
Apel pagi. Rutinitas yang selalu dilaksanakan di SMA Budi Bakti.
Dikali ini, apel terdengar sedikit bising karen ulang para siswi yang menjerit melihat Martin.
"Anak-anak, dipagi yang cerah ini juga saya hendak memperkenalkan kepada kalian semua salah seorang teman kalian. Mungkin untuk kelas XI IPS 1, teman kalian sudah memperkenalkan kalian terlebih dahulu. Untuk saat ini, perkenalan resmi kepada kalian semua". Bapak kepala sekolah memulai mencoba memperkenalkan Martin kepada seluruh siswa dan siswi. Tentu saja perkenalan ini menjadi yang terakhir. Karena sebelumnya, pak kepala sekolah telah menyampaikan pesan-pesannya terlebih dahulu.
" Kepada anak kami Martin, silahkan maju ke depan dan perkenalkan dirimu" bapak kepala sekolah mempersilahkan untuk Martin memperkenalkan diri.
"Selamat pagi teman-teman" sapa Martin kepada seluruh siswa.
"Selamat pagi........" teriak para siswi ketika Martin menyapa.
"Baik, perkenalkan nama saya Martin Kristoforus. Saya merupakan siswa pindahan dari Bandung. Dan saya mohon kalian semua bisa membantu saya untuk beradaptasi.
Saya mengambil Jurusan IPS karena sifat sosial saya tinggi, dan saya menyukai pelajaran astronomi."
Author bingung deh, mengapa ya si Martin suka astronomi padahal rasa sosialnya tinggi. Sebenernya cocoknya sama pelajaran sosiologi. He he he he. Ini selingan author ya, karena author lihat novelnya mulai gak teratur. Ok, lanjutin cerita dulu ya, bye.
"Kumpulkan seluruh buku ke depan kita ulangan sosiologi hari ini." Ujar bu Erni.
Bu Erni sudah biasa dengan ulangan mendadak plus guru killer di SMA Budi Bakti.
Sambil memeriksa catatan siswanya ia juga memperhatikan gerak-gerik muridnya.
"Lereng Maco silahkan serahkan ke depan siap atau pun tidak siap bukan urusan saya.
***
"Gilak tuh nenek lampir, punya gue belum selesai malah disuruh nyerahin." Nur kesal dengan ibu Erni karena soal ulangannya belum sepenuhnya ia kerjakan.
"Anna, ke kantin yuk!" ajak Martin.
"Lo gak ikut Nur? Itung-itung ngilangin stresnya loh kek." tawaran yang semula kepadanya, eh malah balik nawarin.
"Gak ah, gue udah bawa bekal. Lo sama Martin aja deh ya." rayu Nur.
"Ok. Lo gak mau nitip?"
"Gak. Buruan gih, keburu bel masuk"
" Daaagh Nur." pamit Anna.
Di Kantin
"Lo pesan apa Anna?"
"Bakso aja ya. Samain sama gue"
"Serah lo dah. Cepetan. Tuh, antrian cewek mulai memeanjang no. Tengok tuh, mereka cuman pura-pura mesen biar lo bisa mereka lihatin sepenuhnya. Cepetan!!!" Anna sudah mulai mencium gelagat murid perempuan yang mendadak rame di penjualan bakso.
Dua menit menunggu, akhirnya pesanan datang.
"Kak, bisa minta tanda tangannya gak?" tanya seorang murid cewek. Menurut penglihatan Anna itu cewek masi adek kelas.
"Adek cantik, manis, imut. Kakak berdua nih lagi makan. Ntaran aja ya. Kamu ke kelas XI IPS A ok?" rayuan Anna membuat sang cewek mengerucutkan bibirnya tanda kecewa.
"Mana buku sama penanya? Tapi, Kakak yang sebelah ikut tanda tangan ya" seyuman yang dilontarkan oleh Martin, membuat siapa saja yang melihatnya pasti meleleh.
"Iya deh kak" si cewek udah kemakan sama rayuan si Martin
"Shit..!!" umpat Anna.
"Biasakan diri lo gak ngumpat Queen"
"Sukak gue lah. Lo jangan manggil gue Queen di sekolah ntar gue di olok-olok baru tahu rasa lo" sambil menunjuk menggunakan telunjuknya.
"Makan tuh makanan lo, gue malas berdebat"
Setelah makan, mereka kembali ke kelas. Ketika mereka hendak menaiki tangga......
"Kak Martin minta foto dong"
"Apa-apaan sih lo. Gak usah nginjak kaki gue kali. Kak Martin boleh minta tanda tangan gak sih?"
Anna yang mulai kesal jalanny dihalangi, ia melewati celah para siswi tersebut dan meninggalkan Martin sendirian menghadapi siswi yang minta foto.
Di Kelas
"Anna, lo udah di kelas aja. Lo ninggalin gue ya. Tega lo, sama teman sendiri."
"Bodo amat!!!!"
"Cih mentang-mentang lo gak direbutin, lo malah ninggalin gue"
"Eh, bege lo napa sih? Sirik lo. Gue juga udah pernah gitu kali. Sampai-sampai grandpa nyuruh bodyguard buat jagain ngawal gue"
"Serius lo? Gue gak percaya masa si batem gue direbutin kayak gitu sih?" tanya Martin sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu pura-pura berpikir.
"Serah. Percaya atau tidak, yang penting gue udah alami" jawab Anna ketus.