
" Kamu?" Ucap lelaki itu, tidak sengaja di tabrak dua kali dengan wanita yang sama.
Lintang.
" Maaf." Ucap Lintang, meminta maaf kembali setelah tiga jam lalu menabraknya.
Dan entah kenapa ia bisa menabraknya hingga dua kali, di tempat yang berbeda pula. Lintang tau siapa yang di tabraknya, general manager di tempatnya bekerja. Yang di sukai para karyawan wanita termasuk Riska.
Pak Saddam.
" Iya. Tidak apa-apa." Jawab Saddam, tersenyum tipis menganggukkan kepala.
" Terima kasih, Mari." Pamit Lintang, memilih kembali mendorong trolly belanja berlawanan arah.
Saddam hanya bisa memperhatikan punggung wanita itu. Dia begitu saja meninggalkannya tanpa mau bertanya-tanya. Berbeda dengan wanita lain, bila bertemu dengan dirinya, Wanita itu akan lebih banyak bertanya pada Saddam. Lebih banyak menggoda terang-terangan dan terkadang ingin berlama-lama bersamanya.
Tapi lihatlah, sekarang ada wanita yang tidak begitu ingin berinteraksi lama-lama dengannya. Meskipun sudah dua kali dia menabraknya.
Lucunya, Saddam begitu saja tersenyum. Tersenyum dari hati untuk pertama kali pada wanita yang belum di kenalnya.
Saddam kembali memilih bahan makanan yang kebetulan memang sudah habis di apartemennya. Saddam tipe lelaki yang makanan sedikit memilih. Dan lebih senang membuat makanan sendiri di dapurnya.
Selesai memilih dan membayar belanjaannya di kasir. Saddam bergegas keluar swalayan menuju parkir. Terdengar suara hujan yang mulai membasahi bumi, ia pun meminta tolong pada satpam untuk memayunginya menuju mobil yang tidak terlalu jauh ia parkirkan.
Saat saddam hendak menyalakan mesin, matanya tidak sengaja kembali melihat Lintang bersama ojek online sedang menunggu hujan dengan membawa tiga kantong plastik besar. Memperhatikan gadis itu sedang mendongak melihat langit malam.
Hujan terlalu deras mungkin akan lama, jam di tangannya juga sudah menunjuk angka sembilan lebih. Saddam mendesah, mengambil payung yang selalu tersedia di mobilnya.
Ia tidak tau, apa ini benar atau salah menawarkan bantuan pada wanita berambut sebahu itu.
Payung berwarna biru itu berjalan menghampiri lintang, berhenti tepat di depannya. Membuat Lintang yang sedang mendongak menikmati hujan, menatap ke arahnya.
" Mari, saya antar pulang." Ucap Saddam.
" Tidak perlu pak, terima ka-,"
" Lebih baik di antar mas ini saja mbak, mbak kenal kan?" Potong bapak ojek, membuat Lintang dan Saddam menoleh.
" Kita satu kantor pak." Jawab Saddam.
" Nah.. teman satu kantor kan? Sama mas ini saja mbak.. Kalau nunggu hujan berhenti pasti lama. Saya juga lupa tidak bawa jas hujan." Jelasnya. " Enggak apa-apa kok mbak di cansel aja." Imbuhnya, membuat Lintang masih menatapnya.
Tidak enak juga bila harus menunggu, apa lagi hujan bertambah lebat. Di tambah dirinya belum makan malm, dan perut sedikit mulai terasa perih. Tawaran dari GM juga sangat bagus, tapi iya juga belum mengenal managernya itu.
" Mari, saya antar." Ucap Saddam lagi, mengerti ekspresi lintang saat ini.
Lintang menghembuskan nafas berat, tidak mungkin menolak kebaikan orang. Apa lagi itu managernya.
" Hhmm.. Iya." Jawab Lintang, menganggukkan kepala. " Sebentar." Imbuhnya sambil merogoh tas, mengambil uang lembar biru dan memberikannya pada bapak ojek yang senantiasa menunggunya.
" Ini buat bapak." Kata Lintang.
" Tapi mbak!"
" Tolong di ambil, sebagai ganti canselnya pak." Sergah Lintang, membuat ojek itu mengembilnya dengan senang.
" Terima kasih mbak." Ucapnya, pada Lintang. Senang mendapatkan uang biru dari Lintang yang tidak jadi memakai jasanya.
" Saya bawakan." Kata Saddam.
" Tidak perlu, makasih Pak. Saya bisa bawa sendiri." Tolak halus Lintang. Saddam tidak bisa memaksa, hanya mengangguk dan memulai berjalan beriringan dalam satu payung biru bersama.
