
Dari lantai dua, Lintang memperhatikan ke bawah. Melihat anak-anak sedang bermain bola dengan tawa senang.
Ikut tersenyum bagaimana anak-anak singgah beriuh senang saat anak lain memasukkan bola dalam gawang. Dulu yang hanya di huni tujuh orang termasuk dirinya, kini menjadi belasan anak penghuni rumah singgah.
Kamar tidur yang layak, dan mendapatkan tempat kasur sendiri tanpa berbagi, tanpa berdesak-desakan. Rasanya senang, anak singgah bisa merasakan hidup layak, seperti anak lain.
Dan anak singgah juga mendapatkan bantuan sekolah hingga menengah atas.
" Saya tidak menyangka, bila kamu di balik pendiri yayasan ini." Ucap lelaki yang berada di sebelahnya, membuat Lintang menoleh ke dia. Hampir lima belas menit Lintang maupun dia tak mengucapkan sepatah kata pun.
Termasuk, saat mereka makan bersama dengan anak-anak singgah. Lintang hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tanpa bertegur sapa. Lebih menghabiskan waktu makan bersama anak-anak singgah serta membantu anak kecil belajar makan dengan benar dan tentunya Lintang begitu sabar sekali.
Tersenyum tipis, tidak menyangka pula harus bertemu dengan lelaki ini lagi. Dan dia, yang di puji anak-anak singgah karena kebaikan serta ketulusannya memberi sumbangan.
Dia, yang kini mengetahui Lintang sebagai pendiri yayasan rumah singgah.
" Terima kasih sudah mau berbagi dengan anak singgah selama ini, Pak Saddam." Ucap Lintang.
Ya, ' Dia', Saddam, general manajer di perusahaannya bekerja.
Saddam sempat tidak percaya melihat seluit tubuh wanita yang di kenalinya sedang membantu menyiapkan makanan anak-anak singgah di ruang tamu. Dan juga menenangkan anak perempuan yang menangis karena terjatuh dari ayunan.
Dan mata Saddam tidak salah, bila memang itu 'Dia', wanita yang membuat Saddam bisa tersenyum memikirkannya sedang berada di rumah singgah sekarang
Bertanya dengan pengurus rumah singgah. Hingga membuat Saddam terkejut mendengar pengurus itu menjawab.
" Itu mbak Lintang, yang mendirikan yayasan ini pak?"
Luar biasa, wanita itu ternyata pendiri yayasan rumah singgah. Bagaimana bisa dia mendirikan yayasan rumah singgah itu di sama sekolahnya. Rasanya tidak percaya, tapi saat melihat tanda tangan pemilik yayasan dan nama di bawah tanda tangan itu? Saddam percaya, dan takjub dengan Lintang. Wanita hebat, pintar dan juga.. Peduli dengan anak terlantar.
Saddam, Semakin mengaguminya.
" Sama-sama, bu Lintang." Jawab Saddam.
Menggelikan, Bukan mbak atau kakak. Melainkan Bu dalam panggilan depan Lintang.
Tersenyum tipis mendengarnya. " Panggil saja saya Lintang pak."
" Dan tolong panggil saya Saddam juga, bila di luar kerja." Sela Saddam.
Membuat Lintang mengerutkan kening, tapi kemudian terseyum tipis. Entah ia akan mengambil embel-embel tanpa ' bapak' atau tidak. Yang jelas, ia tidak mau berdebat.
" Apa yang membuat kamu dulu sampai mau mendirikan yayasan ini." Tanya Saddam, menoleh Lintang yang kini fokus dengan anak-anak bermain bola.
" Dulu ini bukan yayasan. Ini rumah kita. Rumah kontrakan bagi anak jalanan yang tidak tau harus tinggal di mana. Termasuk saya." Jawab Lintang. Membuat Saddam mengerutkan kening.
Termasuk saya. Apa itu Lintang juga anak jalanan? Rasanya tidak mungkin. Wanita di sampingnya seperti bukan anak jalanan. Lintang seperti anak mampu dan bisa meneruskan kuliahnya hingga ke luar negeri. Bukankah itu berarti dia anak orang kaya? Biaya di luar negeri juga tak murah, apa lagi tempat pendidikan Lintang, tempat pendidikan terkenal.
