
Hangatnya matahari dengan sinar cerah, secerah wajah dua insan tersenyum menyambut pagi hari, dengan balasan senyuman sapaan yang memikat siapa saja yang menyapa.
Pagi ini ada yang berbeda, dua anak manusia begitu ramah senyum pada semua orang. Tak bisa di pungkiri, beginikah menjalin kasmaran di usia yang tak lagi muda. Menjadi anak remaja kembali untuk menjalin cinta entah siapa dulu yang memulainya.
Saling mencuri kesempatan memandang bersamaan. Sepakat untuk tidak terlebih dulu mengumbar jalinan kasih pada siapapun, termasuk orang kantor.
Bukan tak ingin memamerkan hubungan, tapi memang tak ingin saja hubungan mereka di ketahui anak kantor. Karena itu akan membuat gosip yang tidak-tidak, terutama bagi Lintang.
Ya, bagi Saddam ia tak ingin Lintang menjadi bahan gosip para karyawan wanita karena berpacaran dengannya. Cukup sekali saja, saat menggendong Lintang yang pingsan di kantor dan kekhawatirannya terlihat oleh anak kantor. Hingga menjadi gosip yang tidak-tidak pagi harinya.
Merahasiakan dulu juga lebih baik, bagi dirinya dan Lintang berpacaran tak harus memberitahukan pada dunia juga kan? Tak perlu mengumbar kemesraan juga di kantor. Karena itu tak akan baik bagi karir maupun contoh untuk bawahan.
Dan Lintang juga beruntung Saddam memahami dirinya.
Tunggu saya di parkiran, kita pulang bersama." Pesan Saddam pada Lintang.
Tersenyum tipis, pertama kali Saddam mengirim pesan padanya setelah saling meminta nomer telpon.
Ah... Ternyata selama ini Lintang maupun Saddam tak memiliki nomer ponsel. Tak pernah ada komunikasi di antara mereka lewat benda pipih tipis.
Nomer pribadi saddam, nomer yang siapapun tak tau kecuali Lintang dan sekertarisnya saja.
Iya." Jawab pesan Saddam, kembali berkutat dengan komputer menunggu sore akan tiba.
****
" Dari tadi?" Tanya Saddam, menghampiri Lintang di ujung parkiran. Tersenyum mengembang kini ada yang menunggunya selesai bekerja.
" Tidak, barusan aku keluar." Jawab Lintang.
" Hmm, ayo pulang."
Lintang mengangguk tersenyum, berjalan beriringan dengan Saddam yang kini berani menyentuh punggungnya.
" Kamu capek?" Tanya Saddam, membuka jas menaruhnya di kursi belakang dan membuka kancing lengan menggulung kemeja biru sebatas siku.
Lintang suka sekali bila Saddam memakai kemeja dengan lengan yang tergulung sebatas siku. Kharisma Saddam begitu keluar, wajah lelah seperti tak terlihat di wajah Saddam.
" Kenapa lihat-lihat.. Hmm?" Colek hidung Lintang, mendapat tatapan dari kekasihnya tanpa berkedip.
" Iya saya tau, kalau kekasih kamu ini tampan sekali." Tambahnya di ikuti senyum tipis.
" Masak sih, sini coba lihat."
Menyerongkan tubuh. tanpa di sangka, ke dua tangan Lintang merengkuh pipi Saddam membawanya untuk menghadap dirinya dan memperhatikan seksama wajah yang memang sangat tampan itu di kala senja datang, mata iris coklat yang selalu Lintang suka.
Mendapat sentuhan tangan Lintang berada di pipinya, Saddam tentu terkejut dan jantung berdebar begitu cepat. Sebenari ini Lintang memulai menjalin kasih padanya? Berdoa semoga Lintang tak mendengarnya dengan jarak di antara mereka begitu dekat.
" Hhmm, memang tampan. Pantas saja banyak karyawan wanita yang menyukai kamu." Celetuk Lintang jujur, masih memperhatikan wajah seksama Saddam dari dekat dan mengusap lembut pipi lelaki itu tanpa ada bekas jerawat atau bulu-bulu tipis di harangnya dan Saddam yang kini sedang menahan sesuatu.
Sesuatu yang sudah mulai menguasai otaknya. Menatap bibir tipis Lintang sangat menggoda. Sejak kapan? Entahlah, tapi Saddam benar-benar akan tersiksa bila begini terus.
