Golden Hero

Golden Hero
Episode 14



“Begitulah ceritanya, oleh karena itu aku meminta bantuanmu Haru. Aku ingin kau bergabung dengan kelompokku. ” Putri Alicia menatap Haru penuh harap.


Melihat putri Alicia memohon pada dirinya itu membuat hatinya luluh apalagi ia tidak bisa menolak ajakan dari seorang putri. Bisa-bisa kepalanya dipenggal begitu saja.


Tetapi dia teringat dengan warga desa, jika ia berurusan dengan masalah mereka, Haru takut masalah tersebut akan melibatkan desa juga dan Haru tidak ingin terlalu mencolok di akademi ini. 


Karena dia ingin lulus dari sini dan hanya bekerja menjadi petualang lalu melindungi desa saja.


“Maafkan aku putri, aku akan menolak permintaanmu. Aku tidak tahu apa yang kau lihat dariku tapi aku bukan lah orang yang kuat seperti yang Kamu kira, putri. ” ucap Haru tersenyum sedih.


“Haru...” Putri terkejut dengan ekspresi Haru.


Ditengah mereka saling berbicara tiba-tiba pengawal tuan putri datang yaitu Leo dari semak semak di belakang mereka. 


“Putri apa yang kau katakan pada orang lemah sepertinya. Kenapa kau meminta bantuan darinya??? Kau tahu seperti apa kekuatan anggota Osis, bukan?? ”


“Iya Aku tahu hal itu, oleh karena itu aku percaya kalau Haru lebih kuat darinya. Aku percaya padanya??? Dialah yang telah menyelamatkanku dari para penjahat waktu itu. ” 


“Apa yang kau bicarakan?. Tuan putri, kamu diserang penjahat. Aku tidak tahu hal tersebut, kapan??? Apa kamu keluar diam-diam lagi??? Siapa mereka??? Biar kuhajar mereka karena berani melakukan sesuatu terhadap putri. ” ucap Leo yang marah.


“Ups. ” Sontak putri sadar menutup mulut nya, karena waktu itu dia pergi secara diam-diam.


Haru dengan wajah yang menunduk, berniat pergi secara diam-diam. Tapi putri Alicia mengetahui hal tersebut dan berlari memegang tangan Haru. Haru terkejut dan berbalik melihat putri Alicia.


“Aku mohon padamu Haru. Hanya kamu lah harapanku satu-satunya. Hanya dirimulah aku yakin kita bisa menang. ” Ucap Putri Alicia memegang tangan Haru dengan erat.


“Sudahlah tuan putri, kamu tidak bisa memaksanya. Aku juga tidak merasakan kekuatan hebat dari nya putri, Mungkin dia hanyalah kebetulan bisa mengalahkannya. ” Ucap Leo menganggap remeh Haru.


“Benar putri, kamu telah menilaiku terlalu tinggi. Penjahat itu bisa dikalahkan bahkan oleh anak-anak dengan sihir. ” ucap Haru melepaskan tangan putri Alicia secara lembut.


Putri akhirnya menyerah dan melepaskan tangan Haru. Lalu Haru pamit dan pergi meninggalkan mereka.


“Sudahlah putri lebih baik kita akan pergi. Biar ku kalahkan semua anggota Osis kamu tenang saja. ” ucap Leo menenang putri.


Dalam hati putri Alicia ia berkata lain.


(Aku yakin kalau itu bukan kebetulan saja kau bisa mengalahkan kedua penjahat tersebut. Aku yakin kau bisa menjadi raja disekolah ini sejak melihat dirimu, Haru. Tapi kenapa kamu???)


Putri dan Leo pergi memilih kembali ke dalam kelas.


Saat mereka pergi tiba-tiba ada orang lain yang keluar dari tempat persembunyian. Tampaknya ia mendengarkan perbincangan mereka sedari awal. Ia menggertakkan gigi dengan marah.


———————————————————————


Hari berikutnya di dalam kelas 1 D waktu pagi hari


Alfort dan Haru sedang berbincang satu sama lain.


“Hei, hei Haru. Kenapa kau menolak permintaan tuan putri???. ” tanya Alfort.


“Darimana kau tahu hal tersebut??? ” Tanya balik Haru.


