
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"oh apakah aku tidak bilang,atau apakah kau harus tahu? ... yah berpikirlah dalam kematianmu"ucap Jin sambil membuat mengaliri tangannya dengan listrik Ungu guna menghancurkan hatinya Kakuzu.
tanpa berlama-lama Jin menghempaskan tubuh Kakuzu ditanah dan mencengkram hati milik Kakuzu.
'duarr'
bunyi suara ledakan yang lebih kuat dari sebelumnya.masih terasa sakit saat hatinya dihancurkan oleh jutsu Uchiha itu namun Kakuzu berhasil bangkit setelah hatinya dihancurkan.
dia masih memiliki satu hati yang masih tersisa untuk digunakan,jika itu dihancurkan maka akhir hidup seorang Kakuzu sampai disini.
kini Kakuzu sudah mulai kehabisan cara untuk melawan Jin.dia tidak pernah berpikir itu adalah seorang bocah yang akan mengalahkannya terutama seorang Uchiha dengan kekuatan seperti itu.
jika ia tahu sebelumnya ia lebih baik menjauh dari bocah Uchiha itu.kini Kakuzu sedang meratapi nasibnya yang akan segera mati ini.
Jin segera berjalan kearah Kakuzu yang ternyata belum mati itu.dia kagum kepadanya bahwa Kakuzu belum mati saat terkena Jutsu petir ungu miliknya.
biasanya tidak banyak yang bertahan dari serangan miliknya tersebut.apalagi dengan keadannya yang sudah sangat menyedihkan seperti ini.
Jin segera mengeluarkan pedang pendeknya yang dialiri listrik berwarna ungu untuk menusuk Hatinya yang masih tersisa dan membawa kepalanya ke kantor Hokage untuk menyelesaikan misinya kali ini.
"ada kata terakhir?!"ucap Jin yang mengarahkan pedang yang dialiri listrik miliknya kearah Kakuzu yang terlihat sudah menunggu kematiannya.
"heh ,aku tidak percaya aku dikalahkan oleh seorang bocah sepertimu?!"ucap Kakuzu.
"Kalau begitu percayalah mulai sekarang?!"ucap Jin yang langsung menusuk Hati yang tersisa Kakuzu dengan mudahnya.
'crashh'
Jin pun langsung berhenti mengalirkan listrik di pedangnya. Saat penjahat itu jatuh di wajahnya, Jin akhirnya dibebaskan dari rambut. Menonaktifkan mata dan jutsunya, dia jatuh dengan satu lutut.
Sama sekali keluar dari chakra, dia berjuang untuk mengatur napas. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berhasil berbicara, dengan susah payah.
"Kesalahanmu ... Berasumsi bahwa aku hanya bisa menembus satu hati."
"Lelucon ... aku sudah hidup bertahun-tahun ... Hanya untuk ... dipukuli oleh seorang anak ...'
Tidak dapat menerima nasibnya, Kakuzu perlahan menutup matanya, menghirup nafas terakhirnya.
Jin diam-diam menyaksikan kehidupan Kakuzu memudar, ekspresi empati di wajahnya. Alasan dia menjelaskan dirinya kepada Kakuzu, adalah karena dia mendapatkan rasa hormatnya.
"Tarian yang bagus." ucap Jin
walaupun Kakuzu tidak terlihat baik,itu sudah lebih dari cukup untuk menghempaskan rasa berperangnya.
tanpa berlama-lama Jin segera membawa kepala Kakuzu Untuk dibawa ke kantor hokage dan menyatakan bahwa ia telah menyelesaikan misinya.
sebelum ia pergi ia memanggil elang kecil untuk menyuruhnya memberikan secarik kertas ini kepada hokage ketiga untuk dibacanya bahwa ia telah menyelesaikan misinya dengan baik.
sekali lagi burung elang kecil itu mencicit ketika tuannya memanggil dirinya.
