
"Gini ya, gak ngajak-ngajak buat ikut barbequan." sahut kak Tuti yang tiba-tiba datang.
"Kan ini acara sekelas kak. Kakak kan bukan anak sekolahan." cerocos Maco dengan mulut penuh dengan cemilan.
"Ishhh. Jorok amat sih lo mantan cowok. Tuh liur lo ampir muncrat." Epi kesal karena wajahnya terkena cipratan air liurnya Maco.
"Udah.......!!!! Stop.....!!!!! Kak Tuti kakak boleh ikut kok. Lagian ada yang nganggur tuh dipojokan." Anna menunjuk Kak Andre dengan dagunya.
"Yes!! Makasih ya Anna sayang. Sebagai imbalannya, kakak bawain kamu sepatu kets keluaran terbaru." Tuti menyodorkan kadonya berupa sepatu itu kepada Anna.
"WOW!!!! Makasih ya kak. Kakak repot-repot bawain aku kado."
"Sama calon adek ipar kok pelit sih..." Tuti menggoda Anna sampai-sampai wajahnya Anna merah karena malu.
"Kakak apaan sih. Yang ada nih ya kakak itu calon kakak ipar aku. Tuh kak Andre udah siap menuju pelaminan sama kakak tuh." Anna balas menggoda Tuti sampai-sampai Andre datang karena Anna menyebut namanya dengan sedikit terikan.
"Ngapain nyebut-nyebut nama gue dek." Andre menghampiri Anna tanpa menyadari kedatangan Tuti.
"Ini kak......" omongan Anna terpotong karena panggilan mama Naomi buat makan bareng.
"Makan dulu gih. Nanti aja lanjutin buat goda kak Andrenya Anna. Ayo!!! Makan!!!"
"Siap tempur tante!!!!!" ucap teman sekelas Anna serempak.
"Wih...bagian makanan mah kalian semangat ya cabe rawit." Cabe rawit itulah panggilan Seven buat kelas X IPS A yang super duper ngeselin. Bagi Seven.
Makan malam berjalan dengan khidmat. Tanpa suara. Bagaimana tidak, sang king siapa lagi kalau bukan Grandpa Markus ikut acara barbequan.
"Grandpa, kalo makan itu gak boleh ngomong." Anna mencoba untuk menegur Grandpa.
"Eits... itu kalau keluarga yang kumpul ini kan makan bersama antar dua keluarga ditambah lagi ada teman-temannya cucu Grandpa." Grandpa tidak mau kalah karena cucu kesayangannya Anna mencoba untuk menegurnya.
"Pa, Anna kita makan aja nanti aja kita membahas banyak hal ya." Papa Victor menengahi perdebatan antara kakek dan cucu itu tak akan berhenti sampai disitu saja karena tidak akan ada yang mengalah.
Mereka makan malam kembali tenang dengan khidmat. Tak ada yang memulai pembicaraan. Anna merasa tidak nyaman karena ia telah membantah Grandpa kesayangannya.
Setelah makan malam Anna meminta maaf kepada Grandpa.
"Opa, maafin Queen ya. Queen gak bermaksud buat ngebantah Opa. Soalnya, opa sih gak pernah ngizinin kita semua ngomong kalo lagi makan." Anna memohon kepada Grandpa Markus.
"Iya, Opa maafin kesalahnya Queen. Tapi dengan satu syarat."
"Syaratnya apa opa?"
"Kamu kumpulin dulu semua orang deh biar semua orang dengar syaratny Grandpa."
Opa, sebutan kepada Grandpa jika Anna sedang merengek memohon sesuatu.
Tak cukup lama, semua orang berkumpul di ruang keuarga.
"Kita kumpul disini karena ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Grandpa." Anna memberitahukan alasan mengapa mereka berkumpul di ruang tamu.
"Grandpa mau mengumumkan bahwa, Anna dan Martin akan melangsungkan pertunangan lusa. Anna ini syarat yang grandpa berikan agar opa memaafkanmu. Pelayan siapkan kamar saya ingin beristirahat." Sahut grandpa seraya berjalan menuju kamarnya meninggalkan semua orang yang berada dalam keterkejutan yang diciptakan oleh grandpa Markus.