He'S Not You

He'S Not You
Bab 16



" Kamu sakit Lin? Wajah kamu kok kelihatan pucat gitu?" Tanya Riska, memperhatikan wajah Lintang sedikit pucat.


" Sedikit enggak enak badan." Jawab Lintang.


Ya, memang wajah Lintang sedikit pucat karena semalam ia harus menahan sakit begitu perih di perutnya. Akibat ia telat makan begitu lama dan ia juga melupakan sesuatu yang seharusnya siap ada bila ia sangat membutuhkannya.


Obat, di dalam kotak obat.


Dan Lintang lupa tidak membeli obat untuk persediaan di rumah. Dan keesokan pagi dirinya mampir ke apotik sebelum menuju ke kantor.


Ia tidak tau kapan mempunyai penyakit maag di tubuhnya. Setau Lintang dulu masih sekolah ia tidak punya masalah dengan perutnya, meskipun telat makan. Tapi semenjak ia kuliah di luar negeri, sedikit ada perubahan di tubuh lintang. Yang membuat perutnya sering kali merasa perih dan sakit di ulu hatinya, sampai terkadang ia mual akibat asam lambung yang naik begitu saja.


" Kamu sudah minum obat?" Tanya Riska." Istirahat saja dulu, ada ruang istirahat buat karyawan yang sakit." Imbuhnya.


" Nanggung, sebentar lagi juga selesai." Jawabnya Lintang, masih berkutat dengan komputernya.


" Mau aku pesenin makanan gak, biar kamu enggak perlu ke kantin." Tawar Riska, tidak tega melihat wajah pucat Lintang.


" Hmm.. Iya gakpapa." Setuju dengan ucapan Riska. Ia juga sudah tak sanggup untuk berdiri, rasa lemas di tubuhnya semakin menjalar saja.


" Mau apa?"


" Apa saja, yang pengting enggak pedas." Jawab Lintang, Membuat Riska mengangguk. Menyelesaikan kembali pekerjaannya sebelum ia pergi ke kantin.


Menyandarkan tubuh di kursinya, meluruskan kaki dan menutup mata sejenak untuk meredakan kepala yang berdenyut. Perut yang sedikit membaik, tapi tidak dengan kepala yang berdenyut dan berputar-putar bila ia memaksa berdiri. Mungkin efek kurangnya tidur semalam.


Ya, mungkin saja.


Lintang baru bisa tertidur di jam tiga pagi, bukan karena lampu sudah menyala, bukan juga karena tidak ada teman yang menemaninya tidur. Tapi karena.. Terbayang melihat mata itu seperti mata Satya.


Teduh dan menenangkan.


Lintang menampik. Dia bukan Satya, dan dia tidak ada kemiripan dengan Satya. Dia hanya orang asing yang datang membantunya, dan dia atasannya di tempat Lintang bekerja.


" Permisi mbak?" Membuat Lintang membuka mata. " Ini pesanannya mbak Lintang dari mbak Riska." Ucap OB lelaki membawa plastik berisi stairofoam.


" Makasih pak." Ucap Lintang menerima plastik dari ob.


" Sama-sama mbak." Jawabnya dan mengundurkan diri dari hadapan Lintang.


Ternyata Riska mempunyai rasa empati terhadap teman. Riska yang cerewet, bisa berubah menjadi khawatir padanya. Baru beberapa hari kenal Riska, ternyata Riska gadis baik. Ya, walaupun suka dengan kebebasan dan gudem.


Menikmati makan siang di dalam kubikel, meskipun rasa enggan tapi ia paksa. karena dirinya tidak ingin sakit dan tumbang. Berharap cepat pulang, agar ia bisa mengistirahatkan tubuhnya di kasur yang empuk.


" Kamu yakin gak mau bareng sama kita?" Tawar lagi Yolla, merasa kasihan juga melihat wajah Lintang pucat dan lelah.


" Enggak, lain kali saja.. aku sudah pesan ojek." Tolak sekali lagi penawaran dari Yolla dan Riska.


" Canselkan saja! Nanti kalau kamu pingsan di jalan gimana?" Kata Riska, masih mencoba membujuk Lintang untuk ikut pulang bersama.


