
Author POV
"Woi An!!!!!" teriak teman-temannya.
"Apaan sih? Gak usah teriak kale..... ini bukan hutan." balas Anna jengah sambil memutarkan kedua bola matanya.
"Kita semua mau ngucapin selamat ke elo, eh tau-taunya lo nya ngembek kek kambing."
"Hahahhaahhaah" sontak semua temannya tertawa ngakak mendengar celotehan Micchelin.
"Ada yang salah ya, sama omongan gue?" tanya Micchellin pura-pura tak tahu.
"Serah lu pada dah. Besok gak lupa kan datang?"
"Emang kita mau kemana gengs?" tanya Michael kembarannya Micchellin.
"Buset dah lo bang. Emangnya lo dari kemaren gak baca surat undangan? Nih, baca baek-baek ye." Micchellin menyodorkan surat undangan ke Michael. By the way Michael sama Micchellin cuman beda 10 menit doang kok.
"Oh, pantesan gue kagak ngarti. Gue mau jelasin dulu ya. Anna kemaren pas lo ngomong makan gratis, gue langsung ngayal membayangkan makanan-makanan enak tersaji didepan gue. Dan tadi pas nyampe, gue langsung ke meja makan. Dan sampai sekarang, gue masih makan lo tengok perut gua udah buncit macam mak-mak bunting."
"Hahahahahahahhaahha" tawa pecah kembali terdengar. Tapi cuman satu orang yang tidak tertawa. Siapa lagi kalau bukan Anna? Dilihat dari ekspresi wajah ditekuk, bibir maju beberapa senti menunjukkan bahwa ia kesal dengan tingkah teman-temannya
"Udah puas lo pada ketawa? Hah?!!" Anna langsung nyemprot dan tertawaan berhenti sejanak. Bahkan nih ya, semua mata tertuju ke Anna.
"Udah gak usah buat calon nganten kita ngambek deh. Ntar dia keriputan terus nih ya suaminya gak bakalan lagi tertarik ama dia."
Lagi-lagi suara tawa pecah. Kini bukan hanya teman-temannya Anna, semua kolega papa Victor ikut menertawakan candaan Kak Andre. Yap, Kak Andre. Ia memang sering menjahili adeknya. Dia gemes tiap meliihat wajah cemberut Queen Hilarius Family.
Kak Seven yang memandang wajah cemberut Anna langsung menengahi dan mengajak Anna untuk menjauh. Biasa anak sulung, jadi harus dewasa pemikirannya.
"Nih, makan nih mie nya. Kakak lihat dari tadi kamu belum makan dek. Mukak kamu jangan ditekuk terus dong, kek gak tahu Kak Andre aja."
"Gimana gak kesal, kak. Kak Andre usilnya udah kelewatan.Hiks"
"Hey, kok nagis sih. Biasanya kamu bakalan kuat kalau digituin sama kak Andre. Masa kali ini kamu lemah sih? Cerita sama kakak kalau ada yang mengganjal hati kamu." Kak Seven tahu kalau bukan hanya karena candaan tersebut Anna menangis.
"Gak ada kok kak." Anna mengelak dan memulai memakan mienya sambil terisak.
"Ayok cerita. Kamu gak kakak anggap adek ya mau?"
Seketika Anna menangis sejadi-jadinya.
"Udah kakak pinjemin nih ya dada kakak. Tapi cerita ya." Seven tahu kalau kali ini Anna dalam kondisi tertekan. Sebenarnya, Anna gak tertekan amat sih, biasa kalo udah dimanjain dikit-dikit nangis.
"Aku gak mau nikah kak. Aku takut. Aku takut kalo aku gak bisa bareng keluarga kita lagi, apalagi sama kakak. Aku gak mau kak." Akhirnya Anna mengeluarkan unek-uneknya.
'Itu masalahnya? Kamu inget gak syarat yang kamu ajukan supaya mau menerima Martin sebagai suami kamu?"
"Syarat apa kak?"
"Itu, syarat kamu tinggalnya beda rumah sama Martin. Kamu kan tetep bisa bareng sama kakak. Kalaupun Martin gak mau pisah rumah, ya kalian tinggal disini aja. Apa susahnya sih? Gak usah nagis lagi ya."
"Tapi, kakak bantuin aku ya buat ngomong sama papa sama keluarga lainnya."
"Buruan gih, kamh makan."
"Suapin"
"Mana makanannya? Biar kakak suapin."
Dengan telaten, Seven menyuapi adeknya itu. Walaupun Anna beranjak dewasa, ia masih suka makan dari tangan Seven
"Udah habis. Masuk yuk! Kayaknya acara udah selesai."
"Iya kak. Inget, bantuin ngomong ya."
"Iya, buruan gih."
Kak Seven pun berusaha untuk memanggil semua orang rumah. Walaupun cuman masalah kecil, kalau udah menyangkut Anna itu sudah menjadi masalah besar baginya.
Karen kelelahan, Anna tidur dipangkuan Seven dengan posisi kepala berada diatas paha Seven.
"Ada apa bang? Sampai mau ngumpulin semua orang?" tanya Mama Naomi.
Seven pun menceritakan semuanya. Ia menceritakan secara detail apa yang disampaikan Anna kepadanya.
Keluarga lain pun menyetujuinya dan Andre kesal melihat Anna tidur sedangkan yang lainnya bicara serius.
"Gimana And, digituin? Kesel kan? Ya, Ann juga kek gitu kali"
Andre gak mau ambil pusing dan pergi menuju kamarnya. Sedangkan Seven menemani Anna tidur di kamarnya.