
Setelah puas melepas rasa sedih dan rasa bersalah satu sama lain, maka keluarga Hilarius Prasetya pun berangkat pergi menuju ke tempat Anna dan Martin akan mengikrarkan janji suci mereka.
"Anna, opa mohon sama kamu nak. Kalau nanti kamu udah nikah, please jangan beda ya rumahnya sama cucu mantunya opa. Opa gak mau mendengar cibiran dari luar nak. Nanti rekan bisnis papa kamu akan mengolok papa kamu. Kamu mau?" bujuk opa agar Anna tetap tinggal satu atap dengan Martin ketika pernikahan mereka telah sah.
Queen pikirin dulu ya opa." Anna berpikir bahwa apa hubungan antara Anna dan Martin pisah rumah sama bisnis orang tuanya.
Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, mereka akhirnya mereka sampai di kapel keluarga Hilarius Prasetya. Anna tidak langsung menuju ke dalam kapel, melainkan ia terlebih dahulu menuju ruang ganti untuk menyempurnakan dandanannya. Sebenarnya Anna menolak untuk pemasangan *make-up*
diwajahnya. Tetapi, ia terpaksa karena mendapat ancaman dari papanya.
Sedangkan keluarga Martin terlebih dahulu tiba di kapel. Pada saat kedatangan keluarga Anna, Martin dilarang keluar dari dalam mobil karena menurut tradisi keluarga Kristoforus dan Hilarius, tidak baik jika kedua calon pengantin bertemu sebelum mereka mengucapkan janji suci.
"Selamat datang tuan Markus Hilarius Prasetya." Sapa Darman ayahnya Martin.
"Bisa saja kamu, Man. Panggil saja aku ayah. Berapa kali aku sudah mengatakannya tapi kau masih saya memanggilku tuan."
"Baiklah ayah. Asalkan saudaraku Victor takkan cemburu saja. Maklum ayah dari kami masih SMP dia suka cemburu jika ada yang mendekati keluarganya."
"Itu kau Darman. Kau selalu cemburu jika aku menghampiri ibumu dulu."
Keluarga Hilarius dan Kristoforus sudah sejak lama mengikat tali persaudaraan. Namun, keluarga mereka sangat harmonis walaupun tak ada hubungan darah sekalipun.
Setelah beberapa lama ketiga orang tua ini berbincang-bincang, Martin keluar dari dalam mobil karena merasa gerah.
"Pa, aku mau keluar bukan karena apa-apa pa. Aku merasa gerah saja." Martin langsung menjelaskan karena melihat tatapan tajam dari Darman.
"Pa, kita disuruh masuk. Acaranya akan segera dimulai pa." Seven memanggil para tetua itu karena telah mendapatkan aba-aba bahwa acara akan segera dimulai.
"Mari, Man. Kita masuk. Martin ayo nak, masuk." Victor mengajak mereka untuk masuk ke dalam kapel. Semua tamu undangan sudah hadir. Para teman sekelas Anna pun ikut hadir.
Martin terlebih dahulu menghadap pastur yang akan melaksanakan pernikahan antara Anna dan Martin. Martin menggunakan tuksedo hitam yang melekat sempurna ditubuhnya.
Tak butuh waktu lama, Anna mulai memasuki kapel yang diboyong oleh Victor. Ia menggunaakan gaun putih dengan aksen kain tile transparan pada bagian lehernya. Gaun dengan aksen taburan mutiara disekeliling bajunya. Ditambah lagi dengan aksen ekor yang sangat panjang yang mencapai 3 meter.
Gaun yang sudah didesain sendiri oleh opa Markus. Anna menjadi putri kesayangan keluarga Hilarius Prasetya karena selama tiga turunan tidak ada yang mampu memberikan anak perempuan pada keluarga mereka. Dan pada keturunan ketigalah Anna ada.
Rambut yang digulung dengan meninggalkan sedikit rambut pada bagian depan sebagai hiasan tambahan. Diatas kepalanya dibilubuhkan mahkota yang bertabur batu swarowski. Yang ditengahnya terdapat berlian berbentuk bintang. Wajah Anna dipoles dengan make-up yang tipis untuk menambah kecantikannya.
Anna akhirnya berada disisi Martin. Pastur menyuruh mereka untuk saling berhadapan.
Pastur mulai menjalankan tata acaranya satu per satu hingga mereka sampai pada janji suci pernikahan.
"Dihadapan imam dan para saksi, saya Martin Kristoforus dengan tulus ikhlas, bahwa Anna Hilarius Prasetya yang hadir disini mulai sekarang ini menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini." Janji Martin.
"Dihadapan imam dan para saksi, saya Anna Hilarius Prasetya dengan tulus ikhlas, bahwa Martin Kristoforus yang hadir disini mulai sekarang menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan maalng, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini." janji Anna.
Setelah mengikrarkan janji suci, patur berkata" Atas nama Gereja Allah, dan dihadapan para saksi dan hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa perkawinan yang telah diresmikan ini adalah perkawinan Kristen yang sah. Semoga sakramen ini menjadi bagi saudara sumber kekuatan dan kebahagiaan."
Setelah pastur mengucapkan kalimat tersebut, Anna dan Martin bertukar cincin yang sudah diberkati sebelumnya. Dan kini tibalah waktunya bagi Martin untuk membuka penutup wajah Anna. Ia kagum, melihat kecantikan Anna jika jiwanya feminim seperti ini. Tanpa ia sadari jantungnya mulai berdegup cepat. Ia mencium kening Anna dan teriakan sorak-sorai pun pecah dari mulut para saksi pernikahan dan para hadirin pernikahan kedua sejoli ini.