First Time

First Time
Tamu tak diundang



"Yahu....... adek kesayangannya kak Andra mana?" teriak Andre dari luar apartemen.


Ceklek


"Lah kok pintunya kebuka?" tanya Andre heran.


"Udah aku masukin password nya." jawab Tuti enteng.


"Kapan?"


"Mau masuk atau enggak nih?"


"Tin, An, kalian dimana?" tanya Tuti namun tak ada yang menyahit.


"Wuih, langsung rapi aja nih apartemennya. Mending kita gak usah kesini kali kalo memang udah rapi kayak gini." celetuk Andre.


"Ish, sama adek sendiri kok gitu?" Tuti menyikuti perut Andre.


"Mending kita cek ke kamar aja deh." Seven memberi saran.


"Ya ampun ini anak pengen gue jewer. Kebo banget sih." Ujar Tuti.


"Jangan dibangunin. Mereka pasti kecapean kayaknya mereka larut malam deh tidurnya buat beres-beres." sergah Seven.


"Mending kita nungguin mama and papa couple kita. Tuh kan mereka udah nyampe." ujar Andre.


"Hmmm ia deh. Sekalian aku mau nyiapin sarapan."


"Istri idaman kamu yang" goda Andre.


"Yang yang. Itu jidat mu aja kamu sayang."


"Ish, galak banget sih, apalagi kalau udah jadi bini kamunya."


"Bodo amat!!!!! Mending cari yang lain diluar deh."


"Gak mau, susah nyarinya."


"Ya ampun baru pagi-pagi aja udah berantem gimana kalo udah nikah kalian hah?" sergah Enjeli.


"Dia duluan mam." ucap Tuti membela dirinya.


"Haish, adek kamu mana?" tanya Darman.


"Lagi tidur pah. Kayaknya mereka kecapean deh. Soalnya pas kita masuk udah pada rapi." Tuti menjelaskan apa yang ia lihat.


"Iya deh. Jangan berisik ya. Soalnya pengantin baru lagi bobok" canda Andre. Namun bukannya tertawa, Andre dihadiahi jitakan dikepalanya yang diberikan oleh Naomi.


"Kamu canda mulu kerjaannya. Dari pada ribet jeng, Tuti bantuin saya nyiapin sarapan deh. Susah kalo ngomong apalagi gabung sama para lelaki tukang gosip ini." Ucap Naomi sambil beranjak dari sofa menuju ke dapur.


"Hoammm!!!!" Anna bangun dari tidurnya dan merasakan ada sesuatu yang berat diperutnya.


"Astoge!!! Nih orang ya meluk-meluk gak izin dulu."


"Tin, bangun!!! Udah pagi nih. Ayok bangun!!!" Anna mencoba membnagunkan Martin sambil menarik tangan suaminya itu.


"Lima menit lagi deh"


"Gak ada!! Ini udah mau jam setengah sembilan. Ayok bangun!!!"


Dengan terpaksa Martin bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi buat bersihin wajahnya. Sementara Anna merapikan tempat tidur.


"An, lima menit lagi ya." Martin memasangkan wajah memelasnya untuk meminta Anna mengizinkannya untuk kembali tidur.


"Alah kamunya yang enak. Lah aku masak dulu. Gak ada!!"


"Hmmmmm"


Kemudian mereka berbarengan keluar dari kamar. Sekarang posisi Martin sedang memeluk Anna dari belakang. Awalnya Anna risih dengan posisi seperti ini tapi Martin mencegahnya dan Anna membiarkannya saja.


Mereka beranjak menuju ke dapur. Kedua papa dan kedua kakak menyernyitkan dahi karena melihat tingkah sepasang pengantin baru ini. Sedangkan yang menjadi objek pengamatan tak menyadari kedatangan mereka. Mereka terus menuju ke dapur.


"Udah bangun?" tanya Naomi.


"Yaialah kalo udah kek gini mah udah bangun." ucap Anna tak menyadari kedatangan double mama dan kakaknya itu.


"Mama!!! Kapan masuk? Siapa yang bukain pintu???" tanya Anna terkejit. Sedangkan Martin sudah terlelap karena merasakan kenyamanan tidur sambil mendekap Anna.


"Habis ngapain semalem sampai-sampai gak sadar kalo ada orang masuk."


"Capek beres-beres ma."


"Bilang aja kalo ngelakuin itu." goda Tuti.


"Enak aja!!"


Sementara yang lainnya memasak, Anna lebih memilih membuatkan kopi dan teh untuk semua orang. Ia sedikit terganggu dengan posisi Martin saat ini, tapi apa boleh buat Martin susah dibangunin kalo udah kek gini.


"Ma, tehnya aku taroh sini atau didepan aja?" tanya Anna kepada kedua mamanya.


"Bawa depan aja deh. Sekalian urus itu si bege kamu." goda Enjeli.


"Ntar, ngamnilnya didepan aja ya ma, kak."


Mereka menjawab dengan anggukan kepala. Sedangkan Anna membawakan minuman dengan sedikit kesusahan.


Anna meletakkan minumannya sambil duduk. Dan akhirnya, Martin tidur dipangkuan Anna.


"Haish....!!! Gak usah pamer kemesraan deh dek."


"Apaan sih?"


"Kita semua masuk tadi pas kalian udah tidur. Apartemennya dibuka sama Tuti." jelas Seven membaca pikiran Anna.


"Oh"