Golden Hero

Golden Hero
Episode 17



Kembali lagi berada di ruangan gelap, seperti biasa bos besar sedang menunggu di ruangan gelap dengan separuh badan yang hanya disinari oleh lampu. 


“Bos, dia sudah datang disini ” ucap pengawal dibalik kegelapan.


“Bawa dia masuk... ” suruh bos besar.


Seorang pria datang dan segera berlutut di hadapan bos besar. Ia tidak memakai baju pria tersebut hanya memakai celana dan sebuah syal di lehernya. Tampak dia adalah iblis, rambutnya ada tanduk besar melingkar dan giginya tajam serta kulitnya berwar.


“Segera memenuhi perintah anda tuan. ” 


“Aku ada misi untukmu, culiklah putri Alicia saat waktunya. Hari dan waktunya akan aku beritahu setelah rencanaku selesai. Tunjukkanlah bahwa kau adalah iblisku yang tercepat di udara. Dengan menculik putri tanpa siapa pun yang mengejarmu. ” ucap Bos besar dengan lantang.


“Siap bos akan saya lakukan sebaik mungkin. ” ucap iblis tersebut langsung menghilang.


———————————————————————


“Apakah pria besar yang telah menggagalkan rencana kita sudah ketemu. ” tanya bos besar.


“Saya minta maaf bos. Tapi kami belum menemukan pria besar yang dimaksud. Kami sudah mencari seluruh kota tapi yang ada hanyalah pria besar yang lemah. ” Jawab pengawal.


“Sudahlah, sepertinya ia hanya kebetulan lewat di kota ini. Apalagi mereka berdua adalah orang lemah jadi yang pasti itu hanyalah kebetulan. Sekarang kita punya Kira yang tercepat di udara. ” ucap bos besar terlihat bersemangat.


“rencana kita akan berhasil kali ini dan kebangkitan kaum iblis akan terjamin, Hahahaha ” bos besar tertawa keras.


“Saya juga berharap itu juga berhasil. ” jawab pengawalnya.


———————————————————————


Di kelas 1 D


Seperti biasa Alfort dan Haru duduk bersama. Tetapi penampilan Haru sedikit berubah, banyak perban di tubuhnya karena luka akibat pertarungan dengan Dicky.


“Apa kau tidak apa-apa Haru. Sepertinya luka mu sangat serius. Apa kamu yakin tidak istirahat di asmara dahulu” ucap Alfort menyentuh luka Haru dengan hati-hati.


“Tenang saja, aku tidak apa-apa kok. Aku masih bisa mengikuti pelajaran. Lagian kan aku masih baru masih banyak yang belum aku pelajari disini. ” ucap Haru.


“Jika Haru bilang begitu, ya mau bagaimana lagi. Tapi jangan memaksakan diri. ” ucap Alfort.


“Iya terima kasih. ”.


(Hahhh, sebenarnya aku tidak apa-apa. Tidak perlu diperban separah ini. Tapi jika tidak pasti mereka akan mengajakku lagi. Untungnya putri menyerah melihatku dengan kondisi ini. ) Dalam hati Haru sebenarnya.


Saat berangkat sekolah Haru bertemu dengan putri. Putri terkejut dengan perban di badan Haru. Kelihatan ia panik dan meminta maaf tidak mempercayainya dan melibatkan dia dalam kondisi seperti ini. Putri menyesal tidak menghentikan pertarungan tersebut.


“Ahhh, akhirnya hidupku kembali tenang. ” gunam Haru lega.


———————————————————————


Waktu istirahat akademi.


“Jadi siapa lagi? ” tanya Haru secara mendadak.


“Eh, apanya? ” Alfort bingung.


“Siapa lagi murid yang mendapatkan beasiswa. Aku dengar ada dua lagi selain Dicky dan Kau. ” tanya Haru.


“Ah, kamu sudah ketemu salah satu 1 murid kok. ” ucap Alfort.


“Eh, siapa kapan dimana aku ketemu dia? ”


“Dia, pengawal tuan putri Alicia. Namanya Leo ” jawab Alfort dengan lugu.


“Yang 1 lagi, aku masih belum bertemu dengannya sih. Dia agak misterius, tapi aku tahu dimana dia. Ayo kita temui dia sekarang!!! ” Alfort menarik tangan Haru dengan paksa.


“Ehhh, tidak. Aku hanya tanya saja. ” Haru diseret paksa oleh Alfort.


———————————————————————


Haru diseret hingga dibawa dekat sungai jaraknya cukup dekat dengan akademi. Alfort dan Haru bersembunyi dibalik semak-semak menghindari seseorang.


“Kenapa kita pergi kesini. ” tanya Haru spontan.


“Sttt, diamlah disini tempatnya berada anggota kita terakhir itu. ” ucap Alfort.


“Eh, sejak kapan aku jadi anggota kalian ini??? ” Tanya Haru


“Entah sejakkkk, kamu masuk akademi. Kita kan sesama anggota beasiswa  dan dari desa tak apakan kita jadi grup beasiswa. Apalagi kita tidak ada teman lagi sesama kita. ” ucap Alfort memberi penjelasan.


“Hmm... Suka-suka hatimu lah. ”


Alfort dan Haru menyusuri semak-semak. Tibalah mereka di sebuah sungai kecil. Di Tengah-tengah sungai terdapat pohon dari dalam air. Setengah pohon sampai akar di bawah air dan setengah pohonnya lagi muncul dipermukaan. Anehnya ranting pohon tersebut yang tersusun sangat rapi  seperti tikar.


Diatasnya terdapat seseorang lagi berdiam diri bertapa. Dengan jubah hitam yang tertutup rapat. Seseorang yang tampak sangat misterius.


“Siapa dia yang berada di tengah sungai??? ” tanya Haru


“Aku juga nggak tahu, tapi sepertinya dia adalah anggota kita dari yang kudengar. Tapi aku masih belum tahu pasti, menurut analisaku hanya dia yang belum aku ketahui dia berada di kelas mana. ” ucap Alfort menatap ke pertapa misterius tersebut.


“Seperti yang ku duga kau tahu lebih banyak ya. Tapi bagaimana kau tahu dia murid akademi??? ”


“Sebenarnya aku pernah melihatmu memakai baju akademi dibalik jubah hitamnya. ” Ucap Alfort.


“Tapi aku heran kenapa dia berada disini. Tidak ada orang yang berani datang kesini sejak beberapa bulan lalu, Karena mereka melihat monster yang mengerikan disini dan beberapa orang mengerikan. ” ucap Alfort.


——————————————————————


“Jadi oleh karena itu aku mengajakmu tadi. Sebenarnya aku takut datang kesini. Aku pernah datang kesini beberapa kali, tapi karena aku tahu kau kuat jadi aku lebih aman dikit. ” ucap Alfort senyum tanpa rasa bersalah.


“Ealah, nggak papa sih kalau mau ajak aku. Tapi lihat situasi dulu dong. Liat badanku ini penuh dengan perban. ” ucap Haru agak kesal.


Alfort melihat badan Haru yang penuh perban. Ia terkejut dan sadar.


“Eh, maaf lupa. Aku terlalu bersemangat tadi. Hingga lupa kalau kau sedang babak belur sekarang ” tawa kecil Alfort.


Mereka saling berbincang dan lupa kalau mereka sedang bersembunyi sekarang. Sesaat mereka kembali menyadari kalau sedang bersembunyi, mereka mengintip lagi di balik semak-semak. Melihat apakah mereka ketahuan sekarang.


Alfort dan Haru terkejut setengah mati. Karena posisi jubah hitam yang awalnya membelakangi mereka. Sekarang dia menghadap ke arah tempat Alfort dan Haru bersembunyi dengan tatapan yang tajam.


“Erk, sepertinya kita ketahuan Haru. Bagaimana ini ?” ucap Alfort ketakutan


“Cepat lari sekarang. ” ucap Haru segera bangkit berlari pergi diikuti Alfort.


Saat mereka mau berlari, jubah hitam mengeluarkan sebuah lingkaran sihir dari tangannya dan keluarlah tanah liat yang tajam berbentuk kerucut. Tanah tersebut keluar banyak sekali secara bersamaan dan cepat seperti peluru.


Haru melihatnya peluru tanah tersebut, kelihatannya mereka tidak akan sempat lari. Maka tidak ada pilihan lain selain menahannya.


“Sial, bodoh amat dengan lukaku. Alfort larilah aku akan menahannya disini. ” Ucap Haru dengan panik.


“Tapi bagaimana dengan kamu...” ucap Alfort agak khawatir dengan keadaan Haru.


“Tenang saja... Aku akan mencoba menghentikannya dengan segenap tenagaku. Kamu segera larilah ” ucap Haru tersenyum kaku.