" Dan hanya satu wanita yang mampu membuat saya tertarik, yaitu kamu." Saddam, meraih ke dua tangan Lintang dalam pipinya dan mengecup dua punggung tangan putih itu bergantian.
Menahan senyuman, pipi mereh merona akibat Saddam mencium punggung tangannya.
" Ih.. apaan sih!" Seru Lintang, menutupi rasa gugup dan malunya. Menarik ke dua tangan dan kembali duduk lurus menghadap depan.
Sungguh ini jantung mulai berdetak.
Saddam terkekeh kecil, mengacak rambut Lintang dengan gemas. Kini kembali menikmati rasa kasmaran setelah lima tahun menjomblo.
" Mau makan di rumah, atau keluar?" Tawar Saddam, menyalakan mesin mobil dan berlenggak menuju jalanan padat kendaraan.
" Bisa antarkan aku ke swalayan, stock bahan makanan di kulkas habis." Ucap Lintang, membuka tas kerja mencari ponsel di dalamnya.
Semua kebutuhan rumah sudah ia catat apa saja yang habis, jadi tak perlu Lintang mengigat-ingat kembali dan sebagai anak kontrakan tak ingin juga menyia-nyiakan uang yang keluar hanya karena tak penting.
" Bisa, buat kamu apa yang enggak." Mengedipkan mata sebelah, menggoda Lintang adalah kesenangannya mulai hari ini.
Bukannya seperti ini cara menggoda kekasihnya. Bertambah merah pipi Lintang, berdecak menundukkan kepala agar senyumannya tak terlihat oleh Saddam.
Sesampainya di swalayan, Saddam seperti seorang suami mendorong trolly mengikuti langkah istrinya sedang mencari-cari kebutuhan dapur dari lorong ke lorong rak panjang.
Ketika tangan tak sampai mengambil barang, Saddam dengan sigap mengambil apa yang di inginkan Lintang. Berada di belakang dan bisa mencium harum rambut Lintang. Mengedipkan mata sambil menggoda kekasihnya berkali-kali. Suka sekali dengan pipi merona Lintang yang alami tanpa make up.
" Lintang!" Seru panggil seorang wanita, ketika berada di bagian sayur.
Lintang dan Saddam menoleh bersamaan. Lintang tersenyum siapa yang memanggil dan menghampirinya bersama anak kecil serta suaminya.
" Apa enggak kurang jauh kamu belanja sampai sini?" Tanya Lintang, mengambil anak kecil dalam trolly dan mencium pipinya dengan gemas.
" Hay kak?" Sapa Lintang pada suaminya.
" Hay juga." Balasnya tersenyum.
" Aku sama Kak aiman Mau ke rumah mama? Makanya mau mampir ke sini dulu, cari buah tangan." Jawabnya.
Ya, Lintang baru tau bila mertua sahabatnya ini juga tinggal di daerah yang sama dengannya. Hingga itu sering sekali yasmin mengajak bertemu dengannya, kadang tanpa di sengaja juga bertemu. Datang tak di undang pun tiba-tiba sudah di depan rumah.
" Sama siapa?" Bisik Yasmin, melihat lelaki di belakang Lintang sedang memegang trolly.
Lintang menoleh ke belakang. " Kenalin, atasan aku, pak Saddam." Ucap Lintang, mengenalkan Saddam sebagai atasannya. Bukan kekasihnya.
" Saddam." Ucap Saddam, tersenyum ramah pada wanita yang memanggil Lintang.
" Saya Yasmin sahabat Lintang, dan ini suami saya." Ucap Yasmin mengenalkan diri pada atasan Lintang. Sambil mengulurkan tangan, untuk berjabat tangan, dan Saddam membalas jabatan tangan Yasmin bergantian dengan suaminya.
" Aiman." Ucap Aiman.
" Saddam." Balas Saddam.
Sedikit ada rasa yang berbeda, kala Lintang mengenalkan dirinya sebagai atasan pada sahabatnya. Sebagai orang yang selingkuh pasti tentunya tak ingin orang tau, apa lagi sahabatnya sendiri. Hingga itu Saddam mencoba memahaminya. Meskipun suatu saat akan ada yang sakit hati.
Dan Lintang tak mungkin mengenalkan Saddam sebagai kekasihnya. Karena hatinya belum pasti menentukan yang mana.