
Mengetuk meja dengan bulpoin di tangan, meremas kuat saat mengingat kembali ucapan Ali tentang kecelakaan ke dua orang tuanya dan mengakibatkan sang ayah meninggal, serta membuat bundanya menangis.
" Aku lihat kakak gadis itu yang menabrak mobil ayah mbak."
" Kakaknya datang di pemakaman ayah, mengucapkan bela sungkawa dan meminta maaf."
" Tapi aku tidak terima, adiknya bebas begitu saja."
" Itu tidak adil mbak? Bunda setiap hari menangisi kepergian ayah. Tapi gadis itu! Aku enggak terima mbak! Aku gak terima."
Ucapan Ali terngiang di otaknya, kesedihan ali kehilangan ayahnya masih terlihat jelas di matanya. Rasa tidak terima begitu saja ayah meninggalkan mereka dengan cara mengenaskan. Di tambah, pelaku itu bebas tanpa syarat.
Sungguh, dunia ini tidak adil.
Ali anak yang paling dekat sekali dengan Ayah. Hingga itu kenapa Ali merasa marah dan tidak terima atas kepergian ayahnya, walaupun Ali tau tidak ada ikatan darah di antara mereka.
Tapi siapa? Siapa saudara gadis yang sudah merenggut nyawa ayahnya? Dan kenapa tega sekali tidak mematuhi hukum?
Di negaranya, seperti negara lelucon. Keadilan bisa di tutup begitu saja dengan setumpuk uang dan pelaku bisa begitu saja bebas tanpa syarat, tanpa mengerti bagaimana kehilangan orang yang di sayang. Tanpa mengerti air mata kesedihan yang di rasakan setiap saat.
Sungguh, ia benci ketidak adilan.
Menghembuskan nafas berat, menutup mata mengertakkan gigi. Rasa ingin meluapkan kemarahannya, mengingat air mata bunda yang menangisi ayahnya.
Sebegitu rendahnya kah orang kaya?
Lintang akan mencarinya. Ya, akan mencari dan akan memberikan hukuman sendiri bila hukum negara tidak memihaknya.
" Lintang!" Seru Riska, menepuk bahu Lintang, hingga membutnya tersadar dari rasa amarah.
" Dari tadi aku panggil-panggil gak di jawab. Nglamunin apa sih!" Sebal Riska.
" Ada apa?" Tanya Lintang, tak ingin menjawab pertanyaan Riska.
" Sudah waktunya makan nih! Ayo, aku lapar." Ajaknya.
" Nanti aku nyusul, duluan saja dulu." Ucap Lintang.
" Hhm, ya sudah.. Aku tunggu di kantin sama Yolla." Riska tidak memaksa, ia pun pergi menuju tempat Yolla untuk menjemputnya pergi ke kantin kantor bersama.
Wajah Lintang terlihat dingin, lebih dingin dari biasa Riska lihat. Bila di ingat, semalam Lintang baik-baik saja. Tertawa dan banyak tersenyum. Tapi pagi ini.. Ada yang berbeda dari diri Lintang. Dan tak tau mengapa Riska menjadi takut sendiri, hingga tidak berani memaksa seperti biasanya.
" Lintang mana?" Tanya Yolla.
" Katanya nanti nyusul ke kantin." Jawab Riska, membuat Yolla mengangukkan kepala.
" Pagi ini Lintang aneh banget."
" Mulai deh!" Cicit Yolla.
" Beneran Yoll! Lintang hari ini aneh banget, wajahnya dingin ba-,"
" Kompres pakai air anget biar gak dingin." Potong Yolla.
" Ih... Yolla!" Seru Riska. selalu bila di ajak ngerumpi, Yolla sukanya enggak pernah serius. Malah cenderung tak suka menggosip dan selalu mengalihkan cara untuk tak membahas orang.
Tapi bukan Riska namanya, bila tidak bisa membuat Yolla mendengarkan dan juga penasaran apa yang ada sedang di gosipkan di kantor.
" Aku ini beneran loh Yolla.. Lintang gak kayak biasanya. Kalau biasanya dingin tapi bisa senyum, ini malah enggak sama sekali. Matanya tajem, wajahnya kayak orang mau marah saja." Ucap Riska, mengingat wajah Lintang yang tak bersahabat mulai pagi.
