
"Thank's ya Anna, atas traktirannya. Lain kali gue bakal traktir lo deh. Tapi, gue traktir lo di warteg aja kayaknya deh" Martin memulai untuk menjahili Anna.
"Sukak-sukak jantung lo aja deh. Gue mah pasrah, yang penting dapat makan gratis. Soalnya gue malas berdebat sama lo. Gak bakalan berhenti deh. Suer" kata Anna sambil mengancungkan dua jarinya berbentuk V.
" Serah lo deh! Gue duluan ya. Nomor lo masih sama kan?"
"Heem. Susah kalo gonta ganti kartu." jawab Anna dengan wajah memelas. Tak lama kemudian Martin menjitak kepalanya, sehingga si empunya kepala merasa kesakitan.
"Gak nanyak. Wekk!!" Martin memilih kabur sambil memeletkan lidahnya.
"Oh God." sambil mengumpat dalam hati Anna berkemas karena waktunya jam tutup.
Cafe yang sedang dikelola Anna biasanya buka pukul 06 : 30 pagi dan tutup 19 : 30 malam. Alasan ia tutup pukul 19 :30 karena ia gak mau kelewatan makan malam keluarga.
Sambil menunggu kakaknya untuk menjemput, Anna mengambil ponselnya dan mendengarkan lagu kesukaannya. Siapa sangka, Anna yang periang lebih menyukai lagu-lagu galau.
*Masihkah kau ragu, tuk ungkapkan semua isi hati......
Tidakkah kau lihat, betapa tersirat cinta ini..
Coba dengarkan isi hatimu....
Bila kau cinta, katakan, katakan, katakanlah.....
Bila lau rindu, kau rindu, kau rindu, tunjukkanlah...
Jangan kau ragu, jangan kau tahan katakan saja......*
.....
Anna menghentikan lagu yang ia putar ketika ia melihat mobil kakaknya sudah datang. Tanpa basa basi lagi, Anna langsung melompat memasuki mobilnya.
"Kalo naik pelan-pelan dong dek. Jaga image dikit napa sih?" sepertinya Kak Seven mulai kesal deh dengan tingkah laku adeknya yang satu ini.
"Gak usah banyak ngomong deh, kak. Meluncur aja. Gue laper nih."
"Bagian perut loh cepet deh, dek."
Waktu yang ditempuh dari cafe ke rumah hanya memerlukan waktu dua puluh menit saja. Ya, deket sekolahnya Anna. Soalnya Grandpa Markus lebih suka kalau cucu kesayangannya lebih dekat dengan tempat kerjanya. Biasa gak mau cucu kesayangan kecapean.
Setelah menunggu beberapa menit, menyadari bahwa mobil berhenti, Anna terbangun dari tidurnya langsung ke luar mobil tanpa menghiraukan kakaknya. Cuek. Itu salah satu sifatnya.
Masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam dan langsung duduk di kursi kosong yang ada di ruang makan keluarga.
Tidak peduli berapa pasang mata yang memandangknya, Anna menelungkupkan wajahnya diatas meja dan tangannya sebagai alas kepalanya.
"Ehem....." Papa Victor berdehem agar Anna bisa bangun dari tidurnya.
"Apa sih papa. Queen lagi tidur nih. Ganggu aja." omelan Anna membuat seluruh orang tertawa geli.
"Oh, jadi Queen lagi tidur nih ceritanya, gak kanagen nih sama Grandpa?" Anna memandang sekeliling dan melihat ada banyak orang di meja makan.
"Grandpa!!!!!" teriakan Anna sungguh memekikkan telinga yang mendengar.
"Aduh Queen, bisa gak sih gak teriak? Ingat! Kamu mau Grandpa masuk rumah sakit gara-gara teriakkan kamu? Hah?" sepertinya kak Andre mulai kesal melihat tingkah adek nya yang satu ini.
"Bodo amat!! Grandpa.....Queen kangen....." Anna langsung memeluk tubuh kakek kesayangannya itu. Ya gimana gak jadi kesayangan coba? Orang cuman punya satu kakek.
" Grandpa gak bisa napas Queen. Pelukkan kamu kenceng banget."
"Itu tandanya, Queen kangennnnn.....banget sama Grandpa" sahut Anna
"Banyak bacot lo ah, Grandpa langsung makan aja deh. Martin lo duduk samping gue aja deh, soalnya kayaknya itu anak kangen baget deh sama Grandpa."
"Wait, wait. Marting ngapain lo disini?" tanya Anna heran. Bagaimana tidak, disana ada Om Darman papanya Martin sama tante Enjeli mamanya Martin.
"Ok. Berhubung udah pada ngumpul, mari kita makan malam bersama. Setelah makan malam kita langsung ke ruang keluarga buat ngobrol sebentar."
Saat makan tidak ada yang bicara. Grandpa Markus (kakeknya Anna) paling tidak suka kalau berbicara ketika sedang makan.
Setelah selesai makan malam, dua keluarga ini pun berkumpul di ruang keluarga.