“Topik tersebut jadi perbincangan di sekolah ini kau tahu. Apa kau tidak tahu hal tersebut. ” 


“Pantas saja semua orang sedang melirik ku sejak tadi. ” Haru melihat sekeliling dan semuanya melihat Haru.


“Hehehe. Walaupun begini aku pencari informasi yang handal. ” Alfort mulai sombong.


“Yah, aku bukan orang yang kuat. Apalagi aku hanya bisa menggunakan beberapa sihir. ” ucap Haru menunduk.


“Jadi begitu.... ” Alfort mencoba memahami.


Tapi memang benar dalam pertarungan melawan kelelawar hitam. Haru bisa meniru skill lawan tapi saat mencobanya tenaganya langsung tinggal sedikit. Oleh karena itu Haru ragu bisa lebih kuat lagi karena sudah beberapa tahun tapi tenaganya tidak berkembang


“Gubrakkk...” Seseorang dengan keras membuka pintu kelas dengan keras.


Seisi kelas terkejut mendengar suara kerasnya. Seorang laki-laki dengan baju murid akademi masuk dengan wajah yang garang dan badan yang agak besar. Ia sedang menuju meja Haru berada.


Laki-laki itu menatap tajam Haru. Haru hanya bisa terdiam bertanya-tanya apakah ia sedang melakukan kesalahan disini.


“Kau, bertarunglah denganku sekarang juga ” ucap laki-laki tersebut yang tampak marah.


“Eeeeeehhhh” Haru terkejut.


(Siapapun tolong jelaskan apa yang terjadi padaku. Kenapa ada maniak bertarung yang tiba-tiba mengajakku berantem. Apa yang telah terjadi dengan sekolah ini. Woi ) Dalam hati Haru kebingungan dan marah karena rencana menjalankan sekolah dengan tenang akan gagal.


———————————————————————


Haru dan laki-laki itu sudah berada di arena pertarungan yang berada di akademi. Haru sudah tahu siapa identitas laki-laki tersebut.


Dialah salah satu murid beasiswa yang dipilih oleh putri sendiri. Namanya adalah Dicky, dialah adalah anak dari seorang prajurit pimpinan salah satu peleton dari kerajaan.


Awalnya karena dialah anak prajurit rendah tidak ada yang berharap dari kekuatan yang dimilikinya. Ia mencoba berlatih dan bertarung, berharap jadi kuat seperti seorang jendral.


Dicky terus berlatih dan berlatih, ia tidak berharap lebih karena ia menyadari kekuatannya yang seorang rakyat jelata berbeda dengan bangsawan. Hingga suatu hari putri datang berkunjung ke area latihan dan melihat Dicky secara kebetulan.


Ia melihat Dicky yang terus berlatih dan terjatuh kelelahan, kemudian ia menghampirinya. 


“Hebat, kau selalu berlatih dengan keras. Apa kau selalu berlatih sekeras ini. ” tanya putri secara tiba-tiba.


“Eh, putri apa yang anda lakukan disini??? ” Dicky terkejut dan mencoba untuk bangun menjaga sikap.


“Eh, tenang aja. Aku disini hanya melihat-lihat kok. ” ucap putri Alicia dengan senyum diwajahnya.


Dicky tersipu malu dengan senyuman putri.


“Tidak, aku tidak sehebat itu kok aku. Walaupun aku berlatih itu percuma saja karena aku hanya rakyat jelata yang tidak memiliki bakat dan hanya jadi prajurit. ” ucap Dicky melihat kenyataan.


“Menurutku tidak begitu kok. Aku yakin kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil aku yakin kau jadi jendral besar suatu hari nanti. ” ucap putri Alicia.


“Eh. ” Dicky terkejut karena selama ini orang-orang menyuruhnya menyerah dan percuma saja karena dia tidak akan bertambah kuat lagi. Tidak ada yang pernah yang berbicara begitu dengannya selama ini.


“Ya udah aku pergi dulu ya. Semangat jendral masa depan ” ucap putri Alicia pergi karena dipanggil.


Dicky jadi terdiam tidak bergerak sekalipun. Setelah putri cukup lama pergi Dicky langsung menangis terharu. Karena ada yang masih menghargai kerja kerasnya selama ini dan masih berharap padanya.


“Hiks hiks hiks, sial kenapa aku menangis mendengarnya. Sungguh kata itu indah sekali.” Dicky menangis lama sekali.


———————————————————————