Dan terbukti, saat ia memanggilnya beberapa kali. Sempat melihat juga genggaman tangan Lintang pada bulpoin yang erat.
" Filling aku Lintang kayak punya masalah." Ucap Riska lagi, membuat Yolla mengerutkan kening.
Apa iya, Lintang sedang ada masalah? Pikir Yolla. Mulai teracun dengan ucapan Riska, yang sepertinya serius dan tak mengada-ngada tentang orang. Karena Riska, pandai sekali untuk mencari informasi dan juga expresi wajah.
Bukan seperti dirinya, masa bodoh tapi ikutan kepo.
Di belakang Yolla dan Riska, Saddam bisa mendengar percakapan mereka tentang Lintang. Wanita yang selalu membuat dirinya penasaran.
Ada apa dengannya?
" Apa sedang terjadi masalah pada wanita itu?" Gumam Saddam dalam hati.
Ia sudah memilih tempat di mana ia bisa berdekatan dengan Lintang, bisa mencuri pandang wajah yang menurutnya tidak pernah membosankan. Tapi sayang, wanita itu tidak ikut makan siang bersama dengan temannya.
Saddam tau di mana tempat wanita itu selalu menyendiri. Mungkin kah ia akan ke tempat Lintang?
*****
" Itu berarti kakaknya bekerja di sana?" Kata Yasmin, duduk di cafe berdua dengan Lintang.
Memilih tempat out door, untuk mereka yang suka menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari. Dengan kebiasaan Lintang yang suka merokok, tanpa harus bersembunyi di hadapan para sahabat. Ya.. Tidak perlu terkejut dengan perilaku Lintang. Yang menurut Yasmin sudah biasa sejak dulu.
Menjemput sahabatnya saat Yasmin ingin bertemu dengannya dan memiliki waktu quality tame sendiri tanpa anak-anak yang sedang di ajak oleh ke dua orang tua Aiman.
Ya, mertua Yasmin begitu baik dan selalu perhatian dengan cucu-cucunya. Bukan hanya anak dari Aiman saja, anak dari putri pertamanya pun juga sayang. Mertuanya selalu memberi kasih sayang tanpa ada yang di bedakan.
Itulah kenapa sampai sekarang hidup mertuanya selalu damai tanpa adanya perselisihan. Dan Anak-anaknya pun tak pernah berdebat atau bertengkar.
" Tapi aku enggak tau orangnya Yas. Namanya pun Ali juga gak tau, dia hanya tau wajahnya." Jelas Lintang sambil Mengaduk-aduk minuman. Menerawan jauh ucapan Ali.
Ya, Ali hanya mengingat wajahnya tanpa mengetahui namanya. Karena lelaki itu tidak memperkenalkan namanya, hanya memperkenalkan sebagai kakak pelaku tabrakan.
" Kalau kayak gitu, susah sekali." Gumam Yasmin, membuat Lintang menganggukkan kepala.
Apa lagi kini Ali sudah kembali ke rumah bunda, dan sibuk dengan kuliahnya. Hingga itu Ali tidak bisa menemuinya lagi ke kantor.
" Kamu ingin balas dendam?" Selidik Yasmin, melihat gelagat Lintang yang tak biasa.
Bersahabatan dengan Lintang selama sepuluh tahun membuat Yasmin belum sepenuhnya paham akan sifat sahabatnya ini. Mereka sudah saling berbagi cerita, berbagi masalah dan juga kesedihan. Tapi Lintang, sahabat yang sangat sulit di tebak dan pintar menyembunyikan perasaan. Hingga itu, terkadang membuat para sahabat kagum dengan kemampuannya menyelesaikan masalah sendiri.
" Kamu gak iklas om teguh per-."
" Aku sudah iklhas ayah pergi Yas." Potong Lintang cepat. " Tapi aku belum iklas pelaku itu bebas. Hanya karna masih di bawa umur.." Imbuhnya.
Ya, mana ada seorang anak mengiklaskan pelaku yang menabrak mobil orang tuanya bebas begitu saja tanpa syarat. Apa lagi mereka membebaskan pelaku begitu gampang dengan segepok uang penutup.
Rasanya tidak adil.
Meskipun mereka sudah meminta maaf pada keluarganya.