
Putri Alicia melirik Haru yang cuek memandang keluar gedung kantin.
“Eh, apakah kalian mau ikut pergi ke kota. Katanya ada perayaan besar loh di kota. Pasti ada barang bagus disana. Kalian pasti ikutkan denganku??? ” Tanya Putri Alicia penuh harap.
“Tidak, aku tidak bisa. Aku akan belajar dikamar setelah ini, karena aku mendapatkan nilai minus di ujian kemarin. ” ucap Haru sambil makan makanannya cuek.
“Oh, benarkah. Maaf aku tidak tahu. ” Putri Alicia sedih.
Dicky jadi ikut sedih melihat putri yang sedih. Ia melirik ke arah Dicky dengan tajam sambil marah dalam hati.
(Beraninya kau rendahan, membuat putri sedih. Seharusnya kau bolos saja demi putri. Dasar!!! )
“Tenang saja putri aku akan ikut denganmu. Jadi kita bertiga akan bepergian bersama-sama. ” Alfort mencoba menyemangati Putri.
“Ah, iya terimakasih. ” senyum putri.
(Hahhh, akhirnya aku bisa jalan-jalan sama putri. Walau ada 1 orang lagi yang ikut tapi tak apalah yang penting bukan dia(Haru). Jika aku berduaan dengan putri nanti aku bisa dag dig dug) Dicky tersenyum seperti orang bodoh.
Alfort melihat senyum bodoh Dicky, dalam hatinya berkata kalau ia harus menjaga putri dari Dicky apapun caranya.
Haru hanya cuek memakan makanannya sedangkan putri juga terlihat tidak bersemangat sekali.
———————————————————————
Setelah makan Haru langsung pergi ke kamar. Lalu berbaring sebentar.
“Aku tidak boleh terlalu dekat dengan putri. Aku harus keluar dari sekolah ini dengan normal dan jadi penjaga desa. ” Gunam Haru.
Haru langsung bangkit dan pergi ke meja belajar. Sesaat dia sedang duduk dan mulai kepikiran sesuatu.
“Entah kenapa perasaanku ini menjadi tidak enak ya. Setelah putri mengajakku pergi festival. Hmm, mungkin hanya perasaanku saja. Lebih baik ku lanjutkan belajar. ”
Putri ,Alfort dan Dicky sedang berkeliling desa mencoba berbagai makanan dan mainan disana. Mereka saling bersenang-senang.
Waktu telah berlalu, mereka akhirnya sampai di depan gerbang kerajaan
“Apa yang kita lakukan disini putri??? ” Tanya Alfort
“Sebenarnya aku ingin pergi berpetualang bersama teman-teman ke dalam hutan. Ini adalah salah satu impianku, kebetulan Leo tidak ada disini aku ingin mengajak kalian... ” ucap putri Alicia bersemangat.
“Kalau Leo disini, ia pasti akan melarangku. Oleh karena itu aku mengajak kalian berdua, aku juga ingin mengajak Haru juga. Agar kita lebih aman, tapi sepertinya dia sedang sibuk ” ucap putri.
“Tenang saja putri, bahkan jika tidak ada Haru bocah lusuh iku. Aku masih bisa melindungimu. ” ucap Dicky pamer.
“Benarkah, kamu sangat bisa diandalkan Dicky. ” putri bertepuk tangan dengan gembira karena Dicky tidak mencegahnya.
Alfort berbeda pendapat dengan Dicky. Ia tampaknya tidak menyetujui rencana tersebut. Karena ia pernah bertemu dengan orang yang hebat di tepi sungai kecil dekat akademi. Ia kewalahan menghentikan serangannya bersama.
(Nih anak, otaknya masih benar gak tuh. Kalaubtuan putri terluka, nanti kita akan kena hukuman. Tapi tak apalah, sepertinya putri juga ingin sekali. Semoga saja tidak ada apa-apa. ) ucap Alfort dengan tatapan datar.
———————————————————————
Mereka bertiga berburu sesuatu seperti rusa dan kelinci. Hewan-hewan yang tidak berbahaya, cocok untuk pemula.
“Wah, asyik sekali berpetualang di tengah hutan begini. Aku tidak menyangka aku akhirnya bisa berpetualang di hutan. ” Putri tersenyum bahagia.
