First Time

First Time
Party



Setelah beberapa lomba dilaksanakan tibalah puncak perayaan HUT SMA Budi Bakti. Pesta dilaksanakan dengan sangat meriah. Dan drees cot yang digunakan adalah warna putih.


"Ma, buruan ma kita udah telat nih ma" teriak Anna kepada mama Naomi


"Buru-buru banget sih, nak. Kamu aja belum dandan. Tunggu mama di mobil ya mama ambil peralatan make-up dulu."


"Aduh, ma. Ribet banget sih. Bisa gak, gak pake make-up?"


"Pake make-up atau gak ikut party sama sekali" Anna yang mendengarkan perkataan mamanya terpaksa mengikuti kemauan mama Naomi.


"Ma.....ribet amat sih, masih lama nih masangnya?" tanya Anna yang sedang dimake-up oleh mama Naomi di dalam mobil.


"Tinggal masak lipstik kok."


Di sekolah


"Ma, aku ngecek semua dulu ya." izin Anna setengah berlari.


"Hati-hati" teriak mama Naomi.


"Gimana semua aman? Catering ? Sound System? " tanya Anna kepada seksi yang membidangi. Ia tidak mau kepala sekolah maupun yang lain kecewa.


"Beres,na." jawab mereka serempak.


"Ok deh, kalau gitu gue cek yang lain dulu ya."


"Maco, lo udah sewa kamera atau belum?" tanya Anna kepada maco yang merupakan sie dokumentasi.


"Gue lupa" jawab Maco sambil memukul jidatnya.


"Lo gimana sih, ini party udah mau mulai loh. Ceroboh banget sih hidup lo." Jawab Anna kesal.


"Ya gimana dong kan manusia biasa lupa" Maco mengelak dari masalah yang ia hadapi apalagi kalau masalah yang ia hadapi bersama Anna.


"Udah pake kamera gue aja" seseorang menyodorkan kameranya dari belakang tubuh Anna, sehingga sontak Anna berbalik.


"Ini kameranya. Oh iya perkenalkan nama saya Firman Anggara. Jadi minjem gak?"


"Jadi kok. Gue Anna ini Maco sie dokumentasi." Anna memperkenalkan diri.


"Maco, dipanggilin pak Nobel tuh" teriak Martin.


"Gue duluan dulu ya."


"Padahal gue mau bilang biar dia sekalian foto-foto kegiatannya." keluh Anna.


"Gue aja deh fotografernya." Firman mengajukan dirinya.


"Bener nih, gak apa-apa?" Anna mencoba meyakinkan.


"Gak kok."


"Yaudah gue duluan ya. Soalny masuh ada yang harus dicek" pamit Anna.


"Selamat di perayaan HUT SMA Budi Bakti kepada para hadirin sekalian." protokol membuka acara.


"Wah meriah sekali ya, ngomong-ngomong nih ya. Kali ini perayaan ultah sekolah spesial banget hari ini. Kenapa ya?" prokol mulai berbasa-basi.


"Katanya nih, pemilik sekolah sekaligus donatur acara ini akan hadir lo. Dia datang demi cucunya."


Oh iya lupa readers. Satu sekolahan itu gak tahu kalau Anna cucu dari pemilik sekolahan. Hanya guru saja yang tahu. Soalnya keluarga Anna tidak mau dimanfaatkan oleh orang lain.


Lanjut...


"Kakek idaman nih." sahut protokol yang berada disebelahnya.


"Daripada bikin penasaran mari kita sambut keluarga Bapak Markus Hilarius Prasetya." seketika suasana menjadi riuh. Tepukan tangan menggema.


"Dan....ada lagi nih, keluarga yang baru menanamakan sahamnya di sekolah kita ini. Mari kita sambut Bapak Darman Kristoforus..." kembali riuh lo gengs, apalagi Kak Tuti udah balik dan jangan tanya lagi Kak Andre langsung terpana ngelihat Tuti dengan dress kembang dibawah lutut dengan dipoles sedikit make-up. Eh, iya lupa. Diparty ini keluarga donatur sama pemilik saham dihadirkan, makanya Kak Andre ada.


"Oke tak perlu lama lagi mari kita mulai acara kita hari ini. Eits......yang buka acara kita persilahkan bapak Markus Hilarius Prasetya. Kepada bapak dipersilahkan." protokol mempersilahkan Grandpa Markus naik ke atas panggung.


Anna sejak acara dimulai masih mengecek persiapan tersentak mendengar nama Grandpa Markus dipanggil. Ia langsung berlari ke aula sekolah.


"Baik, terimakasih kesempatan yang telah diberikan pada saya. Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun SMA Budi Bakti. Saya datang ke acara ini karena cucu saya. Tapi, sejak tadi saya belum melihat dia." Grandpa Markus celingak-celinguk mencari si Queennya keluarga Prasetya.


"Nah ketemu, dia lagi berdiri di pintu." Sontak semua orang memandang Anna yang berada di depan pintu aula. Anna merasa risih karena ia dipandangi banyak orang karena ulah kakeknya.


"Kemari nak." Grandpa Markus memanggil Anna. Anna sebenarnya tak ingin naik panggung tapi karena ratusan pasang mata memandangnya ia terpaksa menghampiri kakeknya.


"Perkenalkan ini cucu saya Anna Hilarius Prasetya. Ada lagi yang duduk agak putih tapi hidungnya pesek namanya Seven Hilarius Prasetya dan si jangkung sawo matang Andre Hilarius Prasetya." sontak seluruh siswa dan undangan tertawa mendengar ocehan Grandpa Markus.


"Mari kita buka acaranya......." Grandpa markus memukul mic yang ada didepannya.