Ya, saddam sudah melihat cv lamaran Lintang. Dan tau wanita di sampingnya ini lulusan luar negeri. Dan bekerja dengan baik di perusahaan asing. Bukankah dia seharusnya bisa melamar menjadi sekertaris atau asisten? Tapi kenapa memilih bekerja sebagai marketing?
Rumah kita. Ya, dulunya memang bukan yayasan. Tapi rumah kita, rumah kontrakan yang di sewa Lintang untuknya dan juga anak-anak jalanan.
Sakit, marah, dendam dan juga benci.
Itu yang di rasakan Lintang dulu, sebelum menjadi dewasa dan mengerti arti kerasnya hidup.
" Mbak Lintang?" Panggil Tina, membuat Lintang dan Saddam berbalik.
" Anak-anak sudah menunggu." Ucap Tina,
" Hmm, iya." Jawab Lintang mengangguk dan tersenyum.
" Mari.. Anak-anak singgah sudah menunggu." Ajak Lintang pada Saddam.
Saddam tidak tau anak-anak singgah menunggu untuk apa. Ia pun menurut, mengikuti langkah kaki Lintang turun menuju ruang biasa berkumpul.
Saddam yang tidak tau kapan anak-anak sudah selesai bermain dan berkumpul kembali duduk di bawah alas karpet.
Tina membawa kue ulang tahun berwarna merah muda dengan motif prinses dan lilin berbentuk angka delapan.
" Qila?" Panggil Lintang pada anak perempuan duduk di pojok dekat pintu.
" Sini." Perintahnya dengan senyum.
Anak perempuan berponi menurut, berjalan menuju Lintang. Sedikit membungkuk untuk mensejajarkan tubuhnya pada anak berponi yang sudah di hadapannya. Tak luput dari Saddam yang masih memperhatikan Lintang berinteraksi dengan anak kecil.
Saddam berpikir dulu, anak perokok dan juga dingin tidak suka dengan anak kecil. Ternyata Saddam salah menilai Lintang.
" Senang gak tinggal di sini?" Tanya Lintang. Anak itu hanya mengangguk tersenyum.
" Betah.. Tinggal di sini?" Tanyanya lagi. dan masih sama, hanya mengangguk tanpa menjawab kata meskipun matanya sudah berkaca-kaca.
Mengusap kepala dengan lembut. " Mau peluk tante?" ucap Lintang, Entah kenapa seperti terhipnotis hingga gadis kecil itu menghambur dalam pelukan Lintang.
" Selamat ulang tahun, Qila sayang." kata Lintang, mengusap kepala dan memeluknya dengan penuh sayang.
Pecah sudah tangisan anak perempuan berponi di pelukan Lintang. tak ada yang pernah mengucapkan dan merayakan ulang tahun Qila selama ini. Satu tahun menghuni di rumah singgah karena sang ayah meninggal dan ibu menikah lagi, tapi dengan seorang duda yang tak mau kehadirannya. Hingga itu, Qila di titipkan di rumah singgah oleh ibunya.
Anak mana yang tidak marah dan sedih karena ibu kandung menitipkan anaknya sendiri ke yayasan rumah singgah. Sedangkan ibunya rela merawat anak suami barunya.
Sungguh, sakit sekali.
Lintang mengerti perasaan Qila, mengerti bagaimana di asingkan dan tinggal begitu saja tanpa menoleh ke belakang. Tapi Lintang juga tau bagaimana di posisi ibunya Qila.
Pilihan yang tepat, ibu Qila menitipkan sang anak ke rumah yayasan. Lebih baik begitu, dari pada di telantarkan di jalanan.
Suara nyanyian dan tepuk tangan dari anak-anak singgah untuk Qila. Memeriahkan ulang tahun Qila di rumah singgah, menjadikan yang pertama untuk anak berumur delapan tahun merasakan spesial di hari kelahirannya, meskipun tanpa orang tua. Dan Qila, tidaklah sendiri. Masih ada yang sayang dan menganggapnya saudara.
Saddam tersenyum, kini ia semakin kagum dengan Lintang.