
Sepulang sekolah, Anna dan Martin pergi ke cafe milik Anna.
"Selamat siang non." sama salah satu karyawan di cafe Anna.
"Selamat siang menuju sore mbak. Gimana cafe?"
"Seperti bisa mbak, tapi pelanggan semakin banyak mbak kami kewalahan melayani para pembeli." si karyawan menjelaskan segala keadaan cafe selama ini. Sudah sebulan Anna belum singgah ke cafe jadi, Anna harus menanyakan kondisi cafe sampai saat ini.
"Yaudah kalo gitu saya bantuin aja. Tin, kamu ke ruangan aku aja. Lurus belok ke kanan." setelah berkata demikian, Anna menuju lokernya untuk mengambil seragamnya.
Karena tidak memiliki teman ngobrol, Martin pergi menuju ke ruangan Anna.
Lagi-lagi Martin kagum dengan ruangan yang ditempati oleh Anna sama seperti kamarnya di rumah keluarga Hilarius.
Meja tertata rapi dengan kumpulan buku-buku keuangan cafe, kursi dari kayu jati yang menunjukkan serat-serat kayunya. Sofa lebar yang bisa memuat dua orang untuk tidur dan lemaris serta kamar mandi yang berhimpitan.
"Hoammmmm" Martin menguap mengantuk. Ia menuju sofa dan berbaring diatasnys.
"Mbak, lihat Martin gak?" tanya Anna kepada salah satu karyawannya.
"Tadi saya lihat masnya tadi ke ruangan nona." terang sang karyawan.
"Apa dia sudah makan?"
"Kelihatannya belum nona.".
"Ok. Kalo gitu saya ke dapur dulu ya."
Anna pergi ke dapur dan memasak sesuatu untuknya dan Martin.
"Tin, bangun makan gih." Anna menyuruh Martin untuk bangun.
"Hoammmmm. Ntar lagi dah." ujar Martin.
"Nih anak udah dibaekin eh, malah nyolot. Bangun gak?!" Anna menjewer telinga Martin karena kesal plus supaya Martin bangun dari tidurnya.
"Auh. Sakit An. Kek mak-mak rempong aja dah kamu."
"Makanya bangun makan."
"Iya istriku yang cantik." Martin beranjak dari tidurnya dan pergi menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
"Buruan makan. Keburu dingin makanannya."
"Kami pulang." teriak Anna sesampai di rumah.
"Bodo amat." Anna langsung menuju ke kamar yang disusul oleh Martin.
"Ma, Pa, Kak, aku ke atas dulu ya." pamit Martin.
"Nanti langsung ke bawah ya. Mama papa kamu nanti datang ada yang mau dibicarain soalnya."
"Iya kak."
"Tin, mama papa sudah mengambil keputusan kalau kamu dan Anna akan tinggal terpisah dari orang tua. Maksudnya, kalian akan tinggal serumah tanpa papa maupun mama. Kalian akan pindah malam ini ke apartemen kamu Tin." Darman memulai percakapan.
"Iya pah. Aku sama Anna udah ngomongin hal itu juga kok."
"Ya udah Tin, kamu bantuin mama beberes barang kalian dulu ya."
"Iya ma."
Martin mengikuti Naomi yang pergi beranjak menuju kamar mereka.
Di dalam kamar Anna tertidur pulas sehingga Martin tak tega membangunkan Anna. Apalagi Anna lelah karena bantu-bantu di cafe tadi.
"Tin, bangunin Anna deh. Biar dia bantuin kita."
"Jangan mah, lagipula nih ya Anna lelah karena bantu-bantu tadi di cafe."
"Oh ya? Mama gak nyangka lo kalo Anna bantu-bantu di cafe. Mama kira dia cuman bisa nyuruh orang aja."
Setelah adegan perpisahan yang mengharukan, Anna dan Martin akhirnya pindah ke apartemen milik Martin.
"Wih keren banget nih apartemen." Anna berdecak kagum dengan apartemen milik suaminya itu.
Apartemen milik mereka berada di lantai tujuh dengan pemandangan langsung ke hiruk pikuk kota Jakarta.
Dinding kamar berwarna putih, balkon yang cukup luas dan benar-benar sempurna untuk Anna.