Lintang dan Saddam sedikit menjaga jarak, Payung yang di pegang saddam lebih di arahkan pada Lintang agar air hujan tidak membasahi tubuh dia. Dan merelakan setelah bahunya terkena air hujan hingga membasahi baju berkera hitam.
Membuka pintu mobil depan untuk Lintang, dan berputar untuk masuk ke tempat duduknya.
" Taruh saja di belakang." Perintah Saddam, melihat kantong plastik setengah basah itu ada di bawah kaki Lintang.
Lintang menurut, menaruh kantong plastik itu ke tempat belakang di bantu Saddam tentunya.
" Rumah kamu di mana?" Tanya Saddam, menghidupkan mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hujan semakin lebat hingga pandangan di malam hari sedikit terganggu. Apa lagi belun dengan adanya banjir, sungguh mobil saddam tidak bisa melaju cepat begitu saja.
Tidak ada percakapan di antara mereka. Lintang yang memilih melihat jendela dan saddam lebih fokus dengan jalanan.
Perjalanan menuju rumah Lintang tiga puluh menit dan masih setianya dengan hujan. Rumah sederhana dengan pagar hitam.
" Tunggu di sini jangan keluar dulu." Larang Saddam, melihat Lintang yang akan membuka pintu mobil begitu saja tanpa payung.
Saddam memutar, membuka pintu Lintang untuk memayunginya dan mengambil tiga kantong plastik di kursi belakang.
" Lebih baik di sini dulu, hujannya masih deras." Kata Lintang sudah berada di teras bersama Saddam.
Saddam mengangguk, Ya lebih baik ia menunggu hujan sedikit reda di rumah gadis ini. Baju yang ia kenakan juga basah kembali saat memayungi gadis itu sampai ke teras rumah.
Saddam melangkah masuk ke dalam rumah, Kesan pertama yang Saddam lihat, rumah tidak terlalu banyak dengan barang. Hanya terdapat sofa tamu dan tv berukuran sedang di atas laci putih.
Rumah ini seperti baru di tempati, terbukti tidak ada banyak barang di dalam rumah. terlihat luas dan bersih. Saddam duduk di sofa sambil membasuh kepalanya yang basah dengan sela-sela jarinya.
Sempat menggelengkan kepala, melihat sebungkus rokok dan pematiknya ada di meja kaca. Tak lupa dengan asbak putih di samping rokok.
Gadis ini, benar-benar perokok.
" Pakai ini." Kata Lintang, datang membawa handuk bersih berwarna biru.
" Terima kasih." Jawab Saddam, menerima handuk di tangan lintang.
" Maaf, boleh saya numpang ke kamar mandi?"
Tidak mungkin Lintang melarang, ia menunjukkan tempat kamar mandi tepat berada di samping dapur. Selagi managernya itu sedang berada di kamar mandi, ia membuatkan minuman hangat untuk tamu yang sudah mengantarkannya pulang.
" Maaf, hanya bisa buatkan ini saja." Ucap Lintang, menaruh dua cangkir teh di meja tamu.
Menyingkirkan asbak dan rokok di bawah meja. Ya, walaupun sebenarnya tidak perlu di singkirkan juga karena saddam sudah melihatnya.
" Tidak apa-apa, makasih." Jawab Saddam tersenyum, mengambil cangkir teh untuk siap ia seduh.
Teh hangat terasa pas di lidah Saddam.
" Nama kamu siapa?" Tanya Saddam.
" Lintang." Jawabnya, Menghangatkan ke dua telapak tangan dengan cangkir teh hangat.
Saddam hanya mengangguk, ia tidak tau lagi harus berbicara apa. Gadis yang pendiam, tidak banyak bicara. Sedangkan dirinya tidak terlalu pandai bertanya-tanya pada wanita.
Saddam maupun Lintang memilih untuk menyibukkan diri pada ponsel. Bungung, mau bertanya apa lagi, sedangkan Lintang juga tidak bertanya apa-apa padanya.
Sudah tiga puluh menit di rumah Lintang, hujan juga tidak terlalu deras lagi. Saddam berdehem, membuat Lintang menatapnya.
" Saya pamit pulang, hujannya juga sudah mulai reda." Pamit Saddam.
" Iya." Jawab Lintang, ikut berdiri mengantarkan Saddam ke luar rumah.
Belum sampai di ambang pintu, lampu begitu saja padam dan menjadi gelap hingga membuat Lintang serta Saddam berhenti jalan. bukan itu yang lintang terkejut, tapi suara petir membuat Lintang memanggil nama lelaki lain hingga tanpa sadar mencengkam baju saddam.
" Satya." Ucap Lintang
.
.
.
.🍀🍀🍀🍀
Jangan lupa mampir juga ya, di cerita Diary, kertas kuning.
Terima kasih.😊😊😊