" Tinggal bawa ke rumah sakit." Cetus Lintang, membuat Riska berdecak.


Lintang tersenyum. " Aku gak apa-apa. Udah sana, selagi jalanan belum macet."


Susah sekali memaksa Lintang untuk ikut bersama. Wanita ini memang sangat keras kepala, dan tidak ingin merepotkan orang lain. Padahal Riska dan Yolla tidak merasa di repotkan. Mereka malah senang dan ingin sekali ke rumah Lintang. Tapi Lintang bersikeras tidak ingin di antarkan, karena Lintang tau arah rumah mereka dan dirinya tidaklah sama.


Lintang mengangguk dan tersenyum. Memperhatikan kepergian Yolla dan Riska, masih setia duduk di depan resepsionis sambil memijat kening dan menutup mata. Berharap sakit kepalanya sedikit ringan. Tapi entah kenapa matanya semakin lama semakin berat sekali untuk di buka.


*****


Membuka mata perlahan-lahan, menggeliatkan tubuh saat ia merasa punggungnya terasa nyaman. memijat kening yang sudah tidak lagi sakit, tapi sinar cahaya lampu membuat matanya sedikit silau.


Mengerutkan kening, tersadar ia sedang berbaring di tempat sofa. Dan membuka mata lebar saat ia menyadari tidak berada di tempat kerjanya, melainkan di rumahnya sendiri.


Dia?


Managernya.


Saddam.


Lintang terpana, menatap lelaki tertidur dengan posisi duduk di sofa tunggal. Masih memakai pakaian kerja.


Apa yang terjadi dengan dirinya? Dan kenapa bisa lintang ada di rumahnya bersama lelaki ini. Seingat Lintang, dirinya berada di kantor sedang menunggu ojek online, tapi kenapa bisa ada di rumah dengan jarum jam yang sudah menunjuk angka sembilan malam.


Bimbang, apa lintang harus membangunkan lelaki itu atau membiarkannya tidur di rumahnya?


" Kamu sudah bangun." Suara serak mengejutkannya, membuat Lintang menatapnya.


Memposisikan tubuhnya untuk tegap, merenggangkan leher yamg kaku dan memijat pilipisnya.


" Saya tidak tau harus bawa kamu ke mana, satu jam nungguin kamu di lobby sampai malam, tetap kamu tidak bangun." Jelas Saddam. " Saya bawa kamu pulang, Maaf kalau sudah lancang membuka tas untuk ambil kunci rumah kamu." Imbuhnya.


Satu jam?


Apa ia pingsan, atau dirinya tertidur di lobby. Dan ia sama sekali tidak merasakan orang membangunkannya. Apa karena efek obat, atau karena dirinya memang lelah sekali.


Dan dirinya tertidur begitu lama sekali? Oh.. Hebat, Lintang tidak pernah seperti ini sebelumnya.


" Terima kasih." Ucap Lintang, keluar begitu saja dari bibirnya. Ia juga tidak tau harus mengucapkan apa lagi.


Marahpun juga tidak mungkin ia lakukan. Apa salah managernya.. Dia hanya menolong itu saja. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila tidak ada lelaki di hadapannya ini Mungkin.. Nasibnya akan lebih buruk, atau bisa lebih dari buruk.


Dan harus ia sesali kali ini? Lintang bodoh.. Tidak menerima tawaran dari Yolla dan Riska.


" Kalau begitu saya pulang dulu." Pamit Saddam, berdiri dari duduknya di ikuti Lintang yang ikut berdiri.


" Sekali lagi terima kasih." Ucap Lintang tulus.


" Sama-sama." Jawab Saddam, mengangguk tersenyum.


Menatap kepergian Saddam hingga mobil tidak lagi terlihat di depan rumah. Lintang menghembuskan nafas berat, seharusnya tidak perlu lagi bertemu dua atau tiga kali. ia tidak ingin ada lelaki dalam kehidupannya.


Menutup pintu, mata tak sengaja melihat plastik putih. Ia pun membukanya, menaikan alis melihat dua bungkus makanan dari restoran terkenal.


Saddam membelikannya.


Lagi-lagi lintang menghembuskan nafas berat. Apa yang di lakukan lelaki itu membuat dirinya merasa tidak nyaman.