
Sudah sebulan Martin tinggal di rumah Anna. Ia lebih betah tinggal di rumah Anna karena ia merasa sepi jika ia tinggal di rumah orang tuanya. Dengan keberadaan Kak Andre dan Kak Seven, ia memiliki teman.
Di Sekolah
"An, gue balik dulu ya, soalnya gue mules nih"
" Alah alasan. Bilang aja lo gak mau supirin gue kan?"
"Gue serius. Air di toilet di sekolah lagi macet bemut." jawab Martin mengetahui arah pemikiran Anna.
"Ya udah serah lu dah. Bilangin ke mama gue ya, gue mau nengok lomba basket kakak kelas dulu ya."
"Enak aja, lo kira gue siapa lo. Itu lo punya HP udah dah gue duluan dulu ya." sela Martin sambil berlari menuju taksi yang terlebih dahulu ia pesan.
"Aneh banget tuh anak. Ah, bodo lah gue lanjut aja ke lapangan basket deh." sambil tersenyum.
Lapangan Basket
"Nur, udah lama dimulai permainannya?" tanya Anna kepada Nur.
"Enggak kok, baru lima menitan mereka masuk arena gamenya" jawab Nur ngelantur.
Dddddrtttt Drrrrt
"Anna, HP lo bunyi noh."
"Hallo....... kenapa ma?" tanya Anna kepada mamaya.
"Kamu pulang sekarang ya, Martin di bawa ke rumah sakit soalnya. Bantuin mama nyiapin keperluannya Martin ya sayang"
"Tapi...ma kan ada bi....." sambungan telepon diputuskan secara sepihak oleh mama Enjeli.
"Guys gue duluan pulang ya. Gak pake nanya yah." sela Anna ketika Naomi ingin bertanya.
"Bye guys.....!!!"
"Iya, Na"
Sesampainya di rumah Anna merasa aneh. Pintu pagar rumah terbuka lebar tanpa dijaga oleh satpam. Banyak mobil berjejer di garasi sampai-sampai garasi tak mampu lagi untuk menampung mobil sebanyak itu.
"Mungkin angin kali, mending gue cari saklar lampu. Gue harus buang pikiran negatif gue. Lo gak boleh takut Anna. Semangat!!!" menyemangati dirinya sendiri.
Tak lama kemudian bau kemenyan menguat dan suara-suara aneh seperti tangisan bayi mulai menyeruak.
"Ma....Pa......Anna takut....!!" Anna mulai menangis. Tangisannya pecah. Seluruh isi rumah pun dapat mendengar tangisannya.Ia sudah lemas. Bahkan suara tangisannya tak terdengar lagi. Ia duduk dekat sofa sambil memegangi lututnya.
Tiba-tiba......
Duarrr!!!
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Anna... Selamat ulang tahun."
Lagu ulang tahun seraya terdengar. Sepertinya dari lantai atas. Siapa sangka seluruh anggota keluarga Anna, bahkan orang tuanya Martin pun datang memberikan kejutan.
"Pa...Ma......apa-apaan sih... Anna takut" Anna menggigil ketakutan. Brukkkk!! Anna jatuh.
"Tin, bawa Anna ke kamarnya. Seven ambilkan air, Andre cepat panggil dokter keluarga sekarang!!!!!"
Papa Victor ketakutan! Ia sudah tak sanggup lagi melihat kondisi Anna sekarang.
"Dok, silahkan dok periksa keadaan anak saya." kata Papa Victor seraya menuntun dokter ke kamarnya Anna.
"Martin lo harus traktir gue atas ulah lo ini. Gue hampir mati tau gak. Lo kira enak dibuat surprise kayak gini."
"Iya, gue traktir lo selama sebulan deh."
"Anna sayang, kamu udah sadar nak? Bukannya tadi kamu pingsan?"
"Iya om. Anna baru sadar. Baru sadar eh malah minta traktiran."
"Udah-udah. Biarin dokter periksa keadaan kamu dulu Anna baru deh kamu ngerengek minta apa ok"
"Iya papaku sayang" Anna terseyum melihat papanya.
Orang-orang didalam rumah pun menggeleng melihat tingkah Anna yang kekanak-kanakan.