First Time

First Time
Teman



Setelah kejadian di lapangan selesai, Anna beranjak menuju ke ruang kepala sekoalah atau lebih tepatnya ruang Seven.


"Aduh capek banget. Kalo panas-panas gini mau minum yang dingin." Anna bermonolog sendiri. Ia merasa lelah karena dihukum oleh Seven menghormati tiang bendera selama satu les.


"Nih, minum es teh manis nya" Martin menyodorkan gelas berisi es teh manis kepada Anna.


"Makasih,Tin." Anna meminum es teh manis tersebut dan habis ludes dengan sekali teguk.


"Haus apa demen kamu?" Martin sedikit terkejut dengan tingkah Anna.


"Dua-duanya. Ada makanan gak?"


"Bukannya ngucapin terima kasih malah nanya makanan. Dasar rakus." Martin tidak terima dengan tingkah Anna yang membuatnya kesal.


"Makanan gak ada. Mending ke kantin gih."


"Aku gak bawa uang. Kamu yang bayarin ya?" Anna berpura-pura tak membawa dompet untuk mendapatkan traktiran dari Martin.


"Bilang aja pura-pura. Tinggal bilang traktir aja susah." kesal Martin.


"Biasa aja kale. Gak usah ngambek pake mukak ditekuk lagi macam baju gak disetrika. Jadi traktir gak nih?"


"Jadi, ayo" Martin menarik tangan Anna bergegas menuju kantin.


*******


"Bu, pesan mie ayam dua mangkok, tahu isi empat buah, bakwan enam buah plus dua gelas es teh manis." Anna memesan makanan mereka. Martin telah memberikan kebebasan untuk membeli apa.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu pesanannya, Anna menghampiri meja tempat Martin berada.


"Buset dah, kamu sanggup habisin ini semua?" Martin bertanya seperti itu karena melihat pesanan Anna.


"Sangguplah, orang demen makan juga. Nih buat kamu semangkok mie ayam, sebiji tahu isi, sebiji bakwan dan segelas teh manis."


"Kok porsi kamu banyak?"


"Makan aja yang ada." Martin yang tidak mau berdebat memilih memakan makanannya saja.


"Permisi, boleh gabung gak?" kata seseorang dari belakang Martin.


"Boleh, duduk aja." Martin mempersilahkan orang tersebut untuk duduk disebelahnya.


"Gue Martin Kristoforus dan ini Anna Hilarius Prasetya." Martin memperkenalkan dirinya dan Anna


Firman memandang Anna yang berhadapan dengan Anna.


"Lo, anak yang diomongin sama bu Sofia tadi pas apel?" tanya Martin.


"Iya, itu gue. Dia itu kakak gue. Anna cucunya Markus Hilarius Prasetya?" tanya Firman balik.


"Iya. Lo anak kelas fotografi itu ya?"


"iya. By the way, kita bisa temenan kan? Kan gue murid baru disini jadi gue gak punya banyak temen disini."


"Iya, kita teman."ujar Martin kepada Firman.


"An, kamu denger kagak sih? Ada orang yang pen temenan sama kamu?" Martin memanggil Anna yang sedari tadi berkutat dengan mie ayam miliknya.


"Mau jadi istri durhaka kamu?"


"Lo sama Anna udah nikah ya?" tanya Firman kepada Martin karena mendengarkan pernyataan yang baru dilontarkan oleh Martin.


"Iya. Kita udah nikah. Belum juga seminggu."


"Jadi, kita bisa temenan kan? Tanpa penghalang dengan status lo berdua?" tanya Firman meyakinkan karena ia tak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain.


"Ya bolehlah. Memangnya kenapa? Lo gak mikir macem-macem kan?"


"Ya kale. Btw, lo mau gak jadi model gue buat kontes foto nasional? Bareng sama Anna boleh?"


"Gue sih mau-mau aja, tapi bini gue ini nih yang harus ditanyain."


"Anna, mau gak?"


"....."


"Anna!!! Denger gak!!!" bentak Martin tapi tak dihiraukan oleh Anna. Karena kesal, Martin menarik mangkok mienya Anna.


"Gue ngikut aja asal mangkok gue lo kembaliin."


Karena tingkah Anna yang tak peduli dengan dunia luar, Firman malah tambah kagum kepada Anna.