
"Ok. Saya langsung bicara saja." Om Darman mulai berbicara.
"Saya dan keluarga saya akan pindah ke sini. Namun, saya masih belum memiliki tempat tinggal disini. Saya dan istri saya sedang mencari tempat tinggal didaerah ini. Nah,untuk itu saya mohon persetujuan Pak Victor dan keluarga mengizinkan saya dan keluarga saya untukenginap disini. Itu pun kalau boleh, kalaupun tidak, saya akan menacari hotel sebagai tempat tinggal sementara."
"Iya Pak Victor, sekalian saya minta tolong, bagaimana cara mengurus berkas-berkas pemindahan sekolahnya anak saya." akhirnya Enjeli (mamanya Martin) mengeluarkan kegundahannya. Soalnya dia tidak tega karena anaknya tidak sekolah.
"Ngapain pusing sih tante. Kan kak Martin bisa sekolah di yayasannya kakek.Ntar Kak Andre sama kak Seven bantuin kok buat ngurus administrasinya" tanpa ada angin, Ribka adiknya Anna mengeluarkan usulnya, walaupun tak melirik Om Darman maupun papanya.
"Bener juga tuh Jeng, Bang bantuin Om Darman sama tante Enjeli ya ." Perintah Mama Naomi sambil melirik kedua anak laki-lakinya itu.
"Ok ma. Asalkan Si Bawel yang sampingan sama Grandpa gak keganjenan aja ntar. Soalnya nih ma, ada angin berlalu mengatakan bahwa Queen kita naksir sama Martin." ledek kak Andre karen sedari tadi ia melihat Queennya keuarga ini sibuk berbicara dengan Grandpanya.
"Ihhhhh, Kak. Bilangin aja kalau kakak itu demen......banget sama anak pertamanya Om Darman. Siapa tu namanya dek?" tanya Anna pada Ribka pura-pura tidak tahu.
"Kak Tuti ya maksudnya kak Anna?"
"Yap, betul sekalia adekku sayang. Kak Tuti. Om, Kak Tuti lagi dimana sih, soalnya ada yang kagen. Hampir tiap malem aku denger disebelah kamar aku ada yang ngomong kek gini ' Tuti...Lo kapan sih kesini? Gue kangennnnnn banget sama lo' " tak lama setelah Anna memperagakan suaranya Kak Andre, suara tawa pecah memenuhi ruang keluarga sehingga sang bahan bullyan tak lain dan tak bukan Kak Andre merasakan panas pada pipinya. Wajahnya merah menahan malu.
"Kak Tutinya lagi di Jerman, Anna. Lagi lanjutin S 2 tentang Filsafatnya. Kira-kira dia akan pulang dua minggu lagi." jawab Om Darman sambil melirik ke arah Andre.
Tawa pun tak dapat ditahan lagi. Niat Andre ingin menjahili Anna, kini senjata makan tuan. Ia kini yang menjadi bulan-bulanan orang-orang dalam rumah ini. Sampai akhirnya, Grandpa mulai berbicara.
"Grandpa akan bermalam disini. Besok pagi, Andre dan Seven temani Martin ke sekolahan. Berhubung kalian datangnya tiga orang, maka mobil Anna lah yang digunakan untuk ke sekolahan besok. Jangan bingungu mobil yang mana. Mobil cucu kesayangan kakek ini hanya dua yang mampu menampung orang. Yang akan kalian gunaakan besok yaitu alphard kesayangannya Queen.
"Why ? Kenapa harus mobil Queen Grandpa, kan mobil Kak Andre sama Kak Seven banyak. Lagi pula keren-keren kok"
"Sekali grandpa memutuskan sesuatu tidak bisa diganggu gugat"
"Grandpa punya pengumuman satu lagi, karena hari ini lagi rame, maka kamar yang bisa digunakan hanya ada 5. Kamar pertama, kedua, dan ketiga untuk Martin parent's, Seven parent's , and the last bedroom to Grandpa. Nah, untuk cowok-cowok tidur di kamarnya Anna. Bertiga ya, soalnya kasurnya Queen cukup buat 5 orang. Dan Anna sama Ribka tidur di kamarnya Ribka. Mengapa kalian tidak tidur di kamar kalin Seven dan Andre? Karena Grandpa dan Martin parent's tempati."
"Grandpa, bukannya ada kamar tamu?" tanya Anna.
"Grandpa tidak mau pelayan rumah ini terlalu jlelah untuk melakukan pekerjaan rumah ini."
"Ya sudah, itu sudah keputusan Grandpa ayo kita tidur" aja Papa Victor.