
" Mbak Lintang!" Teriak remaja lelaki melambaikan tangan tersenyum mengembang melihat wanita dewasa berjalan keluar dari pemeriksaan bandara sambil membawa koper dan tas di punggungnya.
Wanita itu tersenyum, berjalan menghampiri lelaki muda yang sudah delapan tahun tak pernah ia temui secara langsung. Hanya lewat virtual saja saling menanyakan kabar dan juga keadaan. Bila bukan remaja lelaki itu dulu yang menelpon dan juga memberi kabar keluarga.
Remaja lelaki itu berlari kecil, menghampiri wanita yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi kakak perempuan dan juga selalu memanjakannya di setiap dirinya menginginkan sesuatu. hingga terkadang sang ibu memarahinya, karena suka merepotkan kakak perempuan yang bekerja di luar negeri serta menempuh pendidikan di sana tanpa merepotkan keluarganya selama sepuluh tahun.
" Mbak Lintang!" Sapanya, dengan mata yang mulai menggelinang air mata. Lama tak pernah bertemu langsung, membuat rindu kakaknya semakin besar. Serta beban hati mulai sedikit ringan.
Remaja lelaki itu memeluk tubuh Lintang, menangis di pundak sang kakak yang selama ini dirinya sayang, meskipun ia tau bila tak sedarah dengan wanita yang di peluknya.
Tubuh yang semakin kekar dan tinggi melebihi dirinya, membuat Lintang sedikit berjinjit membalas pelukan sang adik ke dua yang selama ini selalu mengeluh dan manja padanya.
Dia yang selalu menelpon dan mengirim pesan padanya, dia yang selalu menanya kabar dan juga mengabadikan kegiatan apa saja tentang dirinya serta keluarganya. Dia juga yang selalu mengganggu dirinya di saat jam kerja maupun jam istirahat tidurnya. Dan dia yang selalu dirinya sayang meskipun ia tau, remaja lelaki bukan adik kandungnya.
Lintang ikut meneteskan air mata. delapan tahun bukan waktu sebentar untuk kembali lagi ke negaranya. Butuh waktu dirinya menginjakkan ke negaranya dan pulang dengan hati yang kembali lagi rapuh, walau tak serapuh dulu saat meninggalkan negara dan keluarganya.
" Aku kangen mbak." Ucap remaja lelaki itu.
" Mbak juga kangen kamu, al." Jawab Lintang, menepuk-nepuk punggung adik ke dua dan melepaskan pelukannya.
Menatap Ali, yang memang tinggi, tampan serta manja sekali dengannya. Selama dua tahun bersama Ali yang masih kecil dulu, ia melihat perubahan fisik adiknya, tapi tidak dengan sifat dia yang manja dan sedikit cengeng dengan dirinya sampai sekarang.
" Sama siapa?" Tanya Lintang.
" Sendiri mbak, Mas abbas jaga bunda." Jawab Ali.
Lintang mengangguk, tak mempermasalahkan siapa yang menjemputnya. Karena prioritasnya sekarang adalah bundanya.
" Bunda masih di rumah sakit?"
" Iya." Sambil mengangguk.
" Kita langsung ke rumah sakit saja." Kata Lintang.
" Tidak ke Ayah du-,"
" Nanti saja, mbak pengen lihat bunda dulu." Potong Lintang, menepuk lengan Ali.
Ali hanya bisa mengangguk, tersenyum tipis. Membawa koper Lintang dan berjalan bersama menuju parkir bandara.
Perbedaan selisih delapan tahun dengannya, tak membuat Lintang menjadi tua. Dia wanita dewasa yang masih seperti gadis tanpa make up dan tampilan seksi seperti yang lain.
Menuju ke rumah sakit, tak ada pertanyaan suasana di luar negeri selama di sana. Hanya kediaman yang membisu di antara adik dan kakak. Masih bertanya-tanya dalam pikiran Lintang.
Kenapa ini terjadi?
Bagaimana harus menguatkannya?
Sedangkan dirinya? Ia tidak tahu. Hatinya tak serapuh dulu, walaupun kenyataannya air mata sulit sekali membohongi.
Menatap sang adik yang mengemudikan mobil miliknya sendiri. Hadiah pemberiannya di hari ulang tahun ke sembilan belas dan lolos masuk ke universitas negeri dengan hasil kepintarannya sendiri.
Lintang bangga dengan sang adik terakhirnya, walaupun manja tapi dia selalu berusaha menunjukkan kepintaran serta rasa bisanya apa yang ia lakukan tanpa meminta bantuan pada orang lain. Kecuali dia tak mampu sendiri.
Diamnya adik, tersirat rasa sedih dan hancur. Lintang bisa memahami dan ia juga bisa mengerti bagaimana suasana hati Ali saat ini.
Lintang mengusap bahu ali, membuat Ali menoleh saat mobil berhenti di lampu merah.
Menatap sang kakak perempuannya. Tidak tahu bagaimana saat ini hati kakak perempuannya ini. sepuluh tahun, Ali bisa lihat sendiri bagaimana komunikasi Lintang dengan sang ayah. Tak seperti bundanya, yang selalu bertanya-tanya tentang keseharian kakak, tentang kabar dan apa yang di lakukannya melalui vidio call.
Ayahnya jarang menelpon, tapi Ali tahu ayahnya sangat sayang sekali dengan kakak perempuannya. Anak yang selalu di khawatirkan ayahnya dan anak yang sangat di sayangnya, tapi sangat sulit menunjukkan kasih sayang pada sang anak sedari dulu.
Dua tahun bersama Lintang dulu. Lintang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar dan di kamar. Jarang sekali kakak perempuannya itu berkumpul dengan keluarga atau berlibur bersama keluarga.
Yang Ali tahu, Lintang orang yang pendiam. Jarang berbicara bila tidak di ajak berbicara terlebih dulu, dan jarang sekali keluar kamar bila bukan bundanya menyuruhnya untuk keluar dan makan bersama.
Berkumpul bersama saudarapun tak pernah Ali melihat kakak perempuannya itu ikut. Yang ada Lintang mengatakan pada bundanya.
"Maaf bun, Lintang ada kerja kelompok sama teman."
Setiap kali itu alasan Lintang, meskipun di paksa bagaimana pun Lintang tak akan mau. Walaupun itu Ayahnya sendiri, dan ia akan lebih melawan pada Ayahnya dari pada Bundanya.
Bila sudah begitu, akan ada terjadi keributan lagi di antara anak dan ayah. Dan Bunda, akan melerai serta merasa bersalah sendiri karena memaksa sang anak yang tak mau ikut berkumpul bersama keluarga.
Keemosian dan kebisuan sang kakak terlihat saat Lintang menginjak kelas dua belas dan di mana dirinya pernah mendengar, bila dia kehilangan salah satu sahabat yang selalu ada di sisinya. Dan itu membuat kakaknya kembali seperti dulu, satu tahun saat kakak perempuannya menginjak di rumah bunda.
Dimana ia sempat takut dengan Lintang. Tapi nyatanya, Lintang kakak yang baik dan selalu mengajarinya belajar serta membantunya mengerjakan pr sekolah. Berbeda dengan kakak laki-lakinya, yang sedikit galak dan juga jail padany dulu. Tak pernah mau membantunya mengerjakan pr, kecuali terpaksa bila bundanya yang meminta.
Masa kecil dulu bersama dua kakaknya, membuat Ali tersenyum dan meneteskan air mata. Kini dua kakaknya kembali lagi berkumpul dengannya, meskipun ada kurang lengkap sekarang.