragam sekolah bersama dirinya, tiga sahabatnya dan anak-anak singgah yang tersenyum lepas di depan rumah singgah.
Lelaki itu yang ada di sampingnya, tersenyum lebar menatap kamera sambil merengkuh bahunya. Wajah yang teduh dan tidak bisa di lupakan. Bahu yang bisa membuatnya bersandar kala menangis. Pelukan penenang saat hati sedang kacau. Dan begitu sabar menghadapi kemarahannya.
Dia yang tak pernah putus asa mengejarnya, dia yang tak pernah marah dengan apa yang ia buat, dia yang meninggalkan sejuta kenangan terindah di hatinya. Dan dia yang membuat hatinya tertutup hingga sekarang.
Rindu...
Lintang merindukannya. Merindukan semua yang ada pada dia, tapi ia juga benci di tinggalkan begitu saja. tanpa bisa lagi melihat wajahnya, tanpa bisa membalas ucapan cinta yang menggantung di bibirnya.
Tanpa sadar air mata menetes di pipinya, sepuluh tahun tak pernah ingin melihat semua kenangan bersama dia lagi. Ini.. Untuk pertama kali ia melihat wajah lelaki itu dalam selembar foto, hingga membuatnya meneteskan air mata menahan sesak di dada.
" Aku kangen kamu.. Satya."