Alfort dan Dicky hatinya jadi tenang melihat putri tersenyum. Seperti orang tua yang melihat anaknya tertawa bahagia.
Saat mereka bertiga sedang asik berbincang dan mau pulang tiba-tiba ada seseorang datang dari dalam hutan mengarah ke mereka bertiga.
Busur panah terbuat dari sihirnya Alfort jadi ia tidak perlu untuk membawa busur kemana-mana.
Grusak grusuk datanglah seorang pria melewati semak-semak dan jatuh di hadapan mereka. Alfort dan Dicky refleks menutupi Putri dengan maju kedepan, membiarkan dirinya diserang terlebih dahulu.
Pria tersebut tampak lusuh dengan baju yang sudah penuh dengan darah dan robekan hewan buas.
“Tolong! Tolong lah aku!!!. Temanku masih ada disana sedang melawan monster yang amat kuat. Aku terpaksa melarikan diri untuk meminta bantuan. Kumohon!!! ” ucap pria tersebut dengan nafas yang tersengal-sengal.
Putri pun melangkah maju, sontak Dicky dan Alfort menghentikannya. Mereka berdua masih belum percaya dengan apa yang dikatakan pria barusan.
“Jangan maju dulu, putri. Ia terlihat mencurigakan! ” ucap Dicky curiga.
“Aku mohon tolonglah diriku. Kau bisa membunuhku jika kau mau. Tapi tolonglah selamatkan teman-temanku. Aku mohon!!!! ” pria tersebut menangis frustasi.
Putri Alicia memegang tangan Dicky dan menurunkan tangan Dicky.
“Dia sudah sangat tidak berdaya lagi. Kita harus menolongnya!!! Bagaimana jika kita berada di posisinya. Kita harus membantunya jika kita bisa. Sebagai putri aku tidak bisa melihat wargaku kesusahan. ” ucap putri Alicia menyakinkan Dicky.
“Putri...” Dicky sempat ragu tapi hatinya jadi luluh mendengar ucapannya.
(Hal inilah yang membuatku kagum padamu putri yang selalu berusaha menolong siapapun. Akulah salah satu yang kau tolong putri. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini, ini akan memperbanyak pengagum putri. Aku harus bisa. ) Ucap Dicky dalam hati.
“Baiklah....” Dicky menyetujuinya.
Putri melihat ke arah Alfort meminta persetujuannya juga.
“Terserah kalian saja. Disini aku hanya mengikuti kalian berdua. Aku akan membantu kalian semampuku. ” ucao Alfort tersenyum.
“Baiklah, jika semua sudah setuju. Mari kita tolong ” putri bersemangat.
Putri perlahan maju dan berbicara lembut.
“Jadi dimana temanmu. Kami akan menolongnya. ”
“kalian yakin, terima kasih... Sebelah sini ikuti aku ” ucap pria tersebut mengusap air matanya dan bangkit menguatkan dirinya.
“Tolong ikuti aku. Kita tidak ada waktu lagi. ” ucap pria itu sambil berlari pergi menuju ke dalam hutan dimana ia muncul tadi.
Alfort berada dibelakang, Dicky berada didepan dan Putri Alicia berada ditengah agar mereka bisa melindungi putri bila ada serangan dari belakang.
“Semoga saja kita sampai tepat waktu. ” Putri berdoa dalam hatinya.
———————————————————————
“Ahhhhhh. ” teriak Haru kesal.
Tampaknya ia kesal karena perasaan yang mengganjal di dalam hatinya. Perasaannya semakin kuat setiap detik demi detik.
“Perasaan apa ini. Perasaan cemas yang tidak kunjung hilang, aku jadi tidak bisa fokus untuk belajar. ”
“Kuharap mereka baik-baik saja sekarang. Apa aku harus mengunjungi mereka. Mereka membuatku khawatir. ” ucap Haru berdiri dan berganti pakaian.
Dari pakaian biasa ganti seragam akademi, setelah siap ia akhirnya keluar untuk pergi ke acara festival diadakan. Sesampainya disana Haru mencari mereka bertiga berharap perasaannya salah.
Haru berjalan-jalan sekitar dan melihat kearah langit. Awan hitam berjalan dari dalam hutan menuju kota.
“Sepertinya perasaan ini tidak asing. ” Haru mengerutkan dahi tampak memikirkan sesuatu dengan serius.