
Mendengar itu Anna tak menyangka ini akan terjadi. Ia hanya mengira itu hanya sebagai candaan grandpa Markus
Flashback On
" Queen, grandpa mau kamu buat ngelola cafe dekat sekolahan kamu ya."
"Tapi, aku gak mau opa." Anna berusaha membantah.
"Kamu pilih mana, mengelola cafe atau opa jodohin sama Martin anaknya Om Darman?" Grandpa memberikan tawaran lain yang membuat Anna jengah. Ia terpaksa memilih mengelola Cafe daripada tunangan sama sahabatnya sendiri.
"Iya deh, aku lebih baik mengelola cafe."
"Nah, gitu dong. Soal jodoh-jodohin itu cuman rencana opa doang kok, biar kamu mau nerima tawaran opa."
"Yeh, kalo aku udah tahu, mending aku tadi gak milih opa."
"Kamu sudah menentukan pilihan kamu. Jadi, gak moleh membantah."
Flashback Off
"Anna, kamu gak papa kan?" tanya Nur.
".........."
"Anna kamu denger gak sih?" Nur mulai kesal karena Anna sedari tadi tidak menyahut.
"Gue gak apa-apa kok. Gue cuman kaget aja sama omongan *grandpa.*"
"Gue tahu kok gimana perasaan lo An. Gimana kalo kita bilang ke grandpa gak usah dilanjutin peertunangannya." Martin mengeluarkan suaranya karena dari tadi ia tidak memberikan tanggapan apa-apa.
"Semakin lo buat batalin, semakin kekeh juga grandpa buat ngejodohin gue sama elo. Lo tahu kan, keputusan grandpa gak bisa diganggu gugat, Tin." Anna pasrah akan yang terjadi.
"Anna, Martin ada sesuatu hal penting yang mau papa sama Om Darman bicarin ke kalian." Papa Victor mengajak Anna dan Martin membicarakan sesuatu yang penting.
"Apaan pa?"
"Tapi, kita ceritanya jangan disini ya, soalnya temen-temen kamu rame banget."
"Apa susahnya sih pa tinggal ngomong. Ah, papa mah gitu sama kek grandpa gak bisa diganggu gugat. Ngomongin apa sih?"
"Kita bicaranya di ruang kerja papa."
"Tapi pa...."
"Lo nurut aja sih An. Ngeyel banget sih lo." Martin mencoba membujuk Anna.
"Iya deh, bege. Kalo bege udah ngomong, gak bisa diganggu gugat dah. Sama kek papa sama grandpa. Cocoknya kalian buat trio wek-wek."
"Ngejeknya nanti aja. Buruan gih masuk ke ruangan papa lo. Dari tadi ngomong trus." Martin menyuruh Anna masuk ketika mereka sampai di ruang kerja papa Victor.
"Udah pah, langsung aja gak usah banyak basa-basi." Sikap menjengkelkan Anna mulai keluar nih.
"Sabaran dikit kek jadi orang. Nyesel gue punya sahabat kek lo." Martin kesal dengan tingkah Anna.
"Sudah berhenti!!! Ini papa mau ngomong tapi mulut kalian itu terbuka trus. Kalian sejak dari kandungan udah dijodohin."
"Apa!!!!!" Teriak Anna dan Martin bersamaan.
"Iya, kalian sudah dijodohin sama grandpa sejak dalam kandungan, Tin. Waktu itu perusahaan kita berada diujung tanduk. Grandpa Markus membantu keluarga kita dengan syarat kalian kalau sudah besar harus selalu bersama. Itulah alasan mengapa Papa selalu menganjurkan kamu dekat dengan keluarga ini Martin." lanjut Om Darman.
"OMG, gak ada yang lebih serem lagi nih cerita? Masa aku harus tunangan, nikah, punya anak dari sahabat aku sih?" ujar Anna.
"Gak bener nih, pa. Mengapa gak kak Tuti aja yang dijodohin sama keluarga mereka pa." Martin mengeluarkan unek-uneknya.
"Yang namanya keputusan grandpa ya gitu. Gak bisa diganggu gugat. Papa juga udah nyaranin itu ke opa kamu Queen. Papa takut ketika kamu lahir adalah anak laki- laki. Papa takut karena kedua kakakmu itu laki-laki, jadi papa kira yang akan lahir anak laki-laki." Papa Victor mulai bicara panjang lebar.
"Besok kalian fitting baju ya sayang." Ujar mama Naomi.
"Lah, kok mama ada disini sih? Bukannya teman kelas aku masih dibawah ya?" tanya Anna karena melihat mama Naomi sama mama Enjeli masuk ke ruang kerja.
"Mereka barusan pulang nak."
"Semua ma?" tanya Anna lagi.
"Iya."
"Pokoknya besok kalian fitting sekalian beli cincin. Soalnya sehari setelah pertunangan kalian langsung nikah." Ujar mama Enjeli.
"Gak buru- buru amat ma?" tanya Martin.
"Ini udah dupikirin mateng-mateng sama opa. Surat undangan nikah sama undangan tunangan udah kesebar."
"Ini surat undangan buat teman kelas kalian." Mama Enjeli menyodorkan surat undangan nikah sama tunangan.
"Bentar, bentar. Kok ada foto gue sama lo sih, Tin. Setahu gue kita gak pernah foto preewed deh." Anna heran karena fotonya dan Martin terpampang di surat undangan itu.
"Lo aja yang gak nyadar. Lo ingat pas ada perusahaan yang nawarin kita buat jadi model produk mereka? Udah sebulan yang lalu bemut!!"
"Masa sih? Gue gak ingat."
"Gimana lo ingat lo sibuk sama persiapan party ultah sekolahan bemut!"
"Napa lo tahu kalau itu foto preewedd?"
"Barusan bemut, soalnya gue keinget aja sama perusahaan itu."
"Ternyata ayah hebat juga ya." Ujar mama Naomi.