He'S Not You

He'S Not You
Bab 7



" Kamu beneran mau ninggalin bunda mbak?" Tanya ulang Saskia, tidak bisa merelakan kepergian putri tirinya yang sudah memutuskan dan membuatnya sedikit kecewa.


" Aku masih di sini bunda. Aku gak akan kemana-mana."


" Tapi kamu gak mau tinggal di rumah bunda mbak?" Selanya. Membuat Lintang tersenyum dan mengusap-usap tangan lembut Bunda.


Inilah ini yang akan di ucapkan bunda.


" Bukan aku tidak mau tinggal di rumah Bunda. Tapi kantor tempat aku kerja sekarang lumayan jauh dari rumah bunda. Kalau bolak balik pasti capek di jalan, takut telat juga. Nanti Kalau libur kantor Lintang pasti akan pulang." Terangnya dengan jelas dan lembut.


Ya, Lintang sudah memutuskan tidak lagi kembali ke luar negeri dan memilih resain dari perusahaan tempatnya bekerja melalui surat email yang di buatnya du minggu lalu. Meskipun di sayangkan oleh pihak hrd, karena keluar dari perusahaan yang sudah hampir empat tahun itu dan membuat perusahaan sedikit kehilangan karyawan teladan serta cekatan seperti Lintang.


Bukan pihak perusahaan saja yang kehilangan Lintang, tapi juga teman-teman lintang yang bekerja disana juga merasa kehilangan. Tak ada perpisahan yang dramatis saling memeluk dan menangis, hanya melalui vidio call Lintang berpamitan dan mengucapkan terima kasihnya pada teman-teman kantornya .


Dan mengenai masalah pakaian serta dokumen-dokumen penting Lintang. Ia sudah meminta tolong pada temannya untuk mengemasi dokumen saja dan mengirimkan ke negaranya. Sedangkan yang lainnya bisa di sumbangkan pada yang membutuhkan.


Kini Lintang memulai semuanya dari awal, seperti ia memulai kehidupan awalnya di negara orang dengan sendiri.


" Janji, setiap libur kantor mbak harus tidur di rumah bunda."


" Hhmm, iya." Hanya mengangguk tanpa mengucapkan janji.


Karena janji, sulit untuk di tepati.


Saskia, merelakan putri tirinya untuk pergi dari rumahnya meskipun sebenarnya sangat berat walaupun itu bukan pergi keluar negeri.


Tapi setidaknya Saskia bisa menjenguk putrinya kapanpun yang di inginkan. Setiap hari pun ia rela, hanya satu jam perjalanan menuju tempat tinggal putrinya.


" Aku pamit bun. Bunda jaga kesehatan, jangan telat makan, istirahat yang banyak juga.." Ucap Lintang, mengusap-usap tangan bundanya dengan tulus, setulus ibu tirinya yang menyayanginya tanpa paksaan.


" hati-hati, sering telpon bunda ya mbak. Jangan lupa tengokin bunda juga." Kata Saskia, mata mulai berembun saat putri tirinya berpamitan padanya.


Berat, sungguh berat. Karena ia harus berpisah dengan Lintang. Sebenarnya ia tahu kenapa putri tirinya ini tak mau tinggal dengannya. Bukan karena dirinya jahat, bukan. Tapi karena sudah tidak ada lagi ayah kandungnya di rumah ibu tirinya. Dan Lintang mungkin merasa sungkan bila masih di rumah ibu tirinya.


Mengantar Lintang ke depan rumah, di sambut Abbas dan Ali yang sudah selesai memasukkan koper dalam bagasi mobil.


Ali menghampiri kakak perempuannya. " Aku boleh kan main ke kontrakan mbak kan." Ucap Ali dengan wajah sendu.


" Hhmm.. Boleh. Asal tidak ada kata bolos sekolah." Jawab Lintang, membuat Ali mengangguk tersenyum.


" Mau peluk." Ucap Ali, Lintang merentangkan kedua tangan tanpa paksaan. Ali menyambutnya dan memeluk kakak tiri yang begitu baik padanya, sudah menganggap sebagai kakak kandungnya sendiri.


" Sering-sering pulang ke rumah, jenguk bunda sama aku mbak. Di rumah sekarang sepi, gak ada mbak sama mas abbas."