"antarkan ini ke Sandaime Hokage"ucap Jin yang telah mengikat secarik kertas itu ke kaki burung elang pembawa pesan tersebut.
burung elang kecil itu mencicit pertanda ia menyetujuinya dan tak lama Jin melepaskan burung itu agar menyampaikan kabar tentang misinya.
setelah semua telah selesai , Jin kembali ke Konoha setelah misinya berjalan dengan lancar.tapi sebelum itu ia menepikan dirinya di sebuah tepi sungai tak jauh dari pertempurannya dengan Kakuzu untuk membersihkan kekacauan yang terjadi pada tubuhnya.
Jin mulai membasuh wajahnya yang terlihat lelah dan banyak noda darah.
*****
Dilain sisi seorang gadis kecil yang penasaran dengan suara ledakan tersebut pergi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Sakumo Sensei aku meninggalkan pedangku di kamar penginapan?!... bolehkah aku pergi dulu kesana mengambilnya?!"ucap Rinne
"bukankah kau memiliki yang lainnya?"ucap Sakumo
Rinne menggelengkan kepalanya dengan cengengesan seraya menggeserkan sebuah pedang tanto di bawah kakinya kesamping agar tidak ketahuan berbohong.
"ahh baiklah ,lain kali bawa pedangmu atau alat lainnya"ucap Sakumo malas sambil memegang sebuah buku.
tanpa berkata-kata Rinne segera membungkukkan badannya dan pergi begitu saja meninggalkan senseinya.
di tempat kejadian ledakan tersebut ,Rinne melihat kekacauan yang terjadi disana.sebuah pertarungan yang cukup besar,yah bisa dilihat dari lubang-lubang yang besar di tanah dan bercak-bercak darah di tanah.
Rinne melihat sebuah mayat di sana dan terlihat sangat terkejut.saat dia berpikir bahwa mayat itu sudah tidak layak disebut mayat karena bagian kepalanya menghilang dan hanya menyisakan badannya saja.
mungkin mayat tidak utuh ini seorang buronan makanya seseorang membunuhnya dan menjual kepalanya.tapi sesaat Rinne meneliti mayat tersebut,tampak tak asing baginya saat melihat mayat itu.
tubuh mayat itu berbeda dengan manusia normal pada umumnya,melainkan berwarna hijau seperti tubuh zombie.
saat menelitinya lagi ternyata dugaannya benar bahwa mayat yang mati ini adalah Kakuzu dari desa air terjun.
terlihat dari banyaknya jahitan ditubuhnya dan sebuah serpihan sisa topeng di dadanya yang hancur menandakan bahwa mayat ini tidak lain adalah Kakuzu dari desa air terjun. tapi bagaimana bisa seorang pembunuh bayaran mati mengenaskan seperti ini.
terlebih Kakuzu bukanlah seorang yang mudah dikalahkan seperti ini.mungkin ada seseorang yang lebih kuat darinya disana yang dapat dengan mudahnya membunuhnya.
saat mencoba mencari jejak pelakunya tetapi hanya ada mayat dan tidak ada jejak siapa yang membunuh Kakuzu. Rinne ingin tahu siapa yang membunuh Kakuzu ini?! pasti bukan seseorang yang mudah dikalahkan pikir Rinne.
karena sudah melihat pembantaian tersebut juga tidak ada jejak siapa yang membunuhnya maka Rinne bergegas kembali ketempatnya sebelum Sakumo mulai menyadari bahwa ia telah berbohong.
tapi sebelum ia pergi ia membalikkan tubuhnya menghadap mayat Kakuzu seraya mengeluarkan jutsu untuk merubah Kakuzu menjadi sebuah pohon.
'yah karna aku baik ,aku akan memakamkanmu dengan layak walaupun itu menjadi sebuah tanaman ' batin Rinne
seketika dari dalam tubuh Kakuzu mulai berubah menjadi sebuah akar pohon yang terus merambat dan tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar.
"Kuharap di kehidupan selanjutnya kau akan menjadi orang baik" pikir Rinne.
setelah memakamkan tubuh Kakuzu yang tersisa , Rinne kembali ke tempat latihannya sebelum Sakumo menyadarinya.