First Time

First Time
Usil



Pagi ini Anna bangun lebih awal. Berbeda dengan hari-harinya yang lalu.


Ia merasa sesuatu berat menimpa perutnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Martin tidur disampingnya.


"Tin bangun" Anna membngunkan Martin sambil menepuk-nepuk pipi Martin.


"Ya Tuhan, ini anak kebo banget sih nih anak. Heheheh sama kayak gue." Anna tertawa sendiri dan memiliki ide. Ia mengambil lipstik dan menggambar wajah Martin menggunkan lipstik miliknya.


Setelah itu ia beranjak membasuh wajahnya dan menuju dapur. Ia melihat mamanya dan sang mama mertua sedang memasak di dapur.


"Pagi double mama" sapa Anna.


"Pagi anak mama." sahut kedua mama tersebut bersamaan.


"Tumben nih bangun cepet. Baisanya kayak kebo susah banget dibangunin." sahut Naomi


"Yaelah ma. Mama kayak gak tahu aja. Status aku udah berubah ma. Sekarang aku udah jadi istri."


"Mantu mama perhatian banget sih." ujar Enjeli.


"Udah ah. Basa basi mulu. Ma, aku mau minta sayuran buat bikin sandwich."


"Itu di kulkas. Mau buat sandwich sama siapa sih?" goda Naomi.


"Buat sahabat plus suami aku ma" Anna menekuk wajahnya karena kesal.


Setelah berkutat di dapur, ia mengantarkan sarapan Martin ke kamar. Setelah itu ia mandi dan turun ke bawah untuk jogging.


"Ma, Pa aku ke luar dulu ya.Pengen jogging." Anna izin kepada orang tuanya ditambah dengan mertuanya.


"Hati-hati kamu ya."


"Tungguin An." Teriak Nur dan teman wanitanya di kelas.


"Kuping gue woi!!! Pengen pecah!!!!"


"Udah berangkat sekarang atau papa berubah pikiran."


Anna dan temannya pun berlari ke luar rumah untuk joogging.


Sekedar info. Hanya teman-teman Anna lah yang masih tinggal di villa. Sedangkan tamu lainnya sudah kembali ke Jakarta kemarin malam.


"Hoammmmmm" Martin bangun dari tidurnya dan tidak menemukan Anna disebelahnya.


***Untuk Martin sahabat dan suamiku


Aku sedang keluar untuk jogging. Aku membuatkanmu sarapan. Aku juga membuatkan mu susu cokelat.


Anna👻.***


"Ada-ada saja. Lebih baik aku makan dulu. Laper banget nih" Martin bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Pagi semuanya...." Martin menyapa semua orang yang ada di ruang tamu. Namun kedatanagan Martin membuat semua orang tertawa.


"Kenapa? Ada yang salah?" Martin melihat semua kelengkapannya.


"Baju ada celana ada, lalu apa yang salah" batin Martin.


"Sejak kapan kau menjadi badut?" tanya Rahmat seraya tertawa.


"Ada apa sih?" Martin masih heran dengan yang terjadi.


"Mending ngaca dan cucu muka setelahnya." Seven menyodorkan cermin kepada Martin dan


"Kau akan selalu mendapatkan kado pagi dari queen kami cucu mantu. Kami sekeluarga sudah kena kejahilannya. Dan sekarang giliranmu." tawa grandpa pecah setelah memberikan penjelasan kepada Martin.


"Coba saja kalian bayangkan. Masa Anna selalu mengembalikan waktu ke belakang. Setiap sejam sekali ia ke kamarku dan tetap memutar jam ku tetap ke angka 4." Andre menceritakan kejahilan Anna yang mengakibatkan Andre bangun pukul 10 pagi karena ulahnya.


"Bukan hanya itu, Tin. Anna pernah mengerjaiku dengan menyiram kasurku dengan air agar aku terlihat seperti ngompol. Pagi-pagi ia membahas tentang itu. Dan parahnya ia membahas disaat aku membawa klien ke rumah." seketika tawa kembali pecah.


"Yang kamu rasakan belum seberapa, nak. Kedua kakakmu apalagi Andre yang paling sering kena ulahnya."


"Morning all" Anna datang dari luar karena jogging sudah selesai.


"Tin, muka lo kenapa? Kesurupan lo abis malam pertama sama Anna?" gelak tawa yang dilontarkan teman wanita Anna tak bisa dibendung lagi.


"Bentar deh, kamu make lipstik,Tin?" Anna bertanya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Karena sudah tak tahan lagi dengan ulah Anna, Martin beranjak menuju ke kamar.


"Samperin gih. Kasihan tahu dari dia dibully terus." Darman menyuruh Anna untuk menghadapi Martin.


"Wadidauw. Kayaknya gue bakal diterkam sama kucing deh." gelak tawa pun kembali pecah.


Sisi lain dari Anna yang galak adalah usil. Ia juga manja tapi mandiri.


"Ke atas dulu ya. Bye all." Anna meminta izin kepada semua orang dan menuju ke kamar.


"Tin. Aku mau minta maaf ya soal yang tadi." Anna mencoba meminta maaf kepada Martin.


"......."


"Martin Kristoforus saya Anna Hilarius Prasetya sebagai seorang istri, saya meminta maaf kepada suami saya." Anna menganggkat tangan kanannya bak para pejabat seperti ingin bersumpah ketika mereka dilantik.


"........" tidak ada sahutan lagi.


"Gak dimaafin nih? Ya udah bodo amat!!" Anna meninggalkan Martin sendirian dan pergi mandi.


"Anna Hilarius Prasetya dipanggil oleh mama Naomi Hilarius Prasetya untuk sarapan."


"Terima kasih atas informasinya bapak Martin Kristoforus." jawab Anna ketus.


"Nur lo duduk sebelah kiri gue. Maco sebelah kanan gue. Gak boleh pindah ya. Ingat!!!" perintah Anna ketika semua orang berkumpul di Meja makan.


"Anna, harusnya suami kamu duduk disamping kamu. Martin duduk didepan Anna."


"Gak boleh!!!! Kak Andre duduk didepan aku." sergah Anna.


"Kok macam anak kecil ya nih anak. Seharusnya gue yang ngambek ini mah beda justru dianya yang ngambek." batin Martin.


"Queen, ada apa?" tanya grandpa.


"Tahu tuh si bege. Udah minta maaf tapi gak mau dimaafin." Anna mengeluarkan unek-uneknya.


"Siapa suruh mencoret wajah saya dengan lipstik nona Anna Hilarius Prasetya."


"Siapa suruh tidur disamping saya tuan muda Martin Kristoforus? Secar nih ya, saya sebagai queen akan selalu iseng dipagi hari." Anna menanggapi perkataan Martin dengan nada sarkas.


"Ok. Mau dimaafin kan?"


"Hooh."


"Kalo gitu. Turutin kemauan aku ok."


"Iya dah terserah asal dimaafin mah oke." Anna cari aman saja dan menghabiskan sarapan paginya.