" Iya, mbak akan sering pulang ke rumah." Jawab Lintang, menepuk-nepuk pelan punggung Ali.


Melepas pelukan dan tersenyum melihat adik bontotnya menangisi dirinya pergi. Ali sama seperti bunda, yang terlalu sensitif hingga gampang sekali menangis.


" Abbas berangkat dulu bun, jagan kesahatan jangan telat makan." Pamit Abbas pada bunda, mencium tangan punggung bundanya sebelum pergi.


Ya, selama ini jarang putranya pulang ke rumah bila bukan di paksa oleh Bundanya. Mungkin karena pekerjaan yang begitu banyak, dan sangat melelahkan bagi Abbas. Hingga ia terkadang malas untuk pulang ke rumah bunda, bila tidak di desak sang bunda dengan bilang Kangen.


Maklum saja, abbas bekerja di luar kota dengan jarak yang lumayan jauh. Di kota sana abbas memilih tempat indekos khusus lelaki dengan bajet yang lumayan mahal setiap bulan, tapi sepadan dengan tempat yang nyaman, luas serta bersih.


Mengantarkan Lintang terlebih dulu menuju tempat tinggal barunya dan ingin tahu di mana Lintang akan bekerja.


Melambaikan tangan melihat mobil anaknya mulai menjauh, ada rasa sedih dan sedikit tidak rela di tinggalkan. Tapi karena mengais mencari rejeki, Saskia hanya bisa mendoakan semoga ke dua anaknya baik-baik saja di luar sana.


Lintang memberitahukan alamat kontrakan barunya yang sudah ia sewa tiga hari yang lalu, dengan modal aplikasi petunjuk jalan Abbas sudah mengerti di mana Lintang akan tinggal.


Tak ada percakapan dalam mobil, Lintang memilih melihat jalanan dengan pikiran yang begitu banyak. Di mana ia juga sedikit merasa bersalah karena sudah meninggalkan ibu dan adiknya di rumah besar itu sendiri.


Satu jam perjalanan, mobil abbas sudah memasuki jalan perumahan dengan teriknya panas matahari. Rumah minimalis dengan pagar hitam. Lintang turun dengan Abbas, membuka kunci gerbang untuk masuk ke dalam rumah, tidak terlalu besar tapi cukup luas bagi lintang yang menempati rumah itu sendiri.


Lintang lebih suka menyendiri, mangka dari itu ia lebih memilih kontrakan dari pada indekos yang pastinya akan berisik bagi Lintang.


Kesan pertama masuk ke dalam rumah, tidak ada barang apa-apa di sana. terdapat dua kamr tidur, ruang tamu, ruang makan dan dapur serta kamar mandi bersebelahan.


" Belum ada apa-apa mbak." Ucap Abbas, melihat kontrakan baeu Lintang belum terdapat apa-apa.


Lintang mengangguk, ia juga belum membeli barang apapun untuk rumah kontrakannya.


Abbas menatap jam tangan. " Ayo, aku antar berbelanja mbak."


Lintang menoleh." Sudah siang, kamu berangkat saja. Nanti kemalaman nyampai sana. Besok kamu sudah mulai kerja kan?"


" Enggak apa-apa mbak, ayo. Masih ada banyak waktu. Besok aku juga masih libur." Ucap Abbas, membuat Lintang mengerutkan kening.


Bukannya Abbas bilang sendiri pada bunda bila besok sudah akan mulai bekerja, kenapa ini malah sebaliknya bilang lintang?


" Udah...Ayo." Abbas membalikkan badan Lintang dan mendorongnya dengan pelan untuk keluar rumah.


" Kamu bohong sama Bunda?"


" Enggak bohong mbak! aku lupa kalau cutiku ternyata masih ada sampai besok. " Jelas Abbas.


Sebenarnya tidak lupa, tapi memang ia sengaja mengatakan pada bundanya bila ia akan kembali bekerja. Dan kebetulan Lintang mengatakan bila dia sudah menemukan tempat tinggal serta pekerjaan baru. Mangka dari itu, Abbas bisa mengantarkan Lintang. Karena ia jug tau pasti Lintang membutuhkan sesuatu untuk di dalam kontrakan barunya.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