
Di ruang terbuka, di meja kayu coklat dengan dua minuman yang berbeda. Saling berhadapan, tapi tidak saling bertatapan.
Dunia seakan terbalik, bukan lelaki yang merokok. Tapi seorang wanita yang sedang menikmati nikotin saat lelaki itu sudah menyalakan ujung rokoknya.
Memperhatikan setiap detail wanita itu menikmati rokok di sela dua jari dan bibir yang di hisapnya tanpa malu di hadapan dirinya maupun di hadapan pengunjung cafe.
Seakan Lintang tak peduli menunjukkan sisi gelap dan nakalnya pada siapapun itu. termasuk, lelaki yang ada di depannya ini, Yang sudah menyalakan ujung rokoknya tanpa di minta. Dan Lintang sudah mengenalnya.
Saddam.
Ya, Saddam. Atasannya. Entah memang kebetulan atau apa, Lintang bertemu dengannya di mall sebesar ini. Tak ada bayangan di kepala untuk bertemu kembali dengan lelaki di hadapannya ini. Setelah ia memutuskan untuk menjadi orang asing kembali bila bertemu dengannya di tempatnya bekerja.
Tapi sayang, seakan itu tak bisa. Dan waktu selalu bisa membuatnya kembali bertemu dengannya. Ada rasanya yang berbeda kala mengingat ucapan wanita pengemis tua itu.
Rasa yang tak bisa ia sendiri artikan. Seperti rasa yang sudah mati, tapi di hidupkan kembali. Ada rasa marah, tapi tak bisa ia lontarkan. Dan ada rasa sedih, tapi tak bisa ia tunjukkan.
Itu yang Lintang rasakan dua hari ini.
Tak ada pembicaraan di antara ke duanya, saling menikmati apa yang sedang menjadi objek mereka. Hingga akhir sebatang rokok di sela jari Lintang sudah habis.
Bersikap dingin, bersikap diam tanpa mau menegur terlebih dulu. Bukankah sikap Lintang seperti itu sedari dulu. Tanpa ada yang mengerti perasaan hatinya.
Dia bukan seperti wanita lain yang begitu gampang berinteraksi, bergaul dan juga bercakap panjang lebar. Lintang bukan wanita yang suka manja dan mengeluh begitu gampang pada seseorang. Bukan begitu gampang mengenal orang.
Dia seorang introved, yang suka menyendiri tanpa adanya keramaian. Tanpa adanya berbasa-basi dengan orang yang tak di kenal.
Sepatah dua kata hanya itu yang terucap di bibir lintang bila tak kenal.
Hanya satu lelaki yang bisa memahami sikap dan sifatnya. Hanya lelaki itu yang memahami Lintang. Tapi sayang, Tuhan memisahkannya.
" Saya antar pulang." Ucap Saddam, memecah keheningan.
Menatap Saddam, apa ia harus menolak lagi. Atau harus menerima tawaran antar pulang?
Ada yang ingin ia buktikan dan ada yang ingin Lintang rasakan. Tapi entah apa Lintang yakin, apa ia bisa.
Menghembuskan nafas, mengambil kotak rokok di atas meja. Tapi sayang, tangan Lintang tercekal dengan genggaman tangan kekar di hadapannya.
Mendongak, mata saling menatap. Menyiratkan rasa yang berbeda, mata itu teduh, seperti....?
" Sudah, cukup. Ini sudah malam." Larang Saddam.
Mengambil kotak rokok di tangan Lintang, tidak membuang. Hanya menaruhnya di dalam saku celana.
Lintang berdiri, mengambil tas. " Ayo." Ucapnya. Tak ingin menolak dan tak ingin berdebat. Mencoba untuk menyangkal, bila itu tidak akan terjadi.
Saddam tentu sedikit terkejut, wanita ini terbiasa menolak. Tapi entah kenapa malam ini sedikit ada yang berbeda. Antara marah dan juga terpaksa.
Hanya tersenyum tipis, berjalan bersama menuju parkiran mobil. Tak ada pembicaraan di sepanjang jalan bersama. Saddam selalu melirik wajah manis di sampingnya, wajah yang tak ada senyum di bibir tipis itu.
Masuk ke dalam mobil, ponsel Lintang berbunyi.
Riska.
Lintang lupa, tidak memberi kabar pada dua temannya bila ia sudah keluar dari bioskop satu jam yang lalu.
" Hallo?" Ucap Lintang, mengangkat telpon Riska.
" Maaf Ris, aku lupa ngabari kamu kalau aku ada urusan di luar."
" Hhmm, iya."
Menghembuskan nafas, bukan maksud untuk membohongi temannya. Memang ia merasa jenuh dan juga pikiran tak lagi konsen dengan film horor yang menurut orang-orang begitu seram serta menegangkan.
Tapi tidak dengan Lintang, tidak tau kenapa film itu seakan tak menarik di matanya.
Bertemu dengan Saddam, menemani dirinya hingga seputung rokok habis tanpa berbincang dan memaksa mengantar dirinya pulang. Sebenarnya bisa Lintang marah dan menolak, tapi untuk apa marah tanpa sebab yang tak pasti pada lelaki di sampingnya ini. Hanya karena kata-kata yang tak masuk akal keluar dari bibir pengemis tua itu.
" Sudah makan?" Tanya Saddam, memecah keheningan dalam perjalanan. Tak ingin bertanya siapa yang menelpon Lintang.
" Kamu mau makan denganku, di rumah?"
Tentu ajakan dari wanita yang akan di antarnya pulang membuat dirinya kembali sedikit terkejut. Saddam menoleh saat mobil berhenti di lampu merah.
Apa ia tak salah dengar?
" Saya ingin makan di rumah saja." Jelas Lintang.
Melihat jam di pergelangan tangan, waktu masih menunjuk angka sembilan lewat empat puluh.
Kembali menatap Lintang. " Apa ada bahan makanan di rumah." Tanya Saddam.
" Ada." Jawabnya.
" Ya sudah, kita makan di rumah." Jawabnya.
Kita, Seharusnya bukan kata kita yang keluar dari bibir Saddam. Dan entah kenapa tak tau bibir Saddam begitu saja keluar kata kita.
Saddam dan Lintang belum menjadi satu, tapi seakan-akan kata itu sudah mengikat dan menjadi kata satu untuk mereka.
Lintang mengangguk, tersenyum tipis sebelum ia berkutat kembali dengan ucapan Saddam.
Kita?
*****
" Tunggu di sini, saya masakkan dulu." Ucap Lintang, masuk ke dalam rumah, menaruh tas kerja di sofa tunggal dan Menyuruh Saddam untuk duduk di sofa ruang tamu.
" Biar saya yang masak?" Kata Saddam, membutat Lintang mengerutkan kening.
" Kamu bisa masak?" Menelisik wajah saddam, mungkinkah lelaki ini bisa masak. Tapi bila di lihat dari penampilan, mingkin saja bisa.
" Ada bahan apa saja di dapur?" Tanya Saddam, sambil tangannya melepas kancing lengan kemejanya. Mencoba menggulungnya sebatas siku.
Bukannya Sisi maskulis lelaki terlihat lebih tampan dengan lengan kemeja yang di gulung sebatas siku. Apa lagi kemeja yang di pakai sangat pas di badan.
Lintang tersenyum tipis, tidak ada salahnya mencoba.
" Enggak terlalu banyak, coba dulu lihat di dapur. ada bahan apa saja." Ajaknya, berjalan terlebih dulu menuju dapur.
Ini ke dua kali Saddam masuk ke dalam dapur Lintang. Bila dulu tak ada penerangan karena lampu padam, kini terlihat jelas saddam bisa melihat dapur Lintang minimalis.
" Saya cuma punya bahan ini saja." Sambil membuka lemari pendingin satu pintu untuk melihatkan apa saja yang ada di dalam lemari pendingin Lintang.
Saddam mendekat, membungkuk untuk melihat di dalam lemari itu. Tidak terlalu banyak sayur yang Saddam lihat. Lebih banyak cemilan, minuman kaleng dan juga telur berjajar rapi di sana. Berbeda di dalam frizer, terdapat daging, ikan dan frozen food siap saji.
Ternyata wanita perokok seperti Lintang juga mempunyai sisi peduli pada tubuhnya. Makanan sehat.
" Duduklah, biar aku yang masak." Perintah Saddam.
Lintang seakan patuh, ia membiarkan saddam memasak untuknya dan dirinya hanya mengamati